Archive for October, 2012

Megahnya Putra Jaya dan Terowongan Smart si Penangkal Banjir

Setelah berbagi cerita tentang mall, transportasi dan beberapa tempat wisata di Malaysia, kini saya ingin berbagi cerita tentang Putra Jaya, Terowongan Smart, dan cerita printilan selama berlibur di sana. Kompleks Pemerintahan Putra Jaya Yang Tertata Rapi.

Tulisan sebelumnya menceritakan, kami berjalan kaki menuju Hotel setelah mencoba free bas. Jarak tempuh dengan berjalan kaki memakan waktu sekitar 20 menit. Kok lama? Tentu saja lama, karena saya dan dua orang teman mampir dulu di kedai serbaneka. Setibanya di Hotel, ternyata rombongan sudah menunggu kedatangan kami, maaf ya hehe. Oke, kami segera naik ke mobil jemputan dan langsung menuju Putra Jaya. Informasi yang saya peroleh dari Mr. Soldier, Putra Jaya merupakan kompleks pemerintahan. Jadi semua instansi pemerintahan dipusatkan di sana. Dan menurut dia bangunannya tertata rapi. Prinsip saya itu harus melihat langsung baru bisa dibuktikan kebenarannya.

Sepanjang perjalanan, Mr. Soldier bercerita soal Putra Jaya. Kompleks administrasi dan pemerintahan ini baru didirikan pada tahun 1995. Nama Putra Jaya diambil dari nama perdana menteri Malaysia pertama, Tungku Abdul Rahman Putra. Menurut Mr. Soldier, pembangunan Putra Jaya ini sebelumnya juga ditentang oleh para pembangkang (mungkin semacam oposisi ya?) karena dianggap pemborosan anggaran. Namun, akhirnya mereka menerima setelah kompleks ini berdiri, kata Mr. Soldier. Putra Jaya ini memiliki luas sekitar 4931 hektar. Sejarahnya, pemerintah Malaysia membeli lahan ini dari Kerajaan Selangor. Bangunannya memang megah dan modern. Semua tertata rapi. Sepertinya Pemerintah Malaysia juga ingin memasukkan Putra Jaya mejadi destinasi wisata, tidak hanya domestik tapi juga di kawasan Asia Tenggara.

PUTRA JAYA

Di kompleks ini, juga terdapat 7 jembatan, namun saya hanya melalui Jembatan Seri Wawasan sebelum menuju Putra Jaya. Dari Jembatan Seri Wawasan ini saya bisa melihat Mesjid Terapung. Pemandangan yang bagus untuk didokumentasikan. Di Putra Jaya ini ternyata juga terdapat toko suvenir, tapi harganya sama saja dengan di Pasar Malam Petaling Jaya. Intinya adalah pintar menawar harga barang. Dan jangan tunjukkan kamu sangat berminat dengan barang itu, karena sudah pasti penjualnya tidak akan menurunkan harga. Cuaca di Putra Jaya ini, kalau kata Mr. Soldier, panasnya keterlaluan alias sangat-sangat panas. Kalau tidak mau repot membawa payung, ya cukup oleskan tabir surya saja sesering mungkin 🙂

JEMBATAN SERI BEGAWAN

Terowongan Smart Si Anti Banjir

Untuk menuju Putra Jaya, kami harus melalui sebuah terowongan. Ini bukan sembarang terowongan. Namanya terowongan Smart (Storm Management and Road Tunnel). Sewaktu kami tiba pertama kali di KL, Mr. Soldier punya janji untuk menceritakan tentang Terowongan Smart. Dan dia menepati janjinya. Terowongan Smart ini, kata Mr. Soldier, tidak hanya berfungsi untuk lalu lalang kendaraan, tapi juga berfungsi sebagai lalu lalang air saat hujan. Ketika hujan mulai turun, terowongan smart pun tertutup untuk lalu lalang kendaraan. Jadi, ketika hujan lebat, air akan masuk ke terowongan smart dan kemudian mengalir ke 3 sungai, yakni Sungai Klang, Gombak dan Ampang. Menurutnya penanganan banjir melalui terowongan Smart ini cukup efektif. Setidaknya banjir besar seperti tahun 1971 dan 2003 tidak terjadi lagi. Hmm, di Jakarta, mungkin seperti Banjir Kanal Timur ya. Untuk panjang terowongan smart ini sekitar 10 kilometer, dan baru beroperasi secara resmi pertengahan 2007 lalu.

Beberapa Hal Unik Di KL Kali ini, saya berbagi cerita printilannya ya. Ada beberapa hal yang saya tidak / jarang temui disini, yakni pengemis dan pengamen. Mungkin hanya ada satu dua yang saya temui. Saya juga tidak menemukan sampah dan polisi lalu lintas. Sama seperti waktu melancong ke Singapura. Kalo menurut, Mr. Soldier, tidak adanya polisi lalu lintas karena masyarakatnya termasuk patuh hukum, karena hukumannya berat di sini. Hanya CCTV yang dipasang untuk mengawasi lalu lintas. Dan hal unik lainnya adalah soal taksinya (sempat dibahas sekilas di tulisan sebelumnya), nama pengemudi taksinya tertera di pintu depan. Dan jenis taksinya pun ‘oldschool’, kecuali teksi eksekutifnya. Bocoran dari teman saya yang pernah tinggal di KL, kalau naik taksi harus dipastikan si sopir menghidupkan mesin argonya, kalau gak ya bisa kecele.

Harga Makanan dan Minuman Sekadar bocoran saja, harga makanan yang dijual di sini tidak jauh berbeda dengan di Jakarta. Sekitar RM 6 – RM 10. Percaya atau tidak saya membeli Tom Yam dengan harga RM 6 sekitar Rp. 18 ribu-an. Rasanya cukup memuaskan. Kalau ingin ke Mc Donald, kamu tidak akan menjumpai nasi, karena memang tidak disediakan di sini. Untuk harga minuman di rumah makan sekitar RM1 – RM2. Oke, cukup sekian cerita cuti-cuti ke Malaysia. Selama berada di Kuala Lumpur, saya bisa menyimpulkan, Malaysia memang tengah gencar promosi wisatanya lewat program Visit Malaysia. Dan tidak setengah hati, terbukti mereka sudah siap dengan sarana transportasi yang memadai untuk rakyat mereka sendiri dan para turis, serta sudah menyiapkan informasi yang dibutuhkan para pelancong. Indonesia juga harus bisa lebih, karena destinasi wisata lebih banyak. Salah satu yang perlu diperbaiki ya sarana transportasinya. Foto-fotonya akan diupload belakangan. Next, tujuannya kemana ya? Kepulauan Derawan sepertinya keren ya. Bon Voyage!
http://berrybenka.go2cloud.org/SHDI

Clucth hitam elegan
(AngkotHijau)

Advertisements

Menjajal Transportasi dan Mall di KL

Tulisan ini merupakan lanjutan tulisan sebelumnya. Bagi yang punya sentimen berlebihan terhadap Malaysia, saya rasa tidak usah melanjutkan membaca tulisan ini. Dan tulisan ini juga bukan berarti menyanjung negeri Jiran ini secara berlebihan. Saya hanya berbagi cerita liburan ke Kuala Lumpur. Hal yang bagus dari mereka layak kita pelajari, terutama dari segi tata kota dan transportasi. Untuk wisata alam dan makanan, saya masih lebih menyukai negeri sendiri.

depan hotel

Menjajal Transportasi dan Mall Lokal

Saya mau berbagi cerita soal pengalaman menjajal transportasi di Kuala Lumpur, walaupun tidak semua jenis transportasi yang saya coba naiki. Dan kebetulan saya mendapatkan kesempatan tersebut di hari terakhir berlibur ke negeri Jiran ini.

Sekitar pukul 7 kurang 5 menit waktu setempat, saya menerima ‘morning call’ yang mengingatkan tur akan segera dimulai. Dan semua peserta diharapkan turun ke lobi. Oya, di sini mataharinya telat muncul. Ketika saya membuka jendela kamar hotel pada pukul 6 pagi waktu setempat, situasi diluar masih gelap layaknya masih subuh.

Setelah semua peserta tur turun ke lobi, kami pun menuju restoran yang tidak jauh dari Hotel. Kali ini, kami sarapan di sebuah rumah makan sederhana ‘Safreen’. Entah ini rumah makan melayu atau bukan, karena semua pelayannya orang India. Menu yang disajikan juga beragam.

Setelah menghabiskan sarapan, kami diberikan kebebasan ingin pergi kemana (tidak terikat itennary hanya diwajibkan tiba di hotel pukul 13.00 waktu setempat). Saya dan beberapa rekan memutuskan untuk pergi ke pusat kota dan ingin menjajal mall di sini. Kami pun berjalan kaki menuju stasiun monorail. Kami ingin menuju Bukit Bintang. Dari peta yang ada di stasiun, menunjukkan kami berada di IMBI. Untuk menuju Bukit Bintang kami cukup mengeluarkan uang RM1,2. Entah karena unitnya terbatas, monorail ini tibanya juga lama. Hmm, seperti menunggu bus Transjakarta di depan kantor. Selama menunggu, ya foto-foto saja dulu, sambil berharap dalam hati, semoga pembangunan monorail di Jakarta segera terwujud, jadi saya tidak hanya melihat tiang pancang di sepanjang jalan Rasuna Said saja. Ayo dong Gubernur terpilih segera lanjutkan proyek yang terkatung-katung ini.

Sekitar 15 menit, monorail pun tiba, kami langsung masuk ke dalam. Ada kejadian lucu di sini, sebenarnya malu juga sih menceritakannya. Ternyata tujuan kami itu ke Bukit Nanas bukan ke Bukit Bintang. Karena Pavilion Mall memang berlokasi di Bukit Nanas. Dan untuk harga koinnya ternyata beda, jadi harus turun di Bukit Bintang, membeli koin kembali, baru bisa melanjutkan ke Bukit Nanas. Tapi kami dengan sangat percaya diri, tetap berada di dalam monorail, sampai akhirnya diberitahu oleh seorang penumpang. Dengan menahan malu, kami pun keluar dari monorail. Dan memutuskan untuk berjalan kaki saja menuju Bukit Nanas (wisata menyehatkan).

Sekitar 10 menit berjalan kaki, kami pun tiba di Pavillion Mall. Dari tampilan luar, bisa dibilang mallnya biasa saja (mungkin karena saya melihat Jakarta sudah terlalu banyak diserbu mall-mal besar). Di mall ini kami hanya numpang lewat lantaran kami datang sebelum jam buka. Lalu, kami meneruskan berjalan kaki menuju KLCC Suria Mall, jarak tempuhnya 10 menit juga jika berjalan santai ya. Kerennya, kami berjalan di sepanjang Jembatan Penghubung yang sangat panjang. Di sini sangat sejuk karena dilengkapi AC, jadi sepanjang apapun jembatan penghubung tetap saja menyenangkan.

jembatan penghubung ke klcc

Berada di samping KLCC Suria ini seperti berada di Taman Koleksinya Institut Pertanian Bogor, jadi ingat Botani Square 🙂 Di depan mall ada kolam air mancur. Di belakangnya ada menara petronas dan menara Kuala Lumpur yang sepintas mirip dengan menara TVRI. Menurut Mr. Soldier (sopir jemputan), pemandangannya bagus kala malam hari. Lebih bagus lagi jika naik ke Petronas, hmmm, sayangnya waktu mepet, pukul 13.00 kami harus tiba di Hotel.

KLCC Suria Mall ini tergolong besar, dibuka sekitar tahun 1999. Di sini saya tidak berbelanja, mungkin karena saya bukan pecinta mall. Jadi ke sini hanya mampir untuk membeli cokelat Bairleys. Oya, tandas awam di sini terbagi dua, ada yang gratis dan ada yang berbayar (2 ringgit). Bicara tandas awam, entah ini hanya pengalaman saya, atau yang lain juga mengalami hal yang sama. Saya dan teman-teman susah menemukan tandas awam yang bersih di sini. Termasuk di bandara.

Kembali ke KLCC, mall ini tergolong mall premier di sini. Lokasi strategis dan nyaman karena ada taman dan kolam air mancur. Banyak pengunjung yang duduk santai dan berfoto di sana.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00, kami harus kembali ke Hotel, karena pukul 13.00 waktu setempat akan melanjutkan perjalanan ke Putra Jaya. Kami pun minta arahan dari satpam mall. Untuk memahami ucapannya, kami musti mencerna dengan baik. Satpamnya mengatakan ‘Kalau ingin ke Bukit Bintang naik bas sahaja, percuma, di bas ada tanda green’. Hmm, ternyata yang dimaksud adalah naik bus gratis saja, yang ada tanda hijau di depan bis. Bisnya berwarna centil, pink.

Di depan mall, sudah banyak bus gratis yang ngetem, kosong pula. Sepanjang perjalanan, saya terus berpikir, bagaimana caranya, Malaysia bisa menyediakan bus gratis? Apa tidak rugi? Informasi yang saya dapatkan sih, free bas ini baru diluncurkan dalam rangka menyambut kemerdekaan Malaysia yang ke 55. Beruntung sekali warga Kuala Lumpur, bus gratis, bisa WIFI pula. Untuk rutenya bisa googling sendiri ya. Oya, soal taksi, pastikan kamu naik taksi bermeter ya.

Oke, sekian saja berbagi cerita soal transportasi dan mall di KL.

http://berrybenka.go2cloud.org/SHDK

Cuti-cuti Ke Malaysia

Judul tulisan ini terinspirasi dari tulisan di sebuah bas pesiaran(begitu masyarakat Malaysia menyebut bus pariwisata) yang sering saya lihat saat berada di Kuala Lumpur. Artinya berlibur ke Malaysia.

Kali ini giliran negeri Jiran yang saya kunjungi bersama rekan-rekan sekantor. Keberangkatannya masih sama seperti tahun lalu, pulang kantor langsung menuju Bandara Soekarno Hatta. Penerbangan kami jam 20.30 WIB, menggunakan Air Asia. Perjalanan dari Jakarta ke Kuala Lumpur memakan waktu sekitar 2 jam. Tiba di Malaysia sekitar jam 22.30 WIB atau jam 23.30 waktu setempat.

Perjalanan kali ini termasuk lancar, tidak perlu berlari-lari menuju pesawat seperti saat ke Singapura tahun lalu. Hanya saja, saat melewati pemeriksaan ada hal lucu. Saat di bagian keimigrasian, saya menghabiskan waktu sekitar 10 menit. Si petugas membuat saya berpikir, Apakah muka saya mencurigakan? Identitas lengkap semua, dan tidak ada perbedaan nama juga antara paspor dan tiket. Petugasnya malah senyum-senyum gak jelas.

Ternyata hal lucu dan aneh, tidak hanya sampai di situ, saat akan melewati pemeriksaan menuju ruang tunggu, beberapa kali saya gagal melewati pemindai, dan saya pun diminta untuk lepas ikat pinggang dan sepatu. Setelah dilepas baru deh si pemindai ini tidak rewel dan mengijinkan saya masuk ruang tunggu. Hufft.

Sekitar pukul 23.30 WIB kami tiba di LCCT. Jadwal tur juga sedikit melenceng, seharusnya begitu tiba di Kuala Lumpur kami langsung menuju Petaling Jaya. Namun, situasi tidak pas, karena sudah terlalu malam juga untuk berbelanja, apalagi kondisi badan yang sudah lelah. Sekitar 4 mobil jemputan sudah siap mengantarkan kami ke Hotel di ujung kawasan Bukit Bintang.

Jom awak pusing-pusing

Hari pertama, 29 September 2012, kami dijadwalkan untuk sarapan pagi di sebuah restoran yang tidak jauh dari hotel. Nama Restorannya Restoran Ikhwan, di sini lebih banyak menjual masakan melayu. Masakan di sini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan di Singapura. Nasi ayam dan masakan India pasti ada. Karena itu saya jadi was-was, karena lidah saya tergolong rewel dan tidak bisa menerima kedua masakan tersebut. Untuk amannya, saya lebih baik memilih nasi goreng lokal. Rasa makanannya lumayanlah untuk mengganjal perut hingga siang. Bagi yang suka roti canai, setiap restoran di sini pasti menyediakan menu ini untuk sarapan. Minumannya yang dijual juga beragam, seperti Teh tarik, teh halia (teh jahe), kopi tarik, kopi halia dan masih banyak lagi. Untuk minuman, saya tetap memilih kopi sebagai doping mata (hehe), dan air mineral. Lagipula teh tarik cukup asing rasanya di lidah saya (mungkin karena saya tidak suka susu).

Setelah sarapan, kami pun menuju Istana Negara Lama. Bangunan dengan tembok berwarna putih dan memiliki dua kubah emas ini terletak di jalan Istana, tepi Bukit Petaling, Kuala Lumpur. Sepintas mirip Istana Bogor, hanya saja tidak ada rusa di sana. Beruntung saya berada di mobil jemputan yang disopiri pria yang mengaku pensiunan militer. Namanya Aznam tapi kita memanggil dia Mr. Soldier. Dia tidak hanya mengantarkan ke tempat tujuan wisata saja, tapi juga berseloroh soal sejarah Malaysia. Pengetahuannya sangat luas soal sejarah Malaysia. Dia juga bercerita bahwa Istana Negara Lama ini merupakan tempat bersemayam Seri Paduka Baginda Yang di-Pertuan Agong dan Seri Paduka Baginda Raja Permaisuri Agong. Istana Negara ini kemudian diserahkan kepada Kementerian Penerangan Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia pada 21 Februari 2012 untuk ditetapkan sebagai warisan kebangsaan. Istana Negara Lama ini terbuka untuk wisatawan. Namun hanya boleh masuk ke Balairong Seri. Sayangnya saya tidak sempat masuk dan harus puas hanya bernarsis ria di depan gerbang lantaran jadwal tur yang sudah ditentukan. Dari kawasan Bukit Bintang menuju Istana Negara Lama memakan waktu sekitar 20 menit.

ISTANA NEGARA

Setelah dari Istana Negara Lama kami menengok Istana Negara Baru di Jalan Duta, Kuala Lumpur. Mr. Soldier secara terpisah menceritakan kepada saya bahwa Istana Negara Baru ini beroperasi sekitar November 2011. Bangunannya lebih megah dibanding Istana Negara Lama. Kubah emasnya semakin berkilau saat diterpa sinar matahari. Memang, cuacanya tengah terik. Walaupun panas, yang namanya bernarsis ria tidak boleh dilewatkan. Berfoto dengan pengawal berkuda itu harus (serasa berada di Istana Buckingham 🙂 ). Entah ini kebetulan atau tidak tapi ada atraksi dari tiga pengawal berkuda saat saya datang ke Istana Negara Baru, cukup menarik karena yang seperti ini tidak ada di Jakarta.

Setelah dari Istana Negara Baru, kami pun menuju kawasan Batu Cave atau bukit batu kapurnya Malaysia. Batu Cave ini dikenal dengan kuil Hindu yang berada di dalam goa. Sebuah patung dewa Muruga berwarna emas setinggi 42,7 meter menyambut para wisatawan. Batu Cave ini terletak di kawasan berhawa sejuk, dan banyak burung merpati yang bermain-main di sekitar patung dewa Murungga ini. Pemandangan yang mungkin jarang saya temui di Jakarta. Begitu berada di sini, saya seperti familiar dengan suasananya. Seperti berada di Ngarai Sianok, hanya saja di Ngarai Sianok tidak ada kuil dan patung. Namun, sayangnya (sekali lagi sayangnya) saya dan rombongan tidak masuk ke dalam goa. Lagi-lagi karena jadwal tur dan ada beberapa orang yang enggan naik tangga sejumlah 272 anak tangga itu. Hmm, jika ada kesempatan ke sini saya harus masuk ke goa itu dan melihat kondisi di dalamnya. Dan menurut Mr. Soldier, di sini juga ada atraksi orang mencucuk muka mereka dengan jarum (wow, serius?) Tapi saya tidak menemukannya saat ke sana. Oya, patung Hanoman yang berwarna hijau juga ada di Batu Cave ini.

PAGODA PENANG

Kelar foto-foto di Batu Cave kami pun segera menuju Genting Highland. Perjalanan menuju Genting juga menyenangkan, seperti menuju puncak Bogor, tapi gak pakai macet. Jalanannya lengang. Memakan waktu sekitar satu jam dari Batu Cave. Menurut Mr. Soldier, Genting Highland merupakan Las Vegasnya Malaysia. Dan masih menurut dia, muslim lokal tidak diperbolehkan masuk ke sini. Genting Highland ini terletak di puncak gunung Titiwangsa. Tidak hanya dikenal dengan kasino, di sini juga terdapat resort yang megah, yang di dalamnya terdapat patung ala jaman romawi. Oya, tujuan kami ke sini bukan untuk berjudi lho. Kami ke sini untuk menjajal gondolanya. Gondola ini akan membawa kami ke Genting Hihland Resort. Pemandangan yang disajikan saat naik gondola ini sangat menarik. Dibawah, terhampar hutan belantara. Imaji saya pun mulai bermain, membayangkan ada binatang buas di sana (ada gak ya?), dan membayangkan suasana perang di hutan belantara itu (kebanyakan nonton film perang nih). Oya, gondola ini bisa memuat maksimum delapan orang. Kalau mau naik jangan ajak yang takut ketinggian ya, kasian soalnya. Tapi menyenangkan untuk ditakut-takuti hehee. Kalau ingin ke sini, jangan lupa bawa jaket karena hawanya benar-benar dingin. Setelah berada di dalam gondola selama 20 menit, akhirnya kami sampai juga di Resort. Di sini juga terdapat wahana permainan. Tidak jauh berbeda dengan Dufan dan Trans Studio di Bandung. Tidak menariklah, karena sudah terlalu sering mencoba yang macam begini. Apalagi bagi yang sudah pernah ke Universal Studio. Tapi bagi yang belum pernah, ya bolehlah dicoba.

Puas menikmati hutan belantara dari gondola, kami pun segera meluncur ke destinasi berikutnya, Pagoda, Penang. Masih terletak di area pegunungan dan masih berhawa sejuk. Mengingatkan saya dengan puncak dan Bukittinggi. Jarak tempuh dari Genting ke Pagoda sekitar 30 menit. Pagoda ini merupakan candi Budha, Kek Lok Si, yang memiliki sekitar 8 tingkat. Di sini kami juga tidak bisa berlama-lama, hanya mampir untuk mengambil foto dengan latar belakang pagoda dan patung-patung budha yang ada di area wisata ini.

Puas wisata ‘narsis’ kami diantarkan ke Pasar Malam Petaling Jaya untuk belanja suvenir. Begitu sampai, gapura pasar malam ini mengingatkan saya dengan Pasar Baru. Barang-barang yang dijual di sini juga biasa saja. Kalau ingin belanja kerudung, tas atau dompet lebih baik belanja di Blok M atau Tanah Abang, model lebih variatif. Saya hanya belanja suvenir yang ada tulisan Malaysianya. Formalitas saja. Meski demikian tawar menawar tetap harus dilakoni. Kebayang gak sih sebuah pajangan meja yang harga awalnya dibanderol RM20 untuk satu item akhirnya dilepas si ‘uncle’ di harga RM15 untuk dua item. Di sini kita memang harus sadis saat menawar barang, karena mereka juga sadis saat memberikan harga awal. Eh, tapi jangan kaget ya, perangai pedagang di sini kasar. Kalau kalian tidak jadi membeli lantaran tidak ketemu harga yang disepakati, mereka tidak segan-segan menyindir dengan bahasa kasar. Seperti pengalaman saya saat akan membeli tas bermotif etnik. Si ‘Uncle’ tak kunjung memberikan harga yang pantas. Masa tas etnik dihargai RM90, kalau di Jakarta paling hanya dijual di bawah seratus ribu, apalagi di pasar malam. Si ‘Uncle’ pun mulai menyindir ‘tawar tak ade muke heh’. Saya cuma bisa tertawa walau sebenarnya gondok juga mendengar sindiran tersebut.

Di sini saya hanya berbelanja secukupnya lantaran barang yang dijajakan masih lebih menarik yang ada di pasar tanah abang.

Oke, waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 waktu setempat. Saatnya mengisi perut setelah seharian pusing-pusing dan belanja. Kami makan di restoran kawasan Sungei Wang. Bagi anda yang muslim, lebih baik pilih restoran Melayu. Menu makan malam kali ini adalah steam ikan sikap kuah asam (kalo di Indonesia sejenis ikan mas kali yah?), tempe goreng, semacam kalio sapi, dan sayur lodeh gagal (gagal karena rasanya tak ada). Cukup mengenyangkanlah dengan harga RM15. Minumnya teh manis hangat saja karena selalu tersedia refill. Oya, kawasan ini sepintas mirip Mangga Besar, jalanan penuh dengan lentera , atraksi barongsai, dan makanan Cina.

Cerita pusing-pusing di hari pertama cukup sampai di sini dulu ya. Berikutnya, saya mau cerita soal transportasi dan tata kota Kuala Lumpur yang bikin kagum. Untuk yang satu ini saya bisa bilang Jakarta harus belajar dari Kuala Lumpur.

Tapi tulisannya nanti saja dibuat ya saat ada waktu senggang. Saatnya beristirahat.

(Angkot Hijau)