Malam ini karena susah tidur, saya iseng bermain-main dengan mesin pencariannya om gugel. Tiba-tiba teringat dengan berita yang pernah saya tulis mengenai Peraturan Daerah Kota Bogor Tentang Kawasan Tanpa Rokok (Perda KTR) No 12/2009.

Dan ternyata om gugel masih menyimpannya. Dan sekarang jadi penasaran, bagaimana keberlangsungan Perda KTR itu? Apakah mandeg dan mandul seperti Peraturan Gubernur (Pergub) DKI no 88 tentang Kawasan Dilarang Merokok?

Awal sosialisasinya, sama banyak mengalami hambatan. Bahkan saat ikut meliput razia di terminal dan pusat perbelanjaan, banyak yang menolak diberlakukan Perda KTR ini. Tapi Pemkot Bogor tetap mensosialisasikannya. Keberadaan papan reklame iklan rokok pun dilarang. Entah sekarang, saya tidak mengikuti perkembangan beritanya. Semoga saja masih ditaati dan ada kesungguhan dari Pemkotnya untuk menindak para pelanggar.

Berikut tulisannya :

BOGOR–Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor terus menggalakkan upaya penegakkan Peraturan Daerah (Perda) No 12/2009 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Salah satunya adalah pelarangan merokok di tempat umum seperti di angkot.

Pemkot Bogor akan memberikan denda Rp 1 juta atau kurungan penjara tiga hari bagi sopir angkot yang kepergok merokok di dalam angkot. Tak hanya itu, pemilik angkot juga dilarang menempel iklan produk rokok. Bila dilakukan, maka sanksinya berupa denda maksimal Rp 5 Juta.

“Demi memberikan efek jera bagi mereka yang merokok di kawasan umum, akan dikenakan bagi siapa pun yang melanggar Perda No 12/2009,”  kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor ,Triwanda Elan, Jumat (9/4).

Triwanda mengatakan, sanksi akan diberikan kepada warga Bogor yang merokok di KTR, terutama sopir angkot karena banyak menuai protes para penumpang yang tidak tahan dengan asap rokok di dalam angkot.
“Sopir angkutan yang kedapatan merokok sembarangan di dalam angkot, baik saat sedang mengemudi ataupun sedang berhenti akan dikenakan sanksi sesuai dengan Perda tersebut,” kata dia.

Tidak hanya sopir, penumpang yang merokok di dalam angkot pun akan dikenakan sanksi apabila melanggar perda No 12/2009.  Operasi ke lapangan pun dilakukan untuk mengawasai berjalannya peraturan daerah tentang KTR.

Salah seorang sopir jurusan Sukasari-Bubulak, Yudi mengatakan, dia merokok untuk menghilangkan rasa kantuk saat mengemudikan angkot. “Kalau tidak ngerokok, ngantuk,” kata dia

Red: Endro Yuwanto
Rep: Wiana Paragoan

republika.co.id 9 April 2010

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements