Archive for September, 2012

Dragon House : Potret Kehidupan Bocah Jalanan Vietnam

Judul Buku : Dragon House
Penulis : John Shors
Penerbit. : Edelweiss, 2009
Tebal. : 424 halaman

John Shors. Siapa yang tidak kenal nama itu? Seorang penulis novel dengan penjualan terlaris ‘Taj Mahal’. Karya tulisnya yang lain adalah Dragon House, atau bila diartikan adalah rumah naga. Sebuah novel yang bertutur tentang kehidupan keras anak-anak jalanan di Vietnam.

Novel setebal 424 halaman dan enam belas bab ini menawan hati saya saat digelar pesta diskon di Toko Buku Gramedia, Matraman, Jakarta Timur bulan Mei 2012 lalu. Novel yang memajang wajah sendu dua bocah jalanan Vietnam cuma dibanderol Rp 20.000,-. Novel ini banyak bercerita tentang kehidupan pasca perang Vietnam. Kata-kata yang dipilih pun mampu membangkitkan rasa haru.

Alkisah dua orang berkewarganegaraan Amerika Serikat bernama Iris dan Noah yang mendirikan sekolah untuk anak-anak jalanan di Vietnam. Sekolah yang diberi nama The Iris Rhodes Center ini khusus diperuntukkan anak perempuan. Di sini mereka diajarkan pendidikan formal juga ketrampilan non formal. Sekolah ini juga menyediakan tempat tinggal untuk anak-anak jalanan tersebut. Murid pertamanya bernama Tam, seorang bocah perempuan berusia tujuh tahun . Tam merupakan cucu seorang pengemis. Ibunya tega meninggalkannya karena tidak tahan dengan kemiskinan yang terus membelenggu. Kisah pertemuan Iris dan Noah ini baru diceritakan di bab ke 2.

Selain Tam, juga ada bocah jalanan lainnya termasuk yang bernama Mai. Sebelum berada di sekolah yang didirikan Iris ini, Mai tidur di sebuah keranjang besar di bawah kolong jembatan bersama temannya yang berlengan buntung juga bisu bernama Minh. Mereka di bawah kuasa seorang preman bernama Loc.

Dalam novel ini memang tidak disebutkan berapa jumlah anak jalanan yang ditampung di sekolah ini. Namun yang sering muncul dalam cerita hanyalah Tam dan Qui neneknya, Mai, dan Minh. Hingga akhirnya Tam meninggal dunia karena kesehatan yang terus memburuk (Bab 14).

Kepergian Tam seolah-olah menjadi jalan bagi Iris dan Noah untuk kehilangan Mai dan Minh. Kedua anak itu diculik Loc saat sedang bermain jungkat-jungkit di halaman sekolah (Bab 15).

Meski akhirnya mereka kembali ke pangkuan Noah dan Iris melalui pencarian yang panjang. Dan ada kejutan, Minh ternyata tidak bisu. Ia telah menipu Mai, Iris dan Noah selama ini. Ia berlagak bisu karena takut dengan Loc (Bab 16).

Alur cerita novel ini memang menarik tetapi terlalu banyak pernak-perniknya untuk menuju konflik. Tidak hanya kisah anak jalanan yang dihadirkan, namun juga percintaan antara Iris dengan Sahn (polisi Vietnam) dan Noah dengan Thien (pekerja di Iris Rhodes Center). Percintaan beda budaya itu sungguh menunjukkan perbedaan itu indah. (Bab 16)

Novel ini merupakan catatan petualangan sang penulis John Shors ke Vietnam. Selama di Vietnam, Ia berkesempatan untuk bertemu dengan kehidupan anak-anak jalanan. Di sana Ia bertemu dengan anak-anak yang seharian berada di jalanan untuk menjual kipas, kartu pos, bunga atau yang menawarkan diri bermain Connect Four (semacam permainan catur). Novel ini mampu menghadirkan penderitaan anak-anak jalanan. Dan problematika ini belum mendapatkan perhatian yang cukup. Sedikit orang yang menaruh perhatian kepada anak-anak jalanan.

Untuk melengkapi penulisan novel ini, John bahkan tiga kali berkunjung ke Vietnam, yakni pada tahun 1993, 1999 dan 2007. Pengalaman-pengalaman itulah kemudian dituangkannya melalui sebuah novel berjudul Dragon House. Hasil penjualan buku ini kemudian disumbangkan pada organisasi yang memberikan pelayanan bagi anak-anak yang mengalami krisis di Vietnam. Organisasi ini bernama Blue Dragon Children’s Foundation. Semuanya serba Dragon. Sepengetahuan saya, masyarakat Vietnam memang sangat menyukai Dragon (naga). Bagi mereka naga merupakan makhluk terhormat yang menjaga mereka.

Nah, sekali lagi, saya tidak menyesal membeli novel ini dan novel ini ikut andil melengkapi koleksi bacaan di perpustakaan mini rumah saya.

(Angkot Hijau)

Posted with WordPress for BlackBerry.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Go Ask Alice : Rekaman Kisah Nyata Remaja Pecandu Narkoba

Judul Buku : Go Ask Alice
Penulis : Anonim
Penerbit. : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal. : 187 halaman

Buku setebal 187 halaman ini menarik minat saya saat ada pesta diskon buku di Toko Buku Gramedia, Matraman, Jakarta Timur beberapa bulan lalu. Tulisan di sampul depannya yang membuat saya membeli buku ini, ‘buku harian seorang remaja pecandu narkoba’. Sebuah buku yang ditulis berdasarkan buku harian remaja yang terjerat narkoba hingga akhir hayatnya. Buku ini sebenarnya bukan buku terbitan baru, terbukti hak ciptanya sudah ada sejak tahun 1971. Yang menarik dari buku ini adalah penulisnya bernama Anonim. Membuat saya menerka-nerka apakah sang penulis merupakan salah seorang keluarga remaja pecandu narkoba ini?

Buku ini tergolong mudah dicerna. Karena gaya penuturannya memang seperti layaknya seseorang yang tengah menulis buku hariannya. Namun sayang, si subyek, remaja pecandu narkoba ini tidak menyertakan tahun setiap kali ia menggoreskan tinta di buku hariannya ini. Hanya ada tanggal dan bulan untuk setiap curhatan. Tapi setidaknya dia menuliskan umurnya belum genap 15 tahun saat menulis di buku hariannya.

Halaman pertama buku ini diawali dengan curhatan pada tanggal 16 September. Curhatan labil ala remaja yang tengah jatuh cinta namun kemudian kecewa hanya karena sang pujaan hati membatalkan kencan mereka. Kehidupan monoton dari seorang remaja yang tidak populer di sekolahnya, bahkan Ia menganggap duduk di bangku SMA itu sebagai hal yang membosankan. Karakternya sangat bertolak belakang dengan kedua saudaranya yang lebih periang. Bahkan, Ia selalu tertekan dengan karakter Ibunya yang banyak mendominasi di rumah. Remaja ini juga tidak menyukai penampilannya sendiri. Ia menilai dirinya seorang remaja jelek, gendut, dan tidak pantas berpakaian apapun (hal. 3).

Ayahnya yang seorang akademis mendapatkan undangan untuk menjadi seorang Dekan Ilmu Politik di sebuah kampus (tidak disebutkan pasti lokasinya, namun setelah membaca buku ini sampai tamat, saya bisa menebak keseluruhan kejadian ini ada di Amerika Serikat). Keluarganya pun pindah tepat pada tanggal 4 Januari (hal 14). Tempat baru ini sama sekali tidak dapat mencerahkan hari-harinya. Ia tetap beranggap dirinya murid paling menderita di sekolah barunya. Bahkan dia menggambarkan sekolah sebagai tempat paling sepi dan dingin di dunia. Terdengar berlebihan memang.

Awalnya, alur cerita buku ini cenderung lambat dan membosankan. Hanya menceritakan ketidakmampuan si remaja pecandu narkoba ini dalam bersosialisasi. Hingga akhirnya dipertemukan juga dengan ihwal kisahnya berkenalan dengan narkoba. Tertulis jelas, dia berkenalan dengan narkoba pada tanggal 10 Juli, saat ada pesta di rumah temannya bernama Jill. Perkenalannya dengan narkoba sebenarnya tidak direncanakan. Saat tengah menikmati pesta, Ia dicekoki minuman bersoda yang telah diberi Lysergic Acid Diethylamide (LSD). (Hal. 27)

Namun, siapa sangka, LSD kemudian menjerumuskannya ke dalam lembah hitam. Tidak puas dengan LSD, dia kemudian mencoba marijuana, kokain dan heroin. Dia menjadi pecandu narkoba di usia 15 tahun 10 bulan. Remaja ini merasa berbeda saat memakai narkoba. Dia merasa lebih lepas, dan sempurna dibandingkan dirinya sebelum mengenal narkoba. Dia tidak hanya menjadi seorang pecandu, tapi juga sudah merangkap sebagai pengedar barang haram itu. Bahkan, dia tega menjualnya kepada murid sekolah dasar. (Hal.32)

Di buku harian ini pulalah, dia menceritakan petualangannya saat sakaw, minggat dari rumah, meninggalkan bangku sekolah, menjadi budak narkoba dan dipaksa menjadi seorang biseksual di bawah alam sadarnya. Dia pun menjalani kehidupan keras di San Fransisco. (Hal.68)

Dalam beberapa tulisan, diceritakan bahwa remaja ini sempat berusaha untuk kembali ke jalan yang benar. Namun, ternyata itu bukan hal yang mudah baginya keluar dari dunia gelap ini. Saat dia sudah ‘tobat’, teman sesama pemakai kembali menjerumuskannya ke dunia kelam itu. Mereka seolah-olah tidak ingin remaja ini menjadi orang suci. Mereka bahkan membuatnya menjadi seorang pesakitan di rumah sakit jiwa. (Hal.151)

Dukungan dari keluarga terus mengalir pada remaja ini demi melepaskannya dari jeratan barang haram itu. Buku hariannya seperti menjadi saksi bisu yang merekam kisah nyatanya bergelut dengan dunia hitam yang menakutkan.

Halaman terakhir buku ini menceritakan kematian remaja ini. Memang tidak diceritakan secara gamblang sebab kematiannya. Hanya ada kalimat ‘kematiannya adalah salah satu dari ribuan kematian akibat obat bius di tahun itu’. Bisa disimpulkan, remaja ini masih belum bisa lepas dari jeratan obat-obatan terlarang.

Buku yang mengambil gambar seorang remaja perempuan yang tengah duduk terpekur di lantai sambil memegang kepalanya sebagai sampul depannya ini mampu mengecoh saya. Kenapa saya bilang mengecoh? Karena, dari judulnya saya mengira nama subyeknya adalah Alice. Ternyata Alice adalah nama sesama teman pemakai si remaja ini. (Hal. 102). Dan setelah dibaca kembali dari awal, saya akhirnya mengetahui judul Go Ask Alice ini diambil dari sebuah lagu berjudul’White Rabbit’ karya Grace Slick.

Meski alur ceritanya lambat, namun kisah remaja pecandu ini sangat terperinci di buku ini. Buku ini memang tidak menawarkan solusi apapun. Namun, setidaknya bisa menjadi sebuah pedoman bagi pembacanya untuk menjauh dari jeratan narkoba, terutama para remaja yang masih labil jiwanya. Karena di buku ini, sang subyek berkenalan dengan narkoba secara tidak sengaja dan tak bisa lepas dari jeratnya. Tiga tahun dia terjerat barang haram tersebut yang kemudian merenggut nyawanya.

Secara keseluruhan, buku ini menarik, dan penuh makna. Buku yang diobral Rp. 10.000,- ini pun melengkapi koleksi buku di perpustakaan mini di lantai atas rumah saya.

(Angkot Hijau)

Menu Horor di Warung Mbah Jingkrak Bogor

Setiap kali berwisata kuliner, saya selalu mencari tempat yang unik interiornya, harga tetap pas di kantong, suasana nyaman, dan rasa makanannya tidak mengecewakan. Pilihan kali ini jatuh kepada Warung Mbah Jingkrak. Lokasinya di Jalan Kumbang no 15, Kota Bogor, tidak jauh dari kampus diploma Institut Pertanian Bogor. Dan tidak jauh dari tempat nongkrong saya dulu di Malabar.

Warung Mbah Jingkrak ini baru dibuka sekitar setahun yang lalu. Dan merupakan tempat favorit untuk acara gathering, arisan, rapat dan keluarga. Warung Mbah Jingkrak ini sangat unik. Logo warungnya gambar seorang mbah yang sedang jingkrak dengan jari telunjuk yang diputar ke arah atas. Di luarnya pun tergantung sebuah kuali. Entah apa maknanya, tapi unik juga. Saat masuk ke dalam warung (meski sebenarnya tempat ini lebih cocok dibilang restoran), anda akan disambut dengan jejeran makanan layaknya menu prasmanan. Makanan yang dijejer di depan pintu itu untuk memudahkan pengunjung memilih makanan yang akan mereka santap. Makanan tersebut nantinya akan disajikan pelayan ke meja anda.

Dari deretan makanan tersebut, hampir semua namanya berbau horor, seperti ayam rambut setan, ayam wewe, kerang iblis, sambal iblis, baso mata setan dll. Kenapa dinamakan seperti itu, kalau guyonan orang sih, karena saking pedesnya bikin seperti kesetanan. Bayangkan saja, bumbunya banyak didominasi cabe rawit. Seperti jargon warung ini, ‘Siapa bilang masakan Jowo manis ??’

Meski hampir semuanya pedas, ternyata juga ada makanan yang tidak pedas, seperti sate udang, cumi, tahu goreng, tempe goreng dan paru. Seperti pesanan saya untuk makan siang kali ini. Saya memesan 1 tusuk sate udang yang berisikan 4 udang goreng tepung dengan ukuran besar. Sate udangnya memang tidak pedas, tapiiii, aneh rasanya kalau tidak ada sambal sebagai pelengkapnya. Mulut gak akan mengeluarkan bunyi wah wuh (bunyi karena kepedasan hehee). Jadi, saya memesan semangkuk kecil sambal bawang dan sambal iblis.

Untuk sayurnya saya memesan Sayur Mangut (sayur dengan kuah santan yang tidak begitu kental, dan didalam sayurnya ada sepotong ikan pari yang sudah diasap dan setengah potong tahu goreng). Rasa ikan pari asapnya menyatu dengan kuah santannya, lezat. Dan tetap lho, ada 3 buah cabe rawit merah utuh dalam semangkuk kecil sayur mangut pesanan saya. Mantap! Benar-benar bakal kesetanan kalau nekad memakan cabe rawitnya.

Tidak hanya makanannya yang dinamakan horor, tapi juga minumannya, seperti es neraka, es kolor ijo, es demit dan es jenglot. Eh tapi jangan salah ya, namanya memang horor, tapi rasanya gak horor kok. Seperti es kolor ijo, yang didalamnya terdapat campuran cendol hijau, daging kelapa muda, tape ketan dan selasih. Untuk minuman, saya tidak memilih minuman horor tersebut, saya lebih memilih Es Surga, lucu ya namanya. Es surga merupakan es yang terdiri dari campuran daging kelapa muda dan sirsak serta sedikit perasan jeruk lemon. Rasanya segar, lumayan untuk meredam rasa pedas si cabe rawit.

Setelah memesan makanan, saya memilih tempat duduk yang dekat dengan sebuah radio antik. Tidak hanya ada radio antik, di belakang tempat duduk saya, juga ada dua buah lemari yang berisikan mainan jaman dulu seperti congklak, dan bola bekel. Lemari satunya berisikan gelas dan piring yang terbuat dari kaleng, dan rantang makanan yang terbuat dari kayu. Temboknya pun terbuat dari batu bata. Kursi dan meja makannya juga bergaya jaman dulu. Interior bernuansa Jawanya kental dengan pajangan wayang dan kain batik di tembok batanya. Keren buat bernarsis ria. Sebelum makanan disajikan, silahkan puaskan diri kalian untuk berfoto ria. Oya, ternyata di sini juga disewakan untuk foto pra-nikah.

Kelar sesi foto, makanan pun datang, tidak sampai 15 menit. Saatnya menyantap menu serba pedas ini dan siap-siap kesetanan. Menyantap menu dengan nama horor, diiringi alunan musik Jawa dan suasana rumah antik merupakan perpaduan yang unik.

Harga di Warung Mbah Jingkrak ini sangat terjangkau. Sate udang yang saya pesan cukup dibanderol Rp. 13.000,-. Sambal bawangnya dibanderol Rp.3.500,-. Sambal iblisnya sepertinya gratis karena tidak tertera di struknya. Semangkuk kecil Sayur Mangut dibanderol Rp. 15.000,-. Oya, Oseng daun pepaya di Warung Mbah Jingkrak juga enak, tidak pahit, harganya pun murah, sepiring hanya dibanderol Rp. 6000,-. Ayam Rambut Setannya pun hanya dihargai Rp. 12.500,- , semangkuk Kerang Iblisnya cukup bayar Rp. 16.000,-. Es Surganya dibanderol Rp. 12.500,-. Jus Strawberrynya dihargai Rp. 15.000,-

Warung Mbah Jingkrak juga melayani paket prasmanan, nama paketnya tetap berbau horor, yakni paket tuyul dan paket gerandong. Nah, bagi yang suka masakan pedas, dan ingin makan makanan Jawa yang tidak manis, silahkan datang ke sini dan cicipilah menu horor yang disediakan. Warung ini buka setiap hari dari pukul 08.00 – 21.00 WIB. Siap-siap kesetanan dan nge-jingkrak ya 🙂

*Foto-foto menyusul ya, karena error saat mau upload*

(Angkot Hijau)

Posted with WordPress for BlackBerry.