Lama nian tidak menulis tentang kuliner ya. Maklum, rutinitas kantor yang membosankan itu cukup menyita waktu dan pikiran saya. Tapi, Minggu sore ini saya menyempatkan mampir ke sebuah tempat makan. Hmm, sebenarnya sudah sering mampir juga sih ke sini untuk menyicipi menu yang disediakan.

Tempat makannya tidak begitu istimewa, terletak di Halte walk Pusat Grosir Cililitan, Jakarta Timur. Nama kedainya Mie Djogja Pak Trisno. Suasananya pun terlalu ramai, karena matamu bakal disuguhi pemandangan orang lalu lalang. Namun, buat yang suka atau sedang ingin makan makanan khas Jogja bolehlah mampir ke sini.

Sore ini, saya memesan Mie Ghodog Jogja Tanpa Kecap, nama menunya panjang benar ya, hehee. Tidak sampai 10 menit, pesanan pun datang. Satu porsi besar Mie Ghodog siap disantap. Mie ghodog ini ukurannya besar tidak seperti lazimnya mie yang dijual, bentuknya hampir menyerupai spaghetty. Dan, mienya juga buatan si pemilik kedai lho, tanpa bahan pengawet. Mie ini digodog dengan suwiran ayam kampung, kol, telur bebek dan acar. Kuahnya berwarna kuning, terasa kaldunya dan ada remah telurnya. Rasanya pas di lidah, dan tekstur mienya juga lembut. Sayangnya, porsi mie ghodog yang jumbo itu tidak dapat saya habiskan, karena ukuran usus yang tidak besar. Lagi-lagi menyalahkan ukuran usus, hehee.

Oya, bagi yang tidak suka pedas, lebih baik pesan Mie Ghodog Kecap. Karena, Mie Ghodog Jogja Tanpa Kecap ini ada ranjaunya, yakni si imut cabe rawit hijau. Sekali gigit bisa bikin telinga dan lidah seperti terbakar. Beneran. Seporsi Mie Ghodog ini dihargai Rp. 15.000,-. Porsi jumbo namun harga bersahabat.

Selain mie ghodog, kedai ini juga menyajikan mie nyemek, magelangan, dan bakso bakar raket. Bakso bakar raketnya juga yummy. Bentuk baksonya gepeng, dan di atasnya seperti diukir kotak-kotak serupa raket. Bumbunya meresap ke dalam bakso. Harganya dibanderol sama dengan Mie Ghodog Jogja. Minuman yang dijual sih tidak ada yang khas, tidak jauh beda dengan yang ditawarkan tempat makan lainnya.

Yang kurang dari kedai ini ya bangkunya, padahal pembelinya cukup banyak tuh. Mungkin, suatu saat nanti, si pemilik tertarik memperluas kedainya 🙂

(Angkot Hijau)

Advertisements