Archive for April, 2013

Mampukah Kamu Berkompetisi Secara Dewasa?

Satu-satunya kata yang terlintas di otak saat ini cuma satu yang kebetulan saya jadikan bagian dari judul tulisan ini, yakni “Kompetisi”. Tertarik membahas hal ini gara-gara nonton tayangan The Next American Top Model. Perempuan-perempuan cantik, berbadan bagus dan terlihat keren saat berpose di kamera yang berkompetisi menjadi Top Model Amerika Berikutnya.

Yang namanya kompetisi, tentu ada yang menang ada juga yang belum beruntung (saya tidak ingin menggunakan kata kalah). Dan tentunya sudah ada kriteria untuk menentukan siapa yang berhak menang dan siapa yang tidak mujur peruntungannya dan harus mencoba kembali di lain waktu. Kriterianya ya tergantung si juri. Dan yang menyita perhatian saya adalah ketika diumumkan siapa yang tidak beruntung untuk melaju ke babak berikutnya. Dan ketika tiba saatnya pengumuman tersebut, reaksi-reaksi sedih, marah dari yang biasa sampai yang berlebihan terlihat transaparan. Ada yang menangis, ada yang merasa frustasi (lebay banget gak sih) ada yang gak bisa menerima kenyataan karena merasa dia pantas untuk jadi pemenang.

Menonton tayangan ini jadi seperti melihat kilas balik kejadian yang kebetulan juga saya alami. Entahlah, bukannya terlalu berlebihan, tapi karena saya terbiasa menganalisa suatu kasus jadi saya terbiasa merunut kejadian per kejadian. Dan tentunya perbedaan itu mudah dirasakan. Dan ketika diminta konfirmasi tapi malah mendapat tanggapan yang kurang baik dan malah merujuk pada tudingan, saya hanya bisa bilang “oke saya coba bersabar, hadapi kepribadian yang berbeda dari masing-masing manusia”. Entah semua ini karena efek kompetisi atau tidak ya hanya si pelaku yang bisa menjawab dengan jujur. Karena percuma berbohong kalau dari tindak tanduk dan cara bicara mengisyaratkan lain. Semua orang bisa menilai secara diam-diam.

Dan ini hanya sampel kompetisi kecil lho, masih ada kompetisi yang lebih besar lagi, yaitu kehidupan. Bisa dibilang dalam kehidupan, banyak hal-hal kasar saat berkompetisi. Sikut sana sikut sini, Namun kembali lagi, bagaimana cara kamu menghadapi kompetisi secara elegan, positif dan dewasa. Bukannya memikirkan menang atau tidak beruntung.

(Angkothijau)

Bingung Pilih Makanan di Festival Kuliner Bango 2013

Bagi pengemar jajanan tradisional, merupakan kabar gembira dengan kembali digelarnya Festival Kuliner Bango (FJB) tahun ini di Jakarta, Sabtu, 13 April 203. Lidah mereka kembali dimanjakan oleh puluhan masakan tradisional Indonesia. Belum lagi lokasinya cukup mudah dijangkau, masih seputar daerah Senayan. Event tahunan yang menyajikan beragam masakan tradisional nusantara ini selalu dinantikan. Setidaknya terbukti dengan antrian panjang di masing-masing booth.

Banyaknya varian jajanan di FJB membuat pengunjung lebih mengenal kuliner nusantara. Saking banyaknya pilihan, membuat bingung saat menentukan harus makan apa dulu. Seperti saya, begitu tiba di lokasi, sempat bingung mau makan apa dulu nih. Setelah sibuk berkeliling, akhirnya saya memutuskan untuk ikut antri di booth Es Dawet Srikandi. Kebetulan sinar matahari yang lagi terik-teriknya mendukung. Namun, ada hal yang mengecewakan, sudah capek antri eh ternyata saat sampai di depan meja, es yang diidamkan habis. Yaaah pengunjung kecewa. Hal serupa saya alami di booth Nasi Gandul Pati dan Es Selendang Mayang Kota Tua. Sebenarnya sih stoknya masih ada di mobil si pemilik booth, cuma saya dan suami malas menunggunya hehehe.

Kami berdua pun lanjut singgah ke booth berikutnya, Soto Taliwang Bersaudara. Kuliner ini khas Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Ya, sebelum ke Lombok, makan sotonya dulu deh 🙂 . Si Pemilik, Ibu Hj. Baiq Hartini buka cabang di Jalan Panglima Polim dan Tebet Raya. Sotonya terdiri dari suwiran ayam dan daging, toge, bihun dan lontong, serta memiliki kuah bening. Rasanya raos pisaaan, bumbunya terasa. Semangkok dihargai Rp 15.000,-.

Tidak puas dengan satu jenis jajanan, saya dan suami pun menuju booth berikutnya. Kami ikut mengantri di booth Lontong Balap Garuda ‘Pak Gendut’. Antrian cukup panjang. Tidak percuma saya ikut antri demi bisa mencicipi kuliner khas Surabaya ini, Rasanya enaaaakk, kuahnya pedaass. Sayangnnya, Si pemilik Pak Gendut hanya berjualan lontong balap ini di Surabaya. Semangkuknya dibanderol Rp 15.000,-. Sepertinya semua makanan di sini rata-rata dijual dengan harga Rp 15.000,-

Puas menyantap kuliner khas Surabaya, kami pun menuju booth Sate Klatak Mak Adi Yogyakarta. Namun, kami cukup putus asa saat melihat antrian yang mengular. Alhasil kami batal untuk menjajal seberapa enak sih sate klatak ini. Ya, semoga saja tahun depan Sate Klatak ini ikut kembali di FJB.

Di FJB ini 10 legendaris kuliner kembali hadir menyajikan masakan andalan mereka, diantaranya yaitu Mie Aceh Sabang, Sate Jamur Cak Oney dan lainnya. Di FJB ini, setiap pengunjung yang berbelanja di masing-masing booth mendapatkan kupon yang dapat ditukar dengan kecap Bango ukuran mini. Lumayan lho, bisa hemat uang untuk beli kecap :). Yang berbeda dari tahun sebelumnya mungkin tempatnya jadi sedikit mengerucut. Tapi lidah dan perut tetap puas kok. Jadi gak sabar menanti FJB berikutnya.

duo ndut sedang berburu makanan enak.

duo ndut sedang berburu makanan enak.