Tulisan ini merupakan lanjutan tulisan sebelumnya. Bagi yang punya sentimen berlebihan terhadap Malaysia, saya rasa tidak usah melanjutkan membaca tulisan ini. Dan tulisan ini juga bukan berarti menyanjung negeri Jiran ini secara berlebihan. Saya hanya berbagi cerita liburan ke Kuala Lumpur. Hal yang bagus dari mereka layak kita pelajari, terutama dari segi tata kota dan transportasi. Untuk wisata alam dan makanan, saya masih lebih menyukai negeri sendiri.

depan hotel

Menjajal Transportasi dan Mall Lokal

Saya mau berbagi cerita soal pengalaman menjajal transportasi di Kuala Lumpur, walaupun tidak semua jenis transportasi yang saya coba naiki. Dan kebetulan saya mendapatkan kesempatan tersebut di hari terakhir berlibur ke negeri Jiran ini.

Sekitar pukul 7 kurang 5 menit waktu setempat, saya menerima ‘morning call’ yang mengingatkan tur akan segera dimulai. Dan semua peserta diharapkan turun ke lobi. Oya, di sini mataharinya telat muncul. Ketika saya membuka jendela kamar hotel pada pukul 6 pagi waktu setempat, situasi diluar masih gelap layaknya masih subuh.

Setelah semua peserta tur turun ke lobi, kami pun menuju restoran yang tidak jauh dari Hotel. Kali ini, kami sarapan di sebuah rumah makan sederhana ‘Safreen’. Entah ini rumah makan melayu atau bukan, karena semua pelayannya orang India. Menu yang disajikan juga beragam.

Setelah menghabiskan sarapan, kami diberikan kebebasan ingin pergi kemana (tidak terikat itennary hanya diwajibkan tiba di hotel pukul 13.00 waktu setempat). Saya dan beberapa rekan memutuskan untuk pergi ke pusat kota dan ingin menjajal mall di sini. Kami pun berjalan kaki menuju stasiun monorail. Kami ingin menuju Bukit Bintang. Dari peta yang ada di stasiun, menunjukkan kami berada di IMBI. Untuk menuju Bukit Bintang kami cukup mengeluarkan uang RM1,2. Entah karena unitnya terbatas, monorail ini tibanya juga lama. Hmm, seperti menunggu bus Transjakarta di depan kantor. Selama menunggu, ya foto-foto saja dulu, sambil berharap dalam hati, semoga pembangunan monorail di Jakarta segera terwujud, jadi saya tidak hanya melihat tiang pancang di sepanjang jalan Rasuna Said saja. Ayo dong Gubernur terpilih segera lanjutkan proyek yang terkatung-katung ini.

Sekitar 15 menit, monorail pun tiba, kami langsung masuk ke dalam. Ada kejadian lucu di sini, sebenarnya malu juga sih menceritakannya. Ternyata tujuan kami itu ke Bukit Nanas bukan ke Bukit Bintang. Karena Pavilion Mall memang berlokasi di Bukit Nanas. Dan untuk harga koinnya ternyata beda, jadi harus turun di Bukit Bintang, membeli koin kembali, baru bisa melanjutkan ke Bukit Nanas. Tapi kami dengan sangat percaya diri, tetap berada di dalam monorail, sampai akhirnya diberitahu oleh seorang penumpang. Dengan menahan malu, kami pun keluar dari monorail. Dan memutuskan untuk berjalan kaki saja menuju Bukit Nanas (wisata menyehatkan).

Sekitar 10 menit berjalan kaki, kami pun tiba di Pavillion Mall. Dari tampilan luar, bisa dibilang mallnya biasa saja (mungkin karena saya melihat Jakarta sudah terlalu banyak diserbu mall-mal besar). Di mall ini kami hanya numpang lewat lantaran kami datang sebelum jam buka. Lalu, kami meneruskan berjalan kaki menuju KLCC Suria Mall, jarak tempuhnya 10 menit juga jika berjalan santai ya. Kerennya, kami berjalan di sepanjang Jembatan Penghubung yang sangat panjang. Di sini sangat sejuk karena dilengkapi AC, jadi sepanjang apapun jembatan penghubung tetap saja menyenangkan.

jembatan penghubung ke klcc

Berada di samping KLCC Suria ini seperti berada di Taman Koleksinya Institut Pertanian Bogor, jadi ingat Botani Square 🙂 Di depan mall ada kolam air mancur. Di belakangnya ada menara petronas dan menara Kuala Lumpur yang sepintas mirip dengan menara TVRI. Menurut Mr. Soldier (sopir jemputan), pemandangannya bagus kala malam hari. Lebih bagus lagi jika naik ke Petronas, hmmm, sayangnya waktu mepet, pukul 13.00 kami harus tiba di Hotel.

KLCC Suria Mall ini tergolong besar, dibuka sekitar tahun 1999. Di sini saya tidak berbelanja, mungkin karena saya bukan pecinta mall. Jadi ke sini hanya mampir untuk membeli cokelat Bairleys. Oya, tandas awam di sini terbagi dua, ada yang gratis dan ada yang berbayar (2 ringgit). Bicara tandas awam, entah ini hanya pengalaman saya, atau yang lain juga mengalami hal yang sama. Saya dan teman-teman susah menemukan tandas awam yang bersih di sini. Termasuk di bandara.

Kembali ke KLCC, mall ini tergolong mall premier di sini. Lokasi strategis dan nyaman karena ada taman dan kolam air mancur. Banyak pengunjung yang duduk santai dan berfoto di sana.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00, kami harus kembali ke Hotel, karena pukul 13.00 waktu setempat akan melanjutkan perjalanan ke Putra Jaya. Kami pun minta arahan dari satpam mall. Untuk memahami ucapannya, kami musti mencerna dengan baik. Satpamnya mengatakan ‘Kalau ingin ke Bukit Bintang naik bas sahaja, percuma, di bas ada tanda green’. Hmm, ternyata yang dimaksud adalah naik bus gratis saja, yang ada tanda hijau di depan bis. Bisnya berwarna centil, pink.

Di depan mall, sudah banyak bus gratis yang ngetem, kosong pula. Sepanjang perjalanan, saya terus berpikir, bagaimana caranya, Malaysia bisa menyediakan bus gratis? Apa tidak rugi? Informasi yang saya dapatkan sih, free bas ini baru diluncurkan dalam rangka menyambut kemerdekaan Malaysia yang ke 55. Beruntung sekali warga Kuala Lumpur, bus gratis, bisa WIFI pula. Untuk rutenya bisa googling sendiri ya. Oya, soal taksi, pastikan kamu naik taksi bermeter ya.

Oke, sekian saja berbagi cerita soal transportasi dan mall di KL.

http://berrybenka.go2cloud.org/SHDK

Advertisements