Judul tulisan ini terinspirasi dari tulisan di sebuah bas pesiaran(begitu masyarakat Malaysia menyebut bus pariwisata) yang sering saya lihat saat berada di Kuala Lumpur. Artinya berlibur ke Malaysia.

Kali ini giliran negeri Jiran yang saya kunjungi bersama rekan-rekan sekantor. Keberangkatannya masih sama seperti tahun lalu, pulang kantor langsung menuju Bandara Soekarno Hatta. Penerbangan kami jam 20.30 WIB, menggunakan Air Asia. Perjalanan dari Jakarta ke Kuala Lumpur memakan waktu sekitar 2 jam. Tiba di Malaysia sekitar jam 22.30 WIB atau jam 23.30 waktu setempat.

Perjalanan kali ini termasuk lancar, tidak perlu berlari-lari menuju pesawat seperti saat ke Singapura tahun lalu. Hanya saja, saat melewati pemeriksaan ada hal lucu. Saat di bagian keimigrasian, saya menghabiskan waktu sekitar 10 menit. Si petugas membuat saya berpikir, Apakah muka saya mencurigakan? Identitas lengkap semua, dan tidak ada perbedaan nama juga antara paspor dan tiket. Petugasnya malah senyum-senyum gak jelas.

Ternyata hal lucu dan aneh, tidak hanya sampai di situ, saat akan melewati pemeriksaan menuju ruang tunggu, beberapa kali saya gagal melewati pemindai, dan saya pun diminta untuk lepas ikat pinggang dan sepatu. Setelah dilepas baru deh si pemindai ini tidak rewel dan mengijinkan saya masuk ruang tunggu. Hufft.

Sekitar pukul 23.30 WIB kami tiba di LCCT. Jadwal tur juga sedikit melenceng, seharusnya begitu tiba di Kuala Lumpur kami langsung menuju Petaling Jaya. Namun, situasi tidak pas, karena sudah terlalu malam juga untuk berbelanja, apalagi kondisi badan yang sudah lelah. Sekitar 4 mobil jemputan sudah siap mengantarkan kami ke Hotel di ujung kawasan Bukit Bintang.

Jom awak pusing-pusing

Hari pertama, 29 September 2012, kami dijadwalkan untuk sarapan pagi di sebuah restoran yang tidak jauh dari hotel. Nama Restorannya Restoran Ikhwan, di sini lebih banyak menjual masakan melayu. Masakan di sini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan di Singapura. Nasi ayam dan masakan India pasti ada. Karena itu saya jadi was-was, karena lidah saya tergolong rewel dan tidak bisa menerima kedua masakan tersebut. Untuk amannya, saya lebih baik memilih nasi goreng lokal. Rasa makanannya lumayanlah untuk mengganjal perut hingga siang. Bagi yang suka roti canai, setiap restoran di sini pasti menyediakan menu ini untuk sarapan. Minumannya yang dijual juga beragam, seperti Teh tarik, teh halia (teh jahe), kopi tarik, kopi halia dan masih banyak lagi. Untuk minuman, saya tetap memilih kopi sebagai doping mata (hehe), dan air mineral. Lagipula teh tarik cukup asing rasanya di lidah saya (mungkin karena saya tidak suka susu).

Setelah sarapan, kami pun menuju Istana Negara Lama. Bangunan dengan tembok berwarna putih dan memiliki dua kubah emas ini terletak di jalan Istana, tepi Bukit Petaling, Kuala Lumpur. Sepintas mirip Istana Bogor, hanya saja tidak ada rusa di sana. Beruntung saya berada di mobil jemputan yang disopiri pria yang mengaku pensiunan militer. Namanya Aznam tapi kita memanggil dia Mr. Soldier. Dia tidak hanya mengantarkan ke tempat tujuan wisata saja, tapi juga berseloroh soal sejarah Malaysia. Pengetahuannya sangat luas soal sejarah Malaysia. Dia juga bercerita bahwa Istana Negara Lama ini merupakan tempat bersemayam Seri Paduka Baginda Yang di-Pertuan Agong dan Seri Paduka Baginda Raja Permaisuri Agong. Istana Negara ini kemudian diserahkan kepada Kementerian Penerangan Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia pada 21 Februari 2012 untuk ditetapkan sebagai warisan kebangsaan. Istana Negara Lama ini terbuka untuk wisatawan. Namun hanya boleh masuk ke Balairong Seri. Sayangnya saya tidak sempat masuk dan harus puas hanya bernarsis ria di depan gerbang lantaran jadwal tur yang sudah ditentukan. Dari kawasan Bukit Bintang menuju Istana Negara Lama memakan waktu sekitar 20 menit.

ISTANA NEGARA

Setelah dari Istana Negara Lama kami menengok Istana Negara Baru di Jalan Duta, Kuala Lumpur. Mr. Soldier secara terpisah menceritakan kepada saya bahwa Istana Negara Baru ini beroperasi sekitar November 2011. Bangunannya lebih megah dibanding Istana Negara Lama. Kubah emasnya semakin berkilau saat diterpa sinar matahari. Memang, cuacanya tengah terik. Walaupun panas, yang namanya bernarsis ria tidak boleh dilewatkan. Berfoto dengan pengawal berkuda itu harus (serasa berada di Istana Buckingham 🙂 ). Entah ini kebetulan atau tidak tapi ada atraksi dari tiga pengawal berkuda saat saya datang ke Istana Negara Baru, cukup menarik karena yang seperti ini tidak ada di Jakarta.

Setelah dari Istana Negara Baru, kami pun menuju kawasan Batu Cave atau bukit batu kapurnya Malaysia. Batu Cave ini dikenal dengan kuil Hindu yang berada di dalam goa. Sebuah patung dewa Muruga berwarna emas setinggi 42,7 meter menyambut para wisatawan. Batu Cave ini terletak di kawasan berhawa sejuk, dan banyak burung merpati yang bermain-main di sekitar patung dewa Murungga ini. Pemandangan yang mungkin jarang saya temui di Jakarta. Begitu berada di sini, saya seperti familiar dengan suasananya. Seperti berada di Ngarai Sianok, hanya saja di Ngarai Sianok tidak ada kuil dan patung. Namun, sayangnya (sekali lagi sayangnya) saya dan rombongan tidak masuk ke dalam goa. Lagi-lagi karena jadwal tur dan ada beberapa orang yang enggan naik tangga sejumlah 272 anak tangga itu. Hmm, jika ada kesempatan ke sini saya harus masuk ke goa itu dan melihat kondisi di dalamnya. Dan menurut Mr. Soldier, di sini juga ada atraksi orang mencucuk muka mereka dengan jarum (wow, serius?) Tapi saya tidak menemukannya saat ke sana. Oya, patung Hanoman yang berwarna hijau juga ada di Batu Cave ini.

PAGODA PENANG

Kelar foto-foto di Batu Cave kami pun segera menuju Genting Highland. Perjalanan menuju Genting juga menyenangkan, seperti menuju puncak Bogor, tapi gak pakai macet. Jalanannya lengang. Memakan waktu sekitar satu jam dari Batu Cave. Menurut Mr. Soldier, Genting Highland merupakan Las Vegasnya Malaysia. Dan masih menurut dia, muslim lokal tidak diperbolehkan masuk ke sini. Genting Highland ini terletak di puncak gunung Titiwangsa. Tidak hanya dikenal dengan kasino, di sini juga terdapat resort yang megah, yang di dalamnya terdapat patung ala jaman romawi. Oya, tujuan kami ke sini bukan untuk berjudi lho. Kami ke sini untuk menjajal gondolanya. Gondola ini akan membawa kami ke Genting Hihland Resort. Pemandangan yang disajikan saat naik gondola ini sangat menarik. Dibawah, terhampar hutan belantara. Imaji saya pun mulai bermain, membayangkan ada binatang buas di sana (ada gak ya?), dan membayangkan suasana perang di hutan belantara itu (kebanyakan nonton film perang nih). Oya, gondola ini bisa memuat maksimum delapan orang. Kalau mau naik jangan ajak yang takut ketinggian ya, kasian soalnya. Tapi menyenangkan untuk ditakut-takuti hehee. Kalau ingin ke sini, jangan lupa bawa jaket karena hawanya benar-benar dingin. Setelah berada di dalam gondola selama 20 menit, akhirnya kami sampai juga di Resort. Di sini juga terdapat wahana permainan. Tidak jauh berbeda dengan Dufan dan Trans Studio di Bandung. Tidak menariklah, karena sudah terlalu sering mencoba yang macam begini. Apalagi bagi yang sudah pernah ke Universal Studio. Tapi bagi yang belum pernah, ya bolehlah dicoba.

Puas menikmati hutan belantara dari gondola, kami pun segera meluncur ke destinasi berikutnya, Pagoda, Penang. Masih terletak di area pegunungan dan masih berhawa sejuk. Mengingatkan saya dengan puncak dan Bukittinggi. Jarak tempuh dari Genting ke Pagoda sekitar 30 menit. Pagoda ini merupakan candi Budha, Kek Lok Si, yang memiliki sekitar 8 tingkat. Di sini kami juga tidak bisa berlama-lama, hanya mampir untuk mengambil foto dengan latar belakang pagoda dan patung-patung budha yang ada di area wisata ini.

Puas wisata ‘narsis’ kami diantarkan ke Pasar Malam Petaling Jaya untuk belanja suvenir. Begitu sampai, gapura pasar malam ini mengingatkan saya dengan Pasar Baru. Barang-barang yang dijual di sini juga biasa saja. Kalau ingin belanja kerudung, tas atau dompet lebih baik belanja di Blok M atau Tanah Abang, model lebih variatif. Saya hanya belanja suvenir yang ada tulisan Malaysianya. Formalitas saja. Meski demikian tawar menawar tetap harus dilakoni. Kebayang gak sih sebuah pajangan meja yang harga awalnya dibanderol RM20 untuk satu item akhirnya dilepas si ‘uncle’ di harga RM15 untuk dua item. Di sini kita memang harus sadis saat menawar barang, karena mereka juga sadis saat memberikan harga awal. Eh, tapi jangan kaget ya, perangai pedagang di sini kasar. Kalau kalian tidak jadi membeli lantaran tidak ketemu harga yang disepakati, mereka tidak segan-segan menyindir dengan bahasa kasar. Seperti pengalaman saya saat akan membeli tas bermotif etnik. Si ‘Uncle’ tak kunjung memberikan harga yang pantas. Masa tas etnik dihargai RM90, kalau di Jakarta paling hanya dijual di bawah seratus ribu, apalagi di pasar malam. Si ‘Uncle’ pun mulai menyindir ‘tawar tak ade muke heh’. Saya cuma bisa tertawa walau sebenarnya gondok juga mendengar sindiran tersebut.

Di sini saya hanya berbelanja secukupnya lantaran barang yang dijajakan masih lebih menarik yang ada di pasar tanah abang.

Oke, waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 waktu setempat. Saatnya mengisi perut setelah seharian pusing-pusing dan belanja. Kami makan di restoran kawasan Sungei Wang. Bagi anda yang muslim, lebih baik pilih restoran Melayu. Menu makan malam kali ini adalah steam ikan sikap kuah asam (kalo di Indonesia sejenis ikan mas kali yah?), tempe goreng, semacam kalio sapi, dan sayur lodeh gagal (gagal karena rasanya tak ada). Cukup mengenyangkanlah dengan harga RM15. Minumnya teh manis hangat saja karena selalu tersedia refill. Oya, kawasan ini sepintas mirip Mangga Besar, jalanan penuh dengan lentera , atraksi barongsai, dan makanan Cina.

Cerita pusing-pusing di hari pertama cukup sampai di sini dulu ya. Berikutnya, saya mau cerita soal transportasi dan tata kota Kuala Lumpur yang bikin kagum. Untuk yang satu ini saya bisa bilang Jakarta harus belajar dari Kuala Lumpur.

Tapi tulisannya nanti saja dibuat ya saat ada waktu senggang. Saatnya beristirahat.

(Angkot Hijau)

Advertisements