Megahnya Putra Jaya dan Terowongan Smart si Penangkal Banjir

Setelah berbagi cerita tentang mall, transportasi dan beberapa tempat wisata di Malaysia, kini saya ingin berbagi cerita tentang Putra Jaya, Terowongan Smart, dan cerita printilan selama berlibur di sana. Kompleks Pemerintahan Putra Jaya Yang Tertata Rapi.

Tulisan sebelumnya menceritakan, kami berjalan kaki menuju Hotel setelah mencoba free bas. Jarak tempuh dengan berjalan kaki memakan waktu sekitar 20 menit. Kok lama? Tentu saja lama, karena saya dan dua orang teman mampir dulu di kedai serbaneka. Setibanya di Hotel, ternyata rombongan sudah menunggu kedatangan kami, maaf ya hehe. Oke, kami segera naik ke mobil jemputan dan langsung menuju Putra Jaya. Informasi yang saya peroleh dari Mr. Soldier, Putra Jaya merupakan kompleks pemerintahan. Jadi semua instansi pemerintahan dipusatkan di sana. Dan menurut dia bangunannya tertata rapi. Prinsip saya itu harus melihat langsung baru bisa dibuktikan kebenarannya.

Sepanjang perjalanan, Mr. Soldier bercerita soal Putra Jaya. Kompleks administrasi dan pemerintahan ini baru didirikan pada tahun 1995. Nama Putra Jaya diambil dari nama perdana menteri Malaysia pertama, Tungku Abdul Rahman Putra. Menurut Mr. Soldier, pembangunan Putra Jaya ini sebelumnya juga ditentang oleh para pembangkang (mungkin semacam oposisi ya?) karena dianggap pemborosan anggaran. Namun, akhirnya mereka menerima setelah kompleks ini berdiri, kata Mr. Soldier. Putra Jaya ini memiliki luas sekitar 4931 hektar. Sejarahnya, pemerintah Malaysia membeli lahan ini dari Kerajaan Selangor. Bangunannya memang megah dan modern. Semua tertata rapi. Sepertinya Pemerintah Malaysia juga ingin memasukkan Putra Jaya mejadi destinasi wisata, tidak hanya domestik tapi juga di kawasan Asia Tenggara.

PUTRA JAYA

Di kompleks ini, juga terdapat 7 jembatan, namun saya hanya melalui Jembatan Seri Wawasan sebelum menuju Putra Jaya. Dari Jembatan Seri Wawasan ini saya bisa melihat Mesjid Terapung. Pemandangan yang bagus untuk didokumentasikan. Di Putra Jaya ini ternyata juga terdapat toko suvenir, tapi harganya sama saja dengan di Pasar Malam Petaling Jaya. Intinya adalah pintar menawar harga barang. Dan jangan tunjukkan kamu sangat berminat dengan barang itu, karena sudah pasti penjualnya tidak akan menurunkan harga. Cuaca di Putra Jaya ini, kalau kata Mr. Soldier, panasnya keterlaluan alias sangat-sangat panas. Kalau tidak mau repot membawa payung, ya cukup oleskan tabir surya saja sesering mungkin 🙂

JEMBATAN SERI BEGAWAN

Terowongan Smart Si Anti Banjir

Untuk menuju Putra Jaya, kami harus melalui sebuah terowongan. Ini bukan sembarang terowongan. Namanya terowongan Smart (Storm Management and Road Tunnel). Sewaktu kami tiba pertama kali di KL, Mr. Soldier punya janji untuk menceritakan tentang Terowongan Smart. Dan dia menepati janjinya. Terowongan Smart ini, kata Mr. Soldier, tidak hanya berfungsi untuk lalu lalang kendaraan, tapi juga berfungsi sebagai lalu lalang air saat hujan. Ketika hujan mulai turun, terowongan smart pun tertutup untuk lalu lalang kendaraan. Jadi, ketika hujan lebat, air akan masuk ke terowongan smart dan kemudian mengalir ke 3 sungai, yakni Sungai Klang, Gombak dan Ampang. Menurutnya penanganan banjir melalui terowongan Smart ini cukup efektif. Setidaknya banjir besar seperti tahun 1971 dan 2003 tidak terjadi lagi. Hmm, di Jakarta, mungkin seperti Banjir Kanal Timur ya. Untuk panjang terowongan smart ini sekitar 10 kilometer, dan baru beroperasi secara resmi pertengahan 2007 lalu.

Beberapa Hal Unik Di KL Kali ini, saya berbagi cerita printilannya ya. Ada beberapa hal yang saya tidak / jarang temui disini, yakni pengemis dan pengamen. Mungkin hanya ada satu dua yang saya temui. Saya juga tidak menemukan sampah dan polisi lalu lintas. Sama seperti waktu melancong ke Singapura. Kalo menurut, Mr. Soldier, tidak adanya polisi lalu lintas karena masyarakatnya termasuk patuh hukum, karena hukumannya berat di sini. Hanya CCTV yang dipasang untuk mengawasi lalu lintas. Dan hal unik lainnya adalah soal taksinya (sempat dibahas sekilas di tulisan sebelumnya), nama pengemudi taksinya tertera di pintu depan. Dan jenis taksinya pun ‘oldschool’, kecuali teksi eksekutifnya. Bocoran dari teman saya yang pernah tinggal di KL, kalau naik taksi harus dipastikan si sopir menghidupkan mesin argonya, kalau gak ya bisa kecele.

Harga Makanan dan Minuman Sekadar bocoran saja, harga makanan yang dijual di sini tidak jauh berbeda dengan di Jakarta. Sekitar RM 6 – RM 10. Percaya atau tidak saya membeli Tom Yam dengan harga RM 6 sekitar Rp. 18 ribu-an. Rasanya cukup memuaskan. Kalau ingin ke Mc Donald, kamu tidak akan menjumpai nasi, karena memang tidak disediakan di sini. Untuk harga minuman di rumah makan sekitar RM1 – RM2. Oke, cukup sekian cerita cuti-cuti ke Malaysia. Selama berada di Kuala Lumpur, saya bisa menyimpulkan, Malaysia memang tengah gencar promosi wisatanya lewat program Visit Malaysia. Dan tidak setengah hati, terbukti mereka sudah siap dengan sarana transportasi yang memadai untuk rakyat mereka sendiri dan para turis, serta sudah menyiapkan informasi yang dibutuhkan para pelancong. Indonesia juga harus bisa lebih, karena destinasi wisata lebih banyak. Salah satu yang perlu diperbaiki ya sarana transportasinya. Foto-fotonya akan diupload belakangan. Next, tujuannya kemana ya? Kepulauan Derawan sepertinya keren ya. Bon Voyage!
http://berrybenka.go2cloud.org/SHDI

Clucth hitam elegan
(AngkotHijau)

Advertisements

Ramadhan di Negeri Jiran Part 2

 Senin, 29 Mei 2017, merupakan hari terakhir kami melakukan perjalanan Ramadhan di Negeri Jiran . Untuk menu sahur masih seperti hari sebelumnya , Nasi Kandar . Jujur ya, Nasi Kandar ini enak kali ya, rasanya otentik . 

 Di hari terakhir ini, Saya dan suami memutuskan untuk tetap berkeliling Kuala Lumpur dengan menaiki bus Hop on Hop Off, mumpung masih ada sisa waktu sampai pukul 11.00 siang waktu setempat. Cuaca KL masih sama, panas. 

Rute perjalanan kali ini, Saya ingin mampir di Dataran Merdeka dan Menara Kembar saja. Di Dataran Merdeka, kami mengabadikan momen di setiap sudutnya. Di sini tempat diturunkannya bendera Union Jack dan bendera federasi Malaysia dikibarkan pada tengah malam tanggal 31 Agustus 1957. Dataran Merdeka pun dijadikan tempat dilaksanakan Parade Hari Merdeka (sumber Wikipedia). 

Puas mengabadikan setiap penjuru Dataran Merdeka, kami segera menuju tempat berhentinya bus Hop on Hop Off. Target destinasi berikutnya adalah Menara Kembar. Trip ke KL ini merupakan kesekian kalinya, tapi jujur Saya belum pernah naik ke atas Menara Kembar, that’s why I’m so excited to go there. Sampai rela menyisihkan ringgit demi bisa naik ke Menara Kembar. 
Kami turun di depan KLCC. Lalu kami berjalan menuju ke Menara Kembar. Dari luar tampak sepi, perasaan tidak enak. Saya pun mendekati penjaga dan bertanya. Ternyata oh ternyata, Menara Kembar tutup di Hari Senin. Kecewa pemirsa. 

Belum rejeki ya, lain kali lah kita mampir 

Begitu ucapanku pada si ndut ya. Saling menghibur hati saja sih intinya. 

“Ya udahlah yuk kita belanja coklat aja, banyak ringgit nih buat beli coklat,” Saya meracuni suami dengan keinginan belanja coklat hahaha. 

Katanya kan coklat bisa menjadi obat kecewa ya, benar gak sih, buktinya kalau patah hati pasti banyak yang mencari coklat, hihihi. 

Kami pun memborong berbagai macam coklat di sebuah kios coklat di dalam Mall KLCC. Puas belanja coklat, kami pun ke stasiun LRT menuju KL Sentral. Kami harus segera kembali karena penerbangan ke Jakarta berangkat sore. Oiya, sempat juga sih berfoto di air mancur KLCC, cari udara segar hehehe. 

Niatnya sih langsung balik ke Hotel, ambil koper terus naik Klia express lagi ke bandara KLIA1. Namun godaan belanja muncul lagi. Kami pun membeli beberapa potong kaus dan sebuah tas sebelum pulang. Obat kecewa karena tidak kesampaian ke Menara Kembar. 

Lepas belanja, kami balik ke Hotel, memasukkan belanjaan ke koper dan siap menuju ke bandara. 

Untuk transportasi menuju ke bandara sih lebih memilih KLIA Express, lebih cepat dan nyaman. Tarif memang sedikit mahal tapi setidaknya bisa memangkas waktu perjalanan. 

Di KLIA1, kami menuju loket maskapai KLM lalu mengikuti prosedur di bagian Imigrasi yang lebih sedikit antriannya ketimbang di KLIA2. Lebih nyaman. Bisa jadi pertimbangan untuk pemilihan maskapai jika ingin keliling Malaysia lagi. 

Lepas urusan Imigrasi kami musti naik transportasi aerotrain ke ruang tunggu maskapai KLM. Letaknya masih di dalam KLIA1. Seriously, It’s dope broh. Semoga nanti ada moda transportasi yang sama di Bandara Soekarno-Hatta. 

Sampai jumpa lagi, KL. Jakarta, aku kembali 😊. 

Ramadhan di Negeri Jiran,  Part 1 

Tahun ini Saya memenuhi bucket list yaitu berpuasa di negara lain. Destinasinya di negara dengan mayoritas muslim saja dulu, Negeri Jiran Malaysia. Belajar istilahnya, selanjutnya di negara yang mungkin mempunyai empat musim dan bukan mayoritas muslim penduduknya. 

Persiapannya bisa dibilang mendadak. Memang tiket pergi sudah dibeli, namun tiket pulang dan hotel baru dibeli 2 hari jelang keberangkatan. Alhasil beli valasnya pun di detik-detik terakhir. Karena tujuannya untuk mencicipi Ramadhan di Negeri orang jadi Jalan-jalan nya pun bukan yang ekstrem dan memakan energi banyak. Saya dan suami hanya melakukan tur dalam kota, mencari takjilan di bazar ramadhan dan sholat taraweh di Masjid setempat. 

Hari pertama,  kami hanya berbuka puasa di Mall NU Sentral karena kami tiba di hotel mepet dengan beduq maghrib. Saya sempatkan bertemu dengan seorang teman lama yang memang kerja di Malaysia. Tadinya, kami janjian untuk berburu takjilan di bazar ramadhan tapi karena alasan di atas tadi membuatnya ditunda esok hari. 

Hotel tempat saya menginap berada di Little India nya Kuala lumpur, yakni Brickfields. Di sekeliling hotel lebih banyak bertebaran rumah makan khas India. Kalau ingin menu lain bisa bersantap di Nu sentral. Pilihan kami malam itu gak jauh dari makanan Indonesia, Ayam penyet. Maklum, setelah seharian dalam perjalanan gak afdol rasanya kalau gak kena nasi putih plus lauk khas Indonesia. 
Untuk taraweh, malam pertama kami datang dilakukan di hotel,  karena ternyata tidak mudah menemukan masjid. Masjid ada di tempat tertentu. Kalau menurut teman Saya, beda kalau sudah masuk pinggiran Kuala lumpur. Jadi niat taraweh di Masjid Jamek ditunda. Sebenarnya Saya sempat mendengar azan subuh dari hotel tapi samar bunyinya. Entah berada di sebelah mana hotel. Mungkin jauh, karena Saya sempat melihat laki-laki pakai sarung dan kopiah berjalan beriringan di waktu lepas taraweh. 

Hari kedua berpuasa di Kuala Lumpur


Menu Sahur Nasi Kandar

Saya sempat bertanya pada front liner Hotel, apakah mereka menyediakan sahur atau tidak. Jawabannya tidak, karena hotel tidak memiliki restoran. Kalau ingin sahur bisa di ABC Bistro yang jaraknya dekat dengan hotel. Makanan yang disajikan khas India Penang, Nasi Kandar. Awalnya agak agak ragu, karena bumbu masakannya kurang cocok di lidah Saya. Begitu mencoba, enak juga, walaupun memang kuat sekali bumbunya. Alhamdulillah seporsi Nasi Kandar dengan lauk ayam dan sayur khas India, sedikit kuah kari dan kerupuk ala mereka bisa menambah energi untuk melakukan tur selama di Kuala Lumpur. Berkah banget. Pengen rasanya balik lagi dan bilang sama kokinya, Terima kasih atas makanannya,  berkah sekali. Kemarin lupa bilang, karena Buru-buru balik ke Hotel. 

 Tur Dimulai


Sekitar jam 10 kami memulai tur dalam kota. Kami membeli tiket bus Hop on Hop Off, alasannya supaya efisien saja tidak repot ganti stasiun. Cukup membayar RM 45 per orang, supir bus siap mengantarkan para pelancong ke 23 destinasi populer di Kuala Lumpur. Sebenarnya ada beberapa destinasi yang sudah Saya kunjungi, tapi tidak apa-apa diulangi kembali. Untuk detail bisa lihat di foto yang Saya upload.

Saya memulai perjalanan dari KL Sentral. Tunggu saja di pemberhentian bus Hop on Hop Off di lobi kedatangan. Bayar tiketnya di dalam bus. Kalau ingin kena hembusan angin, naik bus yang terbuka atapnya. Tiket berlaku 24 jam dan 48 jam tergantung ingin beli yang mana. Jam operasi bus hanya sampai jam 6 petang. Perhitungan 24 jamnya,  kalau di tiket kamu dibolongi jam 12 (seperti tiket saya) berarti kamu bisa naik bus ini kembali sampai jam 12 siang esok. Tentunya dalam sehari tetap hanya sampai jam 6 petang ya. Destinasi di hari pertama Saya hanya turun di Istana Negara Malaysia, Aquaria KlCC dan Central Market. Lainnya hanya menikmati pemandangan saja dan memotretnya dari dalam bus. Bus tidak akan menunggu kamu kecuali di destinasi tertentu. Jadi untuk pastinya tanyakan kembali pada supir. Kalau kamu turun di suatu destinasi jangan khawatir, kamu bisa naik bus berikutnya. Bus datang tiap 20 menit. Dan paling penting, jangan sampai kehilangan tiket, karena ada pemeriksaan oleh petugas di setiap pemberhentian bus. 
Aquaria KLCC 

Kami menyempatkan masuk ke Aquaria KLCC. Tiket dibandrol RM 69 per orang. Sayangnya ketika kami datang, pertunjukan hanya kasih makan hewan laut yang ada di sana saja. Mau menunggu jam berikutnya takut kelamaan. 

Lepas melihat ikan-ikan di Aquaria, kami menunggu bus berikutnya. Sekalian menikmati taman KlCC, mumpung angin lagi berhembus sepoi-sepoi kan. 

Belanja Milo Cube di Central Market 

Salah satu tujuan Saya ke Kuala Lumpur ya mau membeli Milo Cube. Lha kan bisa beli online. Bisa sih, tapi kalau bisa beli offline sekalian jalan-jalan kenapa enggak hehehe. Setelah mutar-mutar,  nanya sana sini,  eh ada penjual yang langsung menawarkan Milo Cube ke Saya. Mungkin dia bisa baca hati Saya, kok tahu Saya lagi nyari Milo Cube hahahaha. Ok,  Milo Cube sudah ditangan,  cokelat, kopi juga sudah dibeli, waktunya kita kembali ke tempat pemberhentian bus. Karena waktu udah mepet banget dengan jadwal ketemuan dengan teman Saya. 

Berburu Takjilan di Bazar Ramadhan 


Buka puasa kali ini kami putuskan di area Bazar Ramadhan di Kampong Baru. Kami naik LRT turun di Gombak. Lalu keluar dan belok kanan ke arah rusun. Jalan terus saja di pinggiran rusun tak jauh dari sana sudah bisa ditemukan Bazar Ramadhan. Banyak pilihan, Saya memilih es keladi (iced Taro) sebagai pelepasan dahaga. Untuk makanan, kami bersantap di Ayam Wong Solo. Kalau mau pilihan lain bisa ke Medan Selera atau Food Court di sana. 


Bazar Ramadhan ini dekat dengan Masjid Kampong Baru, jadi setelah selesai makan, kami melanjutkan sholat taraweh di sana. Alhamdulillah, masjidnya bersih, toiletnya bersih, tempat wudhunya bersih, shafnya rapih, hawa sejuk karena ada AC dan kipas angin juga, di sini tidak ada anak kecil yang teriak dan berlari ke sana kemari. Bagi jamaah yang tidak kuat sholat berdiri, disediakan kursi. 

Ok,  sekian dulu cerita Ramadhan di Negeri Jiran. Nanti disambung ke bagian ke dua. 

Mengejar Negeri Di Atas Awan

Kelar sarapan,  kami langsung menuju Imogiri. Transportasinya ya dengan mobil sewaaan. Tujuan pertama itu ke Kebun Buah Mangunan di daerah Dlingo. Pertama lihat fotonya di medsos,  langsung takjub. Wow, seperti negeri di atas awan. Pengeeeenn. 
Sayangnya,  kami gak dapat spot awan yang menutupi daratan kayak di medsos-medsos itu,  maklum kelar sarapan kesiangan. Sampe di TKP jam 9, hiks.  Walaupun liburan di hari kerja tetap lho rame terutama oleh peserta tur.  Mau foto-foto tetap antri ya bok hehehe.  Satu jam menikmati sajian pemandangan di Kebun Buah Mangunan cukuplah,  kami lalu melipir ke Hutan Pinus Imogiri.  

Tempatnya gak kalah oke. Udaranya sejuuuuuk banget,  pemandangannya apalagi,   instagramable banget!  Duduk di bangku yang tersedia di Puncak Becicinya  sambil menikmati angin sepoi-sepoi, makin enak banget kalau ada kopi hangat 😆. 

Tempat wisata ini cocok banget buat yang udah penat dengan runititas kerja sehari-hari, yang udah lelah bermacet  ria. Begitu melihat pemandangan nan hijau,  awan putih,  belum lagi sapuan angin sepoi-sepoinya.  Dijamin langsung fresh. 

Di sekitar Imogiri ini banyak banget tempat wisata,  kalau punya banyak waktu,  mampir aja. Bisa ke Tebing Watu, Bukit Bego Imogiri dan lainnya (silahkan googling sendiri ya). Untuk harga masuk ke Hutan Pinus Imogiri seingat Saya sih hanya bayar parkir. 

Setelah asyik menyusuri Hutan Pinus Imogiri,  kami melanjutkan perjalanan ke Tebing Breksi  di daerah Sleman. Cuacanya berbanding terbalik,  di sini hawanya lebih panas. Tebing Breksi ini dulunya bekas area pertambangan. Begitu disulap jadi tempat wisata, keren banget. Diresmikannya tahun 2015 lalu.  Coba kamu naik ke atas Tebingnya deh, berasa dekat banget dengan langit dan awan. Sekitar area ini ada food court.  Untuk harga tidak tahu, karena gak makan di sana.  Di Tebing Breksi ini banyak juga yang melakukan foto pre wedding. 

Kami gak lama-lama di sini karena musti nyari mesjid buat si Ndut sholat Jumat. Selesai  ibadah,  kami lanjut makan siang dan jalan-jalan. Kami juga sempat mampir ke Pabrik Bakpia 25,  melihat proses pembuatan Bakpia dan tentu saja belanja Bakpia juga. 

Lepas dari Pabrik Bakpia,  pengennya pergi ke pantai tapi yang gak jauh banget karena terbatas waktu sewa mobil juga. Akhirnya dipilih Pantai Depok Parangtritis. Di Pantai ini bisa beli ikan hasil tangkapan nelayan,  langsung dibakar sama mereka juga. 

Selesai jalan-jalan di pantai,  kami menuju Klinik Kopi yang tersohor itu dan tempat ngopinya di film AADC. Namun kami urung ngopi karena antriannya panjang dan sekali lagi mepet dengan  waktu sewa mobil.  Lain waktu deh mampir buat ngopi dan menjelajahi tempat wisata baru di Jogja. 

Sampai Jumpa Lain Waktu Jogja! 

Kabur Ke Jogja Kelar Nyoblos 

Situasi panas pilkada DKI gak ngaruh banyak ke Saya, bagi Saya yang penting udah nyoblos sesuai pilihan hati. Kelar nyoblos, keesokannya langsung kabur ke bandara untuk menikmati udara liburan. Tujuannya gak perlu jauh, Jogja aja, udah istimewa banget. Ada yang bilang emang belum pernah ke sana?  Saya balik nanya,  kenapa gitu pertanyaannya? Emang ada yang salah? Saya sering ke Jogja dan kalau balik lagi gak apa-apa toh. 
Tiket pesawat pun boleh dapat diskon voucher dari quiz di medsos. Keberuntungan kesekian saat liburan. Liburan ke Jogja walau mepet dan singkat tetap direncanakan sematang-matangnya. Kami cuma menginap 3 hari dua malam di sini.  Sekalian jajal hotel barunya grup AccorHotels,  Grand Mercure.  Reviewnya lihat di TripAdvisor aja ya. 
Itinerary globalnya,  hari pertama kami cuma kuliner seputar hotel saja. Kami ke sini naik taksi sewaan,  harganya mehong  ya,  hasil nego dapatnya harga goban.  Padahal,  trans Jogja lewat depan hotel hihihi.  Ok deh,  next  naik trans Jogja aja kalau nginap di Grand Mercure Jogja lagi. Hasil kuliner seputar hotel, ada yang jual gudeg di seberang  hotel, angkringan yang jaraknya sekitar 500 meter –  1 km dari hotel,  lotek di sebelah mall  lippo Jogja. Puas dan kenyang. Untuk harga,  lotek dan makanan angkringan murah meriah.  

Edisi Wisata Alam Bandung : Farm House, Tebing Keraton dan Bukit Moko

Yuhuuu, kalau sebelumnya kami backpacker ke dua negara tetangga, sekarang giliran kota tetangga saja dikunjungi (hampir sering dikunjungi sih sebenarnya). Kali ini kami ngebolang ke Bandung. Seperti biasa wisata alam bukan wisata belanja.

Lokasi yang kami pilih kali ini adalah Farm House Lembang, Tebing Keraton dan Bukit Moko. Karena semua lokasi ada di kabupaten jadi kami memilih Mercure Setiabudi Bandung sebagai tempat penginapan. Alasan tepatnya sih karena ada promo bagi member Accor 😁.

Ketiga tempat itu kami tempuh seharian (istilahnya capek ya capek seharian gak berhari-hari 😆). Rute pertama Farm house Lembang karena jaraknya gak begitu jauh dari Hotel kami. Walaupun gak jauh tetap saja nyampenya lama, ya maklum aja perginya pas liburan.

Saking penuhnya kami gak bisa parkir di dalam jadi ya parkir di lahan yang khusus disewakan untuk pengunjung Farm House. Untuk bisa memasuki Farm House kami membayar Rp 20.000 per orang, Tiket nya bisa ditukarkan dengan segelas susu. Waktu datang, agak bingung musti kemana dulu secara dimana-mana sudah banyak orang padahal baru jam 10 lho. Hmm, mereka kira-kira datang jam berapa sih🤔.

image

Daripada kelamaan bingung, kami memutuskan bermain dan kasih makan kelinci dan domba saja dulu. Baru setelah itu keliling ke rumah Eropa, rumah Hobbit, Sumur harapan dan makan es krim gulung. Kami gak ke area lock love karena terlalu padat.

Keliling di Farm House gak lama, gak sampe sejam juga kayaknya. Kami pun lanjut ke Tebing Keraton, tadinya mau ke pengunungan Teh dekat area Tangkuban Perahu, tapi karena mobil gak bisa belok ke kanan jadi kami turun lagi menuju Dago Pakar. Arah ke atas juga macet banget.

Akhirnya terwujud juga ke Tebing Keraton. Sebenarnya keinginan ke sini sudah dari tahun lalu tapi belum terwujud. Untuk menuju ke sini, mobil tidak bisa sampai atas karena jalan yang sempit. Mobil hanya bisa parkir di dekat pangkalan ojek. Untuk menuju ke atas ada 2 pilihan, naik ojek atau jalan kaki sekitar 2 km.

Sebenarnya jalan kaki lebih sehat sih tapi medannya terlalu curam dan terjal. Kami memutuskan sewa ojek pulang pergi. Tarif sewanya Rp 100.000. Tadinya kami pakai motor matic tapi di tengah jalan kami menukar dengan motor kopling. Motor matic gak kuat nanjak, tengah tanjakan serasa mau merosot, Saya terpaksa turun menahan pantat motor. Untung mamang ojek ikut ke atas, jadi bisa langsung tukar motor kopling.

image

image

image

Setiba di atas kami membayar tiket masuk Rp 11.000 per orang sudah termasuk Asuransi. Pemandangan dari Tebing Keraton ini luar biasa indah, bisa lihat gunung papandayan, dan tahura. Sayangnya kalau mau foto ya agak susah karena latar belakangnya manusia semua Hehehe. Di sini ada aturan tidak boleh naik ke atas pagar ataupun bersandar, lebih baik ditaati karena gak rugi juga toh jadi manusia yang tertib. Be a classy traveler, guys. Puas menikmati pemandangan dan wefie kami pun kembali ke bawah.

Di parkiran sempat nanya kalau ke Bukit Moko bisa gak dari sini, eh mamang parkirnya bilang bisa. Yaudah kami ikuti aja. Jalannya sempit, hanya muat 1 mobil, berbatu, curam pula. Harus ekstra hati-hati. Biasanya kan pengunjung lewat Padasuka, nah daripada kejauhan, kami mencoba jalur yang jarang ditempuh ini.

Tiba di Bukit Moko, kami langsung takjub. Tinggi banget, padahal masih di area restoran. Dari sini aja udah bisa lihat Bandung. Perjalanan yang susah tadi terbayarkan. Worth it

Kami sempat salah masuk, tadinya masuk dari pintu masuk restoran, karena gak tau ya masuk aja terus tiba-tiba dipanggil harus bayar voucher masuk dulu Rp 25.000. Mahal aja. Gak taunya maksud si mamang tuh kita harus makan di sana dan bayar Rp 25.000 dah dapat paket makanan. Jadi bukan voucher kayak di farm house. Sok tunggu sakeudap mang, nyak. Kami mau foto dulu, makan pasti, ini perut juga udah berontak kok. Makan di area sini enak juga pemandangannya bagus. Cuma karena awan hitam mulai bergerak ke arah Bukit Moko, maka kami pun segera naik ke atas.

Ke atas puncak harus melalui hutan Pinus, sebenarnya bagus untuk foto di sana dan menikmati Bandung dari atas Bukit, cuma belum sampai atas hujan mulai turun. Alhasil, kami urung masuk. Ya sudah lah, di bawah saja juga sudah bagus banget pemandangannya. Nanti lah kalau bisa sih sampai malam di sana jadi bisa memandangi Bandung dari ketinggian di Malam hari. Untuk naik ke puncak harus bayar ya, sekitar Rp 15.000 per orang, lupa.

Yang kurang dari sini mungkin transportasi umum ya. Ke sini ya harus naik mobil atau motor pribadi. Angkot kayaknya gak sampai ke atas. Kalau di negara tetangga kan bus umumnya sampai ke gerbang wisata serupa dan tinggal lanjut naik semacam kereta gitu lah untuk mencapai puncak. Kalau pemandangan mah Bukit Moko jauh lebih keren. Semoga ke depan semakin berbenah dalam infrastruktur.

image

Angkot hijau
Posted from WordPress for Android

Kehilangan Kucing Kesayangan Itu Rasanya…

Kehilangan kucing kesayangan itu rasanya.. Entahlah, susah diungkapkan lewat kata-kata, lebih enak dibawa nangis 😭.

image

Kemarin kami baru kehilangan Saulah, kucing kesayangan yang kami rawat dari waktu dia masih bocah, mata belekan, badan cungkring. Kenapa kami sayang banget sama Saulah karena dia lucu, nurut walau pas udah kenal kucing betina jadi sering keluyuran, bisa mijat (beneran sambil ngorok dan meremin mata) dan sering banget pasang muka melas biar bisa makan terus (makanya gembul). Terus dia suka banget nonton TV, beneran kalau ada yang menurut dia aneh langsung dia pegang layar TV. Kangen 😢.

image

http://http://berrybenka.go2cloud.org/SHDE

Makanya pas terima telpon sekitar pukul 7 malam yang mengabarkan bahwa Saulah dilindas mobil, kaget, apalagi dia ngeong kencang banget. Malamnya langsung dibawa ke Rumah Sakit Hewan (RSH) Ragunan, sebelumnya sempat nelpon dokter hewan dekat rumah tapi disarankan langsung aja ke RSH Ragunan. Di sana sempat dipasangin oksigen, infus dan disuntik juga. Bahkan di taroh di inkubator karena suhu badannya turun, mungkin karena sakit yang luar biasa. Tadinya cuma berpikir patah kaki saja, tapi ternyata sakitnya parah apalagi setelah dilakukan rontgen, organ dalamnya kena juga. Itu yang menyebabkan Saulah gak tertolong nyawanya.

Besoknya langsung ke RSH untuk lihat jenasah Saulah yang sudah dimasukkan ke peti es. Benar saja, gw dan nyokap langsung nangis kejer. Gak tega lihatnya, apalagi posisi Saulah kayak dia lagi tidur seperti biasa, meluk tangannya dan didekatkan ke mukanya. Imut banget, gak nyangka kalau dia udah gak ada.

Habis dari kamar peti es, kami ditawarkan apa mau melihat kucing untuk diadopsi. Petugasnya bilang ada anak kucing mirip banget sama Saulah. Pas masuk ruangan adopsi memang mirip banget anak kucingnya sama Saulah. Hanya saja masih kecil banget dan biayanya lumayan ya bisa sejutaan dan harus urus ke manajemen dulu. Kami urungkan niat, nanti sajalah.

image

Neo

Lagi urus administrasi di kasir eh ada kucing gembul muncul tiba-tiba. Dielus-elus nurut saja malah minta digendong. Petugasnya tahu kami masih berduka nawarin untuk merawat kucing gembul tersebut. Gratis asal dirawat saja (itu pasti). Sempat ragu, cuma kok ini kucing nempel terus. Katanya sih udah dikebiri jadi gak bakal ngejar-ngejar kucing betina lagi dan kucingnya lebih kalem gak bakal keluyuran. Luluh juga akhirnya lihat si gembul ini (kami kasih nama Neo). Akhirnya beli rumahnya di toko dekat kasir. Sekarang dia jadi anggota baru keluarga kami, semoga bisa mengobati rasa berduka atas Saulah.

Rincian biaya pengobatan Saulah di RSH

Registrasi : 27.500
Konsul emergency di atas jam 19.00 : 200.000
Infus + IV catch (quantity 1). : 150.000
Dexamethasone inj (box : 100 ampul) quantity 1 : 5000
IV catch 24 g quantity 1 : 11.000
Adona inj (box : 10) quantity 5 : 190.000
Infus Asering (1 dus : 20) quantity 1 : 21.000
Materai : 6500
Rawat inap kucing 1 malam : 85.000
Visit dokter 1 kali : 25.000
Biaya kubur biasa 440.000

Total : Rp 1.233.100

PS : Tulisan ini dibuat supaya bisa membantu cat lover  yang mungkin mengalami hal yang sama. Tadinya Saulah kalau masih bisa bertahan akan dioperasi hernia, perkiraan biaya operasi sekitar Rp 1,5 juta.

Terimakasih juga buat supir Blue Bird yang baik hati dan bersimpatik namanya Pak A. Syafii. Kayaknya ini pengalaman pertama beliau juga antarin penumpang yang lagi berduka ke RSH. Di saat lagi gak bisa berpikir panjang, beliau nawarin untuk menunggu supaya gak usah jalan jauh ke jalan raya nanti pas pulang (letak RSH memang jauh dari jalan raya sih).

Angkot hijau
Posted from WordPress for Android

Your 2015 year in blogging

https://angkothijau.wordpress.com/2015/annual-report/

Thank you readers, cheers!

Happy blogging, happy reading.
See you on the year 2016 😘😘😘.

Angkot hijau
Posted from WordPress for Android