Archive for May, 2012

Lontara Rindu : Ketika Rindu Tak Mutlak Untuk Kekasih

Judul Buku : Lontara Rindu
Penulis : S. Gengge Mappangewa
Penerbit. : Republika, 2012
Tebal. : 342 halaman

Selama ini, ketika kita berbicara atau merasakan rindu, secara alami perasaan itu ditujukan pada seorang kekasih. Namun, saat membaca bab demi bab novel Lontara Rindu karya S. Gengge Mappangewa ini, kita akan sadar, rindu bukanlah perasaan yang mutlak diperuntukkan kepada kekasih.

Novel peraih penghargaan terbaik pertama โ€œLomba Novel Republika 2011โ€ณ ini mengisahkan kerinduan mendalam seorang anak yang terpisah dengan ayah, dan saudara kembarnya. Suatu kisah yang mengharukan, dengan mengambil setting lokasi di Sulawesi Selatan, daerah asal sang penulis.

Penulis menceritakan seorang anak bernama Vito terpaksa berpisah dengan ayah, dan saudara kembarnya, lantaran perbedaan agama antara ayah dan ibunya. Vito mempunyai saudara kembar bernama Vino. Setelah orang tuanya bercerai, Vito tinggal bersama ibunya. Sementara Vino dengan ayahnya.

Tak hanya keharuan yang disuguhkan di novel ini. Sang penulis yang bernama asli Sabir ST dan juga berkecimpung di dunia pendidikan ini, mampu menghadirkan sebuah cerita yang menyelipkan kelucuan dan kenakalan ala bocah yang masih berseragam biru tua. Kenakalan di sini seperti diam-diam membongkar laci meja guru mereka, Ibu Maulindah, dan membaca buku hariannya. (Hal 19-20)

Kelucuan dan kenakalan lainnya juga hadir di bab berikutnya, di novel ini penulisnya lebih suka memakai istilah lontara. Tapi ada juga kenakalan yang tidak patut ditiru, yakni saat Vito berbohong pada gurunya bahwa kakeknya meninggal. Dan hal itu yang dijadikannya alasan untuk tidak masuk sekolah. (Hal 24)

Namun dibalik kenakalannya itu, sebenarnya ia merindukan kasih sayang seorang ayah. Seorang ayah yang bisa membelanya meskipun ia melakukan kesalahan. Seperti yang dilakukan oleh kakeknya selama ini. Kerinduan yang yang terus menggebu, bahkan lidahnya pun tak sanggup melontarkan pertanyaan tentang siapa ayahnya kepada ibunya. Pertanyaan itu hanya mampir di tenggorokannya.

Kerinduan yang memerihkan batinnya itu harus dilawannya. Dan lucunya, pos ronda merupakan tempat yang dirasanya pantas untuk sembunyi dari rasa rindu dan sunyi. Namun, suatu hari, Vito memutuskan untuk mengakhiri rasa rindu ini dengan melakukan pencarian sosok ayahnya. Bahkan ia berniat untuk menjual biji jambu mete hasil kebun keluarganya sebagai bekalnya dalam pencarian.

Alur cerita di novel ini maju mundur. Saat sedang menikmati kelucuan dan rasa penasaran Vito mengenai sosok ayahnya, anda akan dibawa si penulis ke masa dimana ayah dan ibunya bertemu pertama kali. Di Lontara 4 pertemuan itu dikisahkan, suatu hari pada tahun 1996 di Pangkajene. Saat itu Ilham, nama ayah Vito, sedang kehabisan angkot. Mahasiswa Universitas Hasanudin itu bertemu Halimah, Ibu Vito, seorang gadis pemalu.

Pertemuan selanjutnya dihadirkan di lontara 9. Ilham kembali bertemu dengan Halimah. Di sinilah bunga-bunga cinta antara keduanya mulai tumbuh. Ilham bahkan meminta Halimah untuk menunggunya hingga ia menamatkan kuliahnya. Dan yang paling menyentuh, ia berani meminta Halimah untuk menyiapkan janur kuning saat ia datang kembali menemui Halimah.

Di lontara 9 ini juga dikisahkan, penolakan ayah Halimah terhadap sosok Ilham. Alasannya karena Ilham tak pernah sekalipun tampak batang hidungnya di masjid. Semenjak itulah keantipatian kakek Vito terhadap ayahnya dimulai. Dia pun menjodohkan Ibunya dengan pria lain bernama Azis yang tak lain sepupu Ibunya.

Perjodohan itu membuat Halimah kecewa bahkan ia nekat lari di malam sebelum hari pernikahannya dengan Azis. Tujuannya satu, bertemu dengan Ilham. Namun, saat impiannya bertemu Ilham terwujud, Halimah justru dikecewakan, lantaran Ilham menganut kepercayaan yang berbeda dengannya. Ilham merupakan penganut Tolotang, yang akhirnya masuk Islam saat silariang (kawin lari) dengan Halimah. (Lontara 18 dan 19).

Halimah baru berani menceritakan siapa ayah Vito saat Vito memasuki usia 13 tahun. Cerita yang disampaikan kepada Vito tidak hanya manisnya saja. Meski demikian, Vito tidak sedikitpun menyimpan benci dan dendam. Bahkan rasa rindunya kepada ayahnya semakin besar. Meskipun, ia tahu mamanya membenci ayahnya lantaran dikhianati dan ditelantarkan. (Lontara 24)

Dan kerinduan yang semakin membuncah ini yang akhirnya mendorong Vito menemui ayahnya tepat di hari raya penganut Tolotang, yang hanya diadakan di Perrinyameng. Namun sayangnya, keinginannya itu terpaksa harus kandas. Ia hanya bertemu dengan Jihang atau kakeknya.

Alur cerita yang maju mundur benar-benar membuat penasaran, apakah impian Vito untuk bertemu dengan Ayah dan Vino jadi kenyataan. Dan semuanya terkuak di Lontara 33.

Novel Lontara Rindu ini mengajarkan kita tentang rindu. Bagaimana rindu bisa memberikan keberanian pada seorang anak yang baru berusia 13 tahun untuk melakukan pencarian ayah kandung dan saudara kembarnya. Namun, satu hal, alur maju mundur yang digunakan si penulis agak membingungkan. Karena di saat sedang menikmati keceriaan Vito, tiba-tiba disela oleh kisah pertemuan orangtua Vito di masa lalu. Dan cerita-cerita tentang keseharian Vito dirasakan terlalu lama. Sementara kisah pencarian sosok ayahnya hanya dihadirkan di lontara terakhir.

Tapi seutuhnya, novel ini memberikan makna positif bagi kehidupan.

(Angkot Hijau)

Posted with WordPress for BlackBerry.

Pulang Kantor, Langsung Ke SIngapura (2)

Ini, sambungan dari tulisan sebelumnya.

Bugis Street.. 3 for ten lah

16 Oktober 2011

Hari terakhir di negara singa nih. Rencananya sih kami bakal dibawa keliling ke Bugis Street, dan Orchard Road. Kali ini kami naik angkutan umum ke tempat tujuan. Yeiy.. angkutan umumnya Singapura sangat nyaman. Bus tingkatnya pun masih terlihat bagus. Sementara di Jakarta sudah punah. Terakhir naik bus tingkat di Jakarta itu sekitar kuliah semester awal, tahun 2000.

Angkutan umum yang kami jajal selama di Singapura itu, bus tingkat, Monorail, Kereta dan taksi. Semuanya nyaman, tidak seperti di Jakarta. Semua calon penumpang berbaris rapi saat mengantri. Kalau ada yang coba menerobos pasti dimaki-maki hihihi..

Kembali ke bus tingkat, kami naik yang nomor 12, berhenti di Bugis Street. Bugis Street ini, sekilas mirip gang senggol di kawasan Blok M atau Pasar Jatinegara. Di sinilah surga belanja oleh-oleh dengan harga sangat miring. Harga yang populer itu adalah 3 for ten. Artinya bayar 10 dollar Singapura untuk 3 item. Sebenarnya ada yang lebih murah lagi. 4 for ten bahkan 8 for ten (biasanya sih untuk gantungan kunci). Lumayan menghemat, dengan harga miring, bisa dapat oleh-oleh yang unyu. Konon, katanya barang-barang ini asalnya dari Indonesia juga.

Setelah puas berbelanja, kami pun menuju Orchard Road. Di sini juga kawasan berbelanja, tapi dengan harga yang sepadan tentunya. Ada yang lucu nih, saat makan siang di kawasan Orchard. Food court yang saya datangi luar biasa penuhnya. Saya sampai susah mencari tempat duduk, dan ketika makan pun terpaksa terpisah dengan rombongan.

nunggu mrt

Kebetulan saya satu meja dengan beberapa perempuan yang pakaiannya sangat heboh menurut saya. Mereka ada yang berasal dari Filipina dan Thailand. Kami sempat ngobrol, ya sekadar basa basi sih. Dan saya baru tahu, kalau mereka itu profesinya sebagai pembantu rumah tangga. Dan kata mereka, semua yang ada di sini, mayoritas pembantu rumah tangga. Karena setiap hari Minggu merupakan hari libur bagi pembantu rumah tangga di sana. Dan mereka rupanya sangat kompak, menghabiskan hari libur dengan nongkrong di mall ๐Ÿ™‚

Nah, segitu aja sih, pengalaman kabur ke Singapura setelah jam kerja. Menyenangkan. Sayang, pengalaman ini ditulis agak telat, baru sempat ๐Ÿ™‚

Rencananya sih, jelang akhir tahun 2012, bakal mengulang cerita yang sama. Pulang Kantor, Langsung ke…. (kemana ya? Malaysia mungkin). Bon Voyage.

*Karena saya kesulitan upload foto ke WordPress, fotonya dapat dilihat di angkothijau.tumblr.com *

(Angkot Hijau)

Pulang Kantor, Langsung Ke Singapura

Ciee, gaya banget ya, pulang kantor langsung kabur ke Singapura. Tertarik bikin tulisan dengan judul ini, lantaran sering baca artikel di kompas.com dengan judul Pulang Kantor, Langsung Ke… Dan kebetulan, tulisan saya ini merupakan kisah nyata. Rangkuman saat kabur ke Singapura setelah letih bekerja. Uhuy ya alasannya ๐Ÿ˜€

Jumat sore, 14 Oktober 2011, rombongan kami yang berjumlah 20 orang-an itu segera meluncur ke Bandara Soekarno Hatta. Banyak pengalaman lucu di Soetta. Saya dan 2 rekan hampir ditinggal pesawat. Penyebabnya antrian yang panjang saat mengurus keimigrasian. Saya dan 2 rekan pun dengan terengah-engah memasuki pesawat. Dan ketika masuk pun dipelototin penumpang satu pesawat. Maafkan kami ya.

Sepanjang perjalanan menuju Singapura, ada saja ulah teman-teman sekantor yang membuat suasana jadi hidup. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya malu juga, karena bikin gaduh di pesawat hehehe.. Untungnya sih bikin gaduh berjamaah, jadi malunya gak terasa ๐Ÿ˜€

Waktu tempuh Jakarta ke Singapura sekitar 2 jam lebih. Sesampai di hotel, kami tidak sempat istirahat. Kami menginap di Hotel Paramount. Masuk ke kamar hotel, hanya untuk menaruh koper. Ganti baju pun tidak sempat. Karena kami sudah ditunggu jemputan. Padahal rencananya, begitu sampai hotel saya ingin nge-charge baterai Bebe sebentar. Tapi urung lantaran saya juga lupa membawa colokan T.

Yasudah, buru-burulah saya dan yang lainnya ke lobi hotel. Si guide berencana membawa kami ke Mustofa Swalayan yang berada di Little India. Kalau ada yang mau memborong cokelat, nah di sanalah surganya. Sebenarnya tidak hanya cokelat yang dijual di sana. Tapi ada juga aksesoris, perkakas rumah tangga, alat-alat elektronik. Dan di sana saya juga menemukan colokan T. Akhirnya si Bebe bisa hidup lagi ๐Ÿ™‚

Tapi sebelum kalap belanja cokelat, kami makan malam dulu dong. Maklum, perut belum diisi sejak berangkat dari Jakarta ๐Ÿ˜€

Di Little India ini sebenarnya banyak pilihan restorannya. Menunya tidak melulu berbau India sih, walaupun restoran yang saya pilih restoran yang menyajikan makanan India. Eh, tapi jujur saja nih, saya tertipu dengan nama rsetorannya. Madura. Saya pikir ini restoran Indonesia yang menyajikan makanan Madura, ternyata bukan. Madura adalah restoran yang menyajikan makanan India.

Teman saya sih sudah mengingatkan kalau di sini porsinya besar, bisa dimakan dengan 3 orang. Dalam hati saya cuma bilang, masa sampai segitunya sih?.

Karena gak percaya, saya tetap pesan untuk diri saya sendiri. Apalagi si pelayan keukeuh bilang ‘This portion is suitable for you’. Nah, karena sudah diyakinkan begitu, ya dengan mantap, saya pesan untuk diri sendiri. Pilihan saya, Nasi Goreng India (saya lupa namanya euy dan fotonya juga sudah dihapus). Minumnya cukup air mineral.

Saat pesanan saya datang, saya takjub, cuma bisa melongo liat porsi yang super jumbo ๐Ÿ˜€ waaah ini sih gak bakal habis. Dan lucunya, nasi gorengnya harus disiram dengan bumbu cair yang tajam aromanya. Tau gak sih, harga satu porsi nasi goreng itu 10 dollar Singapura. Kalau dirupiahkan, Rp 70.000. Wuiih, mahalnya. Minum air mineral botolan 2 dollar Singapura. Kalau hidup di sini, harus punya gajinya yang tinggi, karena biaya hidup mahal.

Kelar makan dan belanja di Mustofa, kami langsung menuju Hotel. Merebahkan diri, karena kegiatan esok pagi lebih padat.

little india

Merlion dan Universal Studio

15 Oktober 2011.
Kelar sarapan di hotel, kami langsung menuju ke Merlion. Tujuannya sih cuma buat bernarsis ria di patung singa yang mengeluarkan air itu dan latar belakang marina bay sands hotel. Sengatan matahari sama sekali tidak menyurutkan kenarsisan kami. Sumpah lho, Singapura itu panas banget udaranya. Seperti sedang berada di Pelabuhan Tanjung Priok. Untungnya sunblock saya merknya terpercaya (numpang promosi).

merlion

universal studio

Puas melampiaskan kenarsisan, kami pun menuju Universal Studio. Di sana bisa mencoba semua wahana yang memacu adrenalin. Gak usah disebutin satu-satu lah ya. Pokoknya menyenangkan. Nah, di sini makanannya juga mahal harganya. Untuk satu paket ayam penyet saja kudu bayar 10 dollar Singapura. Paketnya pun hanya terdiri dari ayam, nasi putih, puding dan jus jeruk. Beruntung bagi rekan yang sempat membungkus sarapan dari Hotel. Lumayan menghemat pengeluaran ๐Ÿ˜€

Panasnya Singapura saat itu, benar-benar membuat kulit perih dan pandangan jadi berkunang-kunang. Belum lagi saya mencoba minum air langsung dari keran yang mudah ditemui di Universal Studio ini. Dan rasanya aneh di tenggorokan saya.

Capek bermain di Universal Studio, kami pun menuju Sentosa Island untuk menonton pertunjukan Song of the sea. Sebuah pertunjukan teater musikal, tapi lokasinya di tepi pantai. Dan dilengkapi sounds efek dan cahaya yang luar biasa kerennya. Saya kasih banyak jempol deh.

Setelah menikmati teater musikal kami pun menuju kawasan Geylang untuk menyantap makan malam. Menunya nasi ayam. Sebenarnya saya tidak suka dengan menu ini, tapi ya hanya ini yang ada. Sudahlah, makan saja daripada perut kosong.

Oya, ada sedikit cerita tentang kawasan Geylang. Sebelum sampai ke tempat makan malam, kami sempat dibawa keliling kawasan Geylang oleh si supir. Geylang merupakan area lampu merah (prostitusi) di Singapura. Ada yang legal dan ilegal. Yang ilegal adalah pelacur yang berjejer di pinggir jalan menanti para hidung belang. Pelacur ini dari berbagai etnis, tempat mangkal mereka pun dibagi dalam lorong. Yang legal ya di rumah-rumah. Jika ada lentera merah di rumah itu, biasanya ada wanita malam di sana. *bersambung*

Foto ada di angkothijau.tumblr.com
(Angkot Hijau)