Judul Buku : Go Ask Alice
Penulis : Anonim
Penerbit. : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal. : 187 halaman

Buku setebal 187 halaman ini menarik minat saya saat ada pesta diskon buku di Toko Buku Gramedia, Matraman, Jakarta Timur beberapa bulan lalu. Tulisan di sampul depannya yang membuat saya membeli buku ini, ‘buku harian seorang remaja pecandu narkoba’. Sebuah buku yang ditulis berdasarkan buku harian remaja yang terjerat narkoba hingga akhir hayatnya. Buku ini sebenarnya bukan buku terbitan baru, terbukti hak ciptanya sudah ada sejak tahun 1971. Yang menarik dari buku ini adalah penulisnya bernama Anonim. Membuat saya menerka-nerka apakah sang penulis merupakan salah seorang keluarga remaja pecandu narkoba ini?

Buku ini tergolong mudah dicerna. Karena gaya penuturannya memang seperti layaknya seseorang yang tengah menulis buku hariannya. Namun sayang, si subyek, remaja pecandu narkoba ini tidak menyertakan tahun setiap kali ia menggoreskan tinta di buku hariannya ini. Hanya ada tanggal dan bulan untuk setiap curhatan. Tapi setidaknya dia menuliskan umurnya belum genap 15 tahun saat menulis di buku hariannya.

Halaman pertama buku ini diawali dengan curhatan pada tanggal 16 September. Curhatan labil ala remaja yang tengah jatuh cinta namun kemudian kecewa hanya karena sang pujaan hati membatalkan kencan mereka. Kehidupan monoton dari seorang remaja yang tidak populer di sekolahnya, bahkan Ia menganggap duduk di bangku SMA itu sebagai hal yang membosankan. Karakternya sangat bertolak belakang dengan kedua saudaranya yang lebih periang. Bahkan, Ia selalu tertekan dengan karakter Ibunya yang banyak mendominasi di rumah. Remaja ini juga tidak menyukai penampilannya sendiri. Ia menilai dirinya seorang remaja jelek, gendut, dan tidak pantas berpakaian apapun (hal. 3).

Ayahnya yang seorang akademis mendapatkan undangan untuk menjadi seorang Dekan Ilmu Politik di sebuah kampus (tidak disebutkan pasti lokasinya, namun setelah membaca buku ini sampai tamat, saya bisa menebak keseluruhan kejadian ini ada di Amerika Serikat). Keluarganya pun pindah tepat pada tanggal 4 Januari (hal 14). Tempat baru ini sama sekali tidak dapat mencerahkan hari-harinya. Ia tetap beranggap dirinya murid paling menderita di sekolah barunya. Bahkan dia menggambarkan sekolah sebagai tempat paling sepi dan dingin di dunia. Terdengar berlebihan memang.

Awalnya, alur cerita buku ini cenderung lambat dan membosankan. Hanya menceritakan ketidakmampuan si remaja pecandu narkoba ini dalam bersosialisasi. Hingga akhirnya dipertemukan juga dengan ihwal kisahnya berkenalan dengan narkoba. Tertulis jelas, dia berkenalan dengan narkoba pada tanggal 10 Juli, saat ada pesta di rumah temannya bernama Jill. Perkenalannya dengan narkoba sebenarnya tidak direncanakan. Saat tengah menikmati pesta, Ia dicekoki minuman bersoda yang telah diberi Lysergic Acid Diethylamide (LSD). (Hal. 27)

Namun, siapa sangka, LSD kemudian menjerumuskannya ke dalam lembah hitam. Tidak puas dengan LSD, dia kemudian mencoba marijuana, kokain dan heroin. Dia menjadi pecandu narkoba di usia 15 tahun 10 bulan. Remaja ini merasa berbeda saat memakai narkoba. Dia merasa lebih lepas, dan sempurna dibandingkan dirinya sebelum mengenal narkoba. Dia tidak hanya menjadi seorang pecandu, tapi juga sudah merangkap sebagai pengedar barang haram itu. Bahkan, dia tega menjualnya kepada murid sekolah dasar. (Hal.32)

Di buku harian ini pulalah, dia menceritakan petualangannya saat sakaw, minggat dari rumah, meninggalkan bangku sekolah, menjadi budak narkoba dan dipaksa menjadi seorang biseksual di bawah alam sadarnya. Dia pun menjalani kehidupan keras di San Fransisco. (Hal.68)

Dalam beberapa tulisan, diceritakan bahwa remaja ini sempat berusaha untuk kembali ke jalan yang benar. Namun, ternyata itu bukan hal yang mudah baginya keluar dari dunia gelap ini. Saat dia sudah ‘tobat’, teman sesama pemakai kembali menjerumuskannya ke dunia kelam itu. Mereka seolah-olah tidak ingin remaja ini menjadi orang suci. Mereka bahkan membuatnya menjadi seorang pesakitan di rumah sakit jiwa. (Hal.151)

Dukungan dari keluarga terus mengalir pada remaja ini demi melepaskannya dari jeratan barang haram itu. Buku hariannya seperti menjadi saksi bisu yang merekam kisah nyatanya bergelut dengan dunia hitam yang menakutkan.

Halaman terakhir buku ini menceritakan kematian remaja ini. Memang tidak diceritakan secara gamblang sebab kematiannya. Hanya ada kalimat ‘kematiannya adalah salah satu dari ribuan kematian akibat obat bius di tahun itu’. Bisa disimpulkan, remaja ini masih belum bisa lepas dari jeratan obat-obatan terlarang.

Buku yang mengambil gambar seorang remaja perempuan yang tengah duduk terpekur di lantai sambil memegang kepalanya sebagai sampul depannya ini mampu mengecoh saya. Kenapa saya bilang mengecoh? Karena, dari judulnya saya mengira nama subyeknya adalah Alice. Ternyata Alice adalah nama sesama teman pemakai si remaja ini. (Hal. 102). Dan setelah dibaca kembali dari awal, saya akhirnya mengetahui judul Go Ask Alice ini diambil dari sebuah lagu berjudul’White Rabbit’ karya Grace Slick.

Meski alur ceritanya lambat, namun kisah remaja pecandu ini sangat terperinci di buku ini. Buku ini memang tidak menawarkan solusi apapun. Namun, setidaknya bisa menjadi sebuah pedoman bagi pembacanya untuk menjauh dari jeratan narkoba, terutama para remaja yang masih labil jiwanya. Karena di buku ini, sang subyek berkenalan dengan narkoba secara tidak sengaja dan tak bisa lepas dari jeratnya. Tiga tahun dia terjerat barang haram tersebut yang kemudian merenggut nyawanya.

Secara keseluruhan, buku ini menarik, dan penuh makna. Buku yang diobral Rp. 10.000,- ini pun melengkapi koleksi buku di perpustakaan mini di lantai atas rumah saya.

(Angkot Hijau)

Advertisements