Setelah berbagi cerita tentang mall, transportasi dan beberapa tempat wisata di Malaysia, kini saya ingin berbagi cerita tentang Putra Jaya, Terowongan Smart, dan cerita printilan selama berlibur di sana. Kompleks Pemerintahan Putra Jaya Yang Tertata Rapi.

Tulisan sebelumnya menceritakan, kami berjalan kaki menuju Hotel setelah mencoba free bas. Jarak tempuh dengan berjalan kaki memakan waktu sekitar 20 menit. Kok lama? Tentu saja lama, karena saya dan dua orang teman mampir dulu di kedai serbaneka. Setibanya di Hotel, ternyata rombongan sudah menunggu kedatangan kami, maaf ya hehe. Oke, kami segera naik ke mobil jemputan dan langsung menuju Putra Jaya. Informasi yang saya peroleh dari Mr. Soldier, Putra Jaya merupakan kompleks pemerintahan. Jadi semua instansi pemerintahan dipusatkan di sana. Dan menurut dia bangunannya tertata rapi. Prinsip saya itu harus melihat langsung baru bisa dibuktikan kebenarannya.

Sepanjang perjalanan, Mr. Soldier bercerita soal Putra Jaya. Kompleks administrasi dan pemerintahan ini baru didirikan pada tahun 1995. Nama Putra Jaya diambil dari nama perdana menteri Malaysia pertama, Tungku Abdul Rahman Putra. Menurut Mr. Soldier, pembangunan Putra Jaya ini sebelumnya juga ditentang oleh para pembangkang (mungkin semacam oposisi ya?) karena dianggap pemborosan anggaran. Namun, akhirnya mereka menerima setelah kompleks ini berdiri, kata Mr. Soldier. Putra Jaya ini memiliki luas sekitar 4931 hektar. Sejarahnya, pemerintah Malaysia membeli lahan ini dari Kerajaan Selangor. Bangunannya memang megah dan modern. Semua tertata rapi. Sepertinya Pemerintah Malaysia juga ingin memasukkan Putra Jaya mejadi destinasi wisata, tidak hanya domestik tapi juga di kawasan Asia Tenggara.

PUTRA JAYA

Di kompleks ini, juga terdapat 7 jembatan, namun saya hanya melalui Jembatan Seri Wawasan sebelum menuju Putra Jaya. Dari Jembatan Seri Wawasan ini saya bisa melihat Mesjid Terapung. Pemandangan yang bagus untuk didokumentasikan. Di Putra Jaya ini ternyata juga terdapat toko suvenir, tapi harganya sama saja dengan di Pasar Malam Petaling Jaya. Intinya adalah pintar menawar harga barang. Dan jangan tunjukkan kamu sangat berminat dengan barang itu, karena sudah pasti penjualnya tidak akan menurunkan harga. Cuaca di Putra Jaya ini, kalau kata Mr. Soldier, panasnya keterlaluan alias sangat-sangat panas. Kalau tidak mau repot membawa payung, ya cukup oleskan tabir surya saja sesering mungkin 🙂

JEMBATAN SERI BEGAWAN

Terowongan Smart Si Anti Banjir

Untuk menuju Putra Jaya, kami harus melalui sebuah terowongan. Ini bukan sembarang terowongan. Namanya terowongan Smart (Storm Management and Road Tunnel). Sewaktu kami tiba pertama kali di KL, Mr. Soldier punya janji untuk menceritakan tentang Terowongan Smart. Dan dia menepati janjinya. Terowongan Smart ini, kata Mr. Soldier, tidak hanya berfungsi untuk lalu lalang kendaraan, tapi juga berfungsi sebagai lalu lalang air saat hujan. Ketika hujan mulai turun, terowongan smart pun tertutup untuk lalu lalang kendaraan. Jadi, ketika hujan lebat, air akan masuk ke terowongan smart dan kemudian mengalir ke 3 sungai, yakni Sungai Klang, Gombak dan Ampang. Menurutnya penanganan banjir melalui terowongan Smart ini cukup efektif. Setidaknya banjir besar seperti tahun 1971 dan 2003 tidak terjadi lagi. Hmm, di Jakarta, mungkin seperti Banjir Kanal Timur ya. Untuk panjang terowongan smart ini sekitar 10 kilometer, dan baru beroperasi secara resmi pertengahan 2007 lalu.

Beberapa Hal Unik Di KL Kali ini, saya berbagi cerita printilannya ya. Ada beberapa hal yang saya tidak / jarang temui disini, yakni pengemis dan pengamen. Mungkin hanya ada satu dua yang saya temui. Saya juga tidak menemukan sampah dan polisi lalu lintas. Sama seperti waktu melancong ke Singapura. Kalo menurut, Mr. Soldier, tidak adanya polisi lalu lintas karena masyarakatnya termasuk patuh hukum, karena hukumannya berat di sini. Hanya CCTV yang dipasang untuk mengawasi lalu lintas. Dan hal unik lainnya adalah soal taksinya (sempat dibahas sekilas di tulisan sebelumnya), nama pengemudi taksinya tertera di pintu depan. Dan jenis taksinya pun ‘oldschool’, kecuali teksi eksekutifnya. Bocoran dari teman saya yang pernah tinggal di KL, kalau naik taksi harus dipastikan si sopir menghidupkan mesin argonya, kalau gak ya bisa kecele.

Harga Makanan dan Minuman Sekadar bocoran saja, harga makanan yang dijual di sini tidak jauh berbeda dengan di Jakarta. Sekitar RM 6 – RM 10. Percaya atau tidak saya membeli Tom Yam dengan harga RM 6 sekitar Rp. 18 ribu-an. Rasanya cukup memuaskan. Kalau ingin ke Mc Donald, kamu tidak akan menjumpai nasi, karena memang tidak disediakan di sini. Untuk harga minuman di rumah makan sekitar RM1 – RM2. Oke, cukup sekian cerita cuti-cuti ke Malaysia. Selama berada di Kuala Lumpur, saya bisa menyimpulkan, Malaysia memang tengah gencar promosi wisatanya lewat program Visit Malaysia. Dan tidak setengah hati, terbukti mereka sudah siap dengan sarana transportasi yang memadai untuk rakyat mereka sendiri dan para turis, serta sudah menyiapkan informasi yang dibutuhkan para pelancong. Indonesia juga harus bisa lebih, karena destinasi wisata lebih banyak. Salah satu yang perlu diperbaiki ya sarana transportasinya. Foto-fotonya akan diupload belakangan. Next, tujuannya kemana ya? Kepulauan Derawan sepertinya keren ya. Bon Voyage!
http://berrybenka.go2cloud.org/SHDI

Clucth hitam elegan
(AngkotHijau)

Advertisements