Tring tring, tiba-tiba ada BBM masuk bertepatan dengan hawa malas yang terus menyandera saya Senin siang, 16 Juli 2012. Rupanya BBM dari seorang kawan. Isi pesannya “Jeung, jualin mukena Bali gw dong. Gw yang supply barang, loe tinggal jual aja, mayan buat nambah uang lebaran,” Bla bla bla, masih banyak promosi lainnya dari sang kawan terkait Mukena Bali ini. Tanpa pikir panjang, saya pun langsung menyetujuinya, lumayan sebagai tambahan untuk membeli ringgit ke Kuala Lumpur nanti. “Oke, kirim aja gambarnya ke gw ya, kalo perlu via email juga,”. Mendadak saja jiwa dagang Padang saya keluar.

Mendengar namanya saja, saya jadi penasaran, mukena ini didatangkan langsung dari Bali? Atau kainnya saja yang terbuat dari Kain Bali? Sekitar bulan Juni ada juga teman yang menawarkan barang yang sama, hanya saja mungkin saya tidak begitu ‘ngeh’ lantaran tenggelam dengan pekerjaan yang setumpuk.

Saat masih membayangkan wujud si mukena Bali ini, terdengar kembali bunyi tring tring. Ternyata BBM dari kawan saya, dalam waktu hitungan menit, puluhan gambar mukena Balinya pun saya terima. Modelnya lucu-lucu, dengan warna yang ceria. Seperti ada keyakinan bisa menjualnya, saya pun langsung menyebar gambarnya via BBM ke beberapa teman, termasuk kepada pemilik stand yang pernah mengadakan bazar di kantor beberapa bulan lalu. Pucuk dicinta ulam tiba, gayung pun bersambut. Semua teman tertarik dengan mukena Bali ini. Bahkan mereka bersedia menjualnya ke kerabat mereka. Wah, purnajual yang sempurna.

Sebelum menjualnya tentu saya meminjam si mukena ini terlebih dulu. Untuk melihat wujud aslinya, merasakan bahannya, dan ternyata memang adem. Mukena Bali ini terbuat dari bahan katun, kain Bali. Harganya pun sepadan, tidak mahal. Targetnya sih tidak usah muluk-muluk, setidaknya laku terjual 2 kodi saja dulu. Yah, sambil menyelam minum air, ada penghasilan tambahan di luar gaji bulanan 🙂

Dan, baru hitungan 4 hari alhamdulillah sudah laku 10 buah. Dan diluar itu ada yang minta Mukena Bali itu masuk ke standnya saat bazar nanti. Saya langsung jawab “Siap”. Selama penghasilan ini halal, kenapa tidak? Wah, biasanya saya yang selalu mengunjungi bazar, kali ini malah ikut berpartipasi dalam bazar, walau hanya sekedar nebeng tempat 🙂

Saya berani melakukannya, karena merujuk pada ucapannya Ippho ‘the right brain’ Santosa, yang penting yakin dulu dengan apa yang dikerjakan. Tidak usah banyak perhitungan. Terlalu banyak perhitungan malah tidak maju nanti.

Oya, sebagai informasi tambahan, suatu hari saya iseng menjelajahi sebuah pusat grosir di kawasan Jakarta Timur, dan menemukan toko yang menjual mukena bali ini. Saat ditanya harga mukena bali tersebut, si penjual langsung menyebutkan angka Rp. 200 ribu. Dalam hati saya langsung teriak “Mahaaaalnyaa,”. Bahkan, saat saya mencoba menawarnya, si penjual hanya mau melepasnya Rp. 180 ribu, apabila saya membelinya dalam partai besar. Hmmm.. Berarti ini bisa menjadi trik saya kepada konsumen. Karena, ternyata harga yang saya berikan jauh lebih murah.

Harga murah, barang bagus selalu menjadi incaran calon pembeli. Ya, bulan suci Ramadhan memang membawa berkah tersendiri. Berkah mukena Bali.

(Angkot Hijau)

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements