Archive for November, 2013

Bangkok : Wisata pinggir jalan di malam hari

Setelah muter-muter di Pasar Chatucak, gw dan rombongan kembali ke hotel. Sebenarnya kami sempat berencana langsung menuju Asiatic, tapi karena satu hal rencana tersebut dibatalkan.

Sesampainya di hotel, kami juga tidak sempat istirahat. Setelah membenahi diri dan sholat maghrib, kami para perempuan kembali menelusuri jalanan kota Bangkok. Niatnya sih cuma makan malam, tapi sepanjang perjalanan banyak barang-barang murah yang dijual di pinggir jalan. Oya, kami memutuskan jalan kaki lho ke Platinum Mall. Jaraknya sekitar 1 km lebih dari hotel. Cuma di Bangkok nih gw jabanin jalan kaki dari hotel ke tempat tujuan, di Jakarta belum tentu gw mau hehehe.. Karena kami berjalan sambil cuci mata, jarak pun bukan halangan. Pasar malam di area Pratunam ini menarik juga. Harganya juga lumayan. Gw sih cuma beli sapu tangan dengan motif unyu, harganya? Sehelai cuma 25 thb. Sepanjang jalan menuju Platinum Mall  (Pratunam, Platinum Mall dan Pantip Mall jaraknya berdekatan) banyak penjual lotere dan tempat pijat.

image

Di pasar malam ini juga gw menemukan pajangan berbentuk kura-kura berwarna hitam. Tanpa pikir panjang gw langsung beli. Kalau orang-orang lebih suka beli pajangan berbentuk gajah, gw lebih tertarik membeli si kura-kura. Gw bukan penyuka kura-kura sih, tapi karena di meja kantor sudah ada 2 kura-kura yang mejeng, ya gw beli aja deh sebagai teman mereka 🙂

image

Di pasar malam sih gak lama, karena gw dapat info, Platinum Mall tutup jam 8 malam. Apa??? Cepat banget dalam hati gw, lebih cepat dari jam tutup ITC di Jakarta. Benar saja, sesampainya di food court Platinum Mall, makanan yang dijual juga sudah banyak yang habis. Lagi-lagi gw beli fast food.. Hadeeh..

Karena cuma sebentar di Platinum Mall, gw dan rombongan pun berencana untuk kembali ke sini keesokannya.

Berikutnya, bercerita soal wisata belanja di Pratunam dan sekitarnya.

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Bangkok Part 2 : Wisata Terik Matahari

Cerita ini merupakan lanjutan Bangkok part 1.

Hari pertama. Oke, ini adalah hari yang padat untuk memulai jalan-jalan di Bangkok, tapi sebelum memulainya mari kita menikmati sarapan gratis di lobi hotel. Gw dan mbak Lenny, teman satu kamar pun segera menuju lobi.

Menu sarapan yang disajikan pun beragam. Dari roti bakar, nasi goreng, bubur dengan campuran daging babi, salad dan lainnya. Mengingat jadwal hari ini sangat padat, gw pun memilih nasi goreng dan roti gandum bakar yang diolesi selai jeruk. Untuk makanan penutupnya jus semangka, pepaya dan tomat cherry. Hmmm.. Lezat dan sehat. Saking takutnya kelaparan dalam perjalanan, gw sampai membungkus roti bakar lhoo hehehe.

image

image

Selesai makan, kami pun keluar lobi karena mendengar informasi bus wisata akan segera tiba. Tapi.. Semua itu bohong saudara-saudara. Bus wisatanya masih jauh jaraknya dari hotel, ya.. Sambil menunggu, kami pun kembali berfoto ria 😉

image

Sekitar pukul 8, bus pun tiba. Busnya keren lhoo.. Bertingkat 2 dan masih terawat. Pokoknya nyaman deh. Masing-masing peserta diberikan air mineral botolan dan handuk basah kemasan. Awalnya gw kira tissue basah ternyata handuk basah he he.. Handuk basah ini berguna untuk menyegarkan muka yang nantinya pasti akan tersengat sinar matahari. Oya, cuaca Bangkok gak jauh beda dengan Jakarta, panaaass.

image

image

Wisata kali ini ada pemandu wisatanya. Pemandu wisata resmi bukan sopir yang merangkap jadi pemandu wisata. Pemandu wisata kami namanya Sam. Sebut saja namanya begitu, karena nama Thailandnya panjang banget dan susah diucapkan. Sepanjang perjalanan, Sam menceritakan sejarah Bangkok. Dari ceritanya, Bangkok ternyata mempunyai nama yang sangaaatt panjaaangg, namun akhirnya dipilihlah Bangkok. Sam juga menceritakan gedung-gedung yang kami lewati.

Destinasi pertama kami adalah Grand Palace atau istana raja Thailand. Istana raja ini dibuka setiap hari dari pukul 08.30 – 15.30. Untuk bisa masuk ke dalam area Grand Palace, kalian harus mengeluarkan 500 thb. Oiya, jangan lupa ada aturan berpakaian di sini. Para pengunjung harus berpakaian yang sopan. Para pria diwajibkan memakai celana panjang dan kemeja. Tidak boleh berpakaian minim dan menerawang. Dan kalau bisa sih bawa payung atau topi lebar karena panasnya luar biasa (di luar gerbang banyak penjual topi kok).

image

image

image

image
image

Istana raja ini mewah banget dan menyilaukan mata (hampir semuanya terbuat dari emas). Sedikit informasi saja, istana raja ini dibangun sejak tahun 1782 di area seluas 218.400 meter persegi. Raja Thailand yang sekarang sih kata Sam gak tinggal di Grand Palace (ya lah, kalau rajanya tinggal di sini, gak mungkin juga pengunjung dibolehin masuk). Saat gw berkunjung ke Grand Palace, kebetulan ramai pengunjung. Seperti bisa kalau udah ramai dan sesak bawaannya bad mood mau keliling juga malas. So gw cuma foto-foto bentaran aja (fotonya juga gak maksimal karena penuhnya pengunjung) terus selonjoran di pinggiran taman.

Gw dan rombongan sih gak lama di Grand Palace. Tujuan kami berikutnya adalah Wat Arun. Kami pun segera menuju dermaga, ada banyak dermaga di sini dan sempat salah masuk dermaga juga tuh. Gw gak begitu ngerti sih harus naik kapal di dermaga yang mana, kalo gak salah sih untuk menuju Wat Arun harus naik kapal di dermaga Tha Tien. Karena Sam cuma bilang wrong pier, follow me. “OK Sam!”. Selintas sih gw lihat, harga untuk naik kapal sekitar 3 thb. Hati-hati ya berjalan di sini, karena licin dan sempit.

Gw dan rombongan terus berjalan mengikuti Sam, lumayan jauh juga untuk menuju dermaga yang benar. Dalam perjalanan menuju dermaga, kami masih sempat lihat-lihat barang yang dijual di pinggir jalan.. Ya cuci mata dikitlah. Sekitar 10 menit, kami pun tiba di dermaga dan segera naik ke kapal kecil menuju Wat Arun. Selama menyeberangi Sungai Chao Phraya, mata gw di bikin merem melek karena hembusan lembut sang angin :).

image

Di Wat Arun ini kalian bisa foto dengan berpakaian traditional Thailand. Gw juga gak sempat naik ke atas candi, alasannya katro banget gara-gara gw melihat ada pengunjung yang turunnya kudu duduk.. Sumpah nyali gw ciut padahal gw gak takut ketinggian tapi gw gak suka tangga yang curam. Well.. Untungnya para perempuan juga tidak tertarik untuk naik ke atas candi. Kami lebih mengikuti naluri belanja kami hehehe. Masih di area Wat Arun, ada pasar kecil yang menjual oleh- oleh khas Thailand. Harganya cukup murah. Tas bermotifkan khas Thailand cuma dibanderol 100 thb. Pajangan meja berkisar 100 – 200 thb. Gw sempat kaget juga pas belanja di sini lantaran si mbak penjualnya bisa bicara bahasa Indonesia! Mungkin karena banyak turis asal Indonesia ke sini. Yang lebih mengherankan mereka menerima rupiah lho, tapi harga jualnya jadi sedikit mahal.

image

image

image

Setelah para pria turun dari candi, kami pun melanjutkan perjalanan ke Pasar Cathucak. Nah, di sini juga surganya para shopper nih karena Pasar Cathucak merupakan pasar termurah dan terbesar di Thailand. Pasar Cathucak ini banyak lorong atau seksinya. Untuk informasi bisa didapatkan di kantor informasi pasar. Untuk mengelilingi pasar ini gak bakal cukup waktu satu hari. Yang jelas sih siap-siap kaki pegal saja sehabis mengitari komplek pasar. Sekedar tips kalau memang niat belanja, jangan lupa bawa travel bag beroda, jadi gak perlu repot menenteng banyak kantong plastik.

Barang-barang di sini murah meriah mencret deh pokoknya. Tau gak sih, gw beli dasi cuma dibanderol 10thb, warnanya bagus dan jahitannya juga rapi. Beli dua buat ndut ah. Terus sarung bantal, temp at tisu rata-rata dibanderol 80-100 thb. Suvenir juga murah, dompet koin ukuran kecil dengan gambar gajah, isi 4 hanya seharga 100 thb. Yang bikin gw menyesal adalah gw gak beli jam dinding antik bermotif bunga yang hanya dijual seharga 500 thb (kalau ada teman yang mau ke Bangkok, bakal nitip deh gw).

Semuanya serba ada deh. Dua lembar kain khas Thailand dengan panjang 2 meter cuma dijual 150 thb. Yang kurang itu adalah mushollanya, letaknya di pojokan, kecil (sekitar 2,7×2,7 meter) dan langsung menyatu dengan tempat wudhu.

Karena waktu sudah semakin sore, gw dan rombongan pun kembali ke hotel. Sambil menunggu bus wisata datang, gw menyempatkan diri untuk membeli cemilan. Pilihannya jatuh ke.. Tahu gejrot ala Thailand 🙂 .. Kalau soal rasa sih masih lebih enak tahu gejrot di Jakarta.
image

image

Berikutnya : Wisata Malam di daerah area Pratunam

Posted from WordPress for Android

Pulang Kantor Langsung Ke Bangkok Part 1

Akhirnya outing yang sudah lama dinantikan tiba juga. Tujuan outing tahun ini adalah kota di negeri siam, yaitu Bangkok. Tanggal keberangkatannya pas banget di hari gajian, cihuy kan. Outing kali ini ada dress code nya, semua peserta harus memakai baju warna merah. Hoho.. Warna favorit gw itu, gak cuma baju yang berwarna merah, koper gw pun berwarna merah :). Oiya, outing kali ini kami tidak memakai jasa travel. Jadi benar-benar murni hasil kerja kerasnya EO pribadi alias karyawan di unit gw sendiri.

Sekitar pukul 2 siang, gw dan kawan satu unit pun segera meninggalkan kantor. Perjalanan menuju Bandara Soekarno Hatta cuma memakan waktu gak sampai satu jam. Karena jam keberangkatan pesawat masih 2 jam lagi sekitar pukul 16.45 wib, kami menyempatkan diri untuk makan, foto-foto di lounge dan melaksanakan ibadah terlebih dahulu. Penerbangan kali ini masih menggunakan Air Asia, secara harganya murah boow.
image

Perjalanan menuju Bangkok sekitar 3 jam 20 menit. Lumayan lama. Karena gw kebagian tempat duduk dengan orang yang tidak gw kenal, jadi gw memilih untuk tidur he he he..

Gw dan rombongan tiba di Bandara Don Mueang sekitar pukul 20.30. Kalau menurut informasi pramugari pesawat yang gw naiki, tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Bangkok. Setelah melalui proses imigrasi, gw dan rombongan segera menuju tempat penginapan, De Bangkok Hotel.

image

Perjalanan menuju Hotel sekitar 20 menit. Kesan pertama terhadap hotel tempat gw menginap adalah kumuh. Kumuh karena bangunan sekitarnya sudah berumur dan tampak tidak terawat, ditambah masuk gang, well.. bukan gang senggol tapi gang yang bisa masuk 1 mobil. Namun, kesan kumuh itu segera hilang saat gw tiba di lobi hotel. Interior di lobi hotel ini sederhana dan klasik, dan gw suka patung tiga kucing yang ada di lantai lobi. Staffnya juga ramah. Dan yang jelas bagi yang hobi belanja, hotel ini sangat dekat dengan pasar Pratunam, Platinum Mall, Panthip Mall, Paladium Mall, dan pasar malam.

Sambil nunggu panitia check in, gw sempatkan foto-foto dong (tetep narsis). Sepuluh menit kemudian, check in pun selesai dan tibalah saatnya pembagian kamar. Awalnya sih gw dapat kamar di lantai 4 tapi karena satu hal akhirnya ditukar ke kamar di lantai 3. Kamar yang gw tempati juga oke, ada dua tempat tidur single, ada bath up, lemari, kulkas mini, pembuat kopi, televisi, pengering rambut dan ada balkonnya. Cukup baguslah untuk kelas bintang 3, apalagi harganya miring :). Kami diberi waktu sepuluh menit untuk meletakkan koper, setelah itu rombongan akan menuju restoran untuk makan malam. Akhirnya… makan juga setelah kelaparan di pesawat :).

Restoran pilihan kami tentunya yang menyajikan makanan halal, karena mayoritas rombongan adalah muslim. Restoran yang ditunjukkan oleh sopir taksi yang biasa mangkal di hotel adalah Restoran Kuang, restoran yang menyajikan makanan laut. Letaknya sekitar 500 meter dari hotel. Sepanjang perjalanan menuju Restoran Kuang, mata gw terbiasa dengan pemandangan motor dan mobil yang diparkir di trotoar (gak jauh berbeda dengan Jakarta), tempat pijat refleksi.

Oke, setelah berjalan sejauh 500 meter, kami pun sampai di Restoran Kuang. Restorannya biasa aja, kecil tapi bertingkat 2. Di depan Restoran, hewan-hewan laut yang menjadi menu di sini dipajang, masih hidup!. Tempat yang kami pilih, di lantai 2. Sang pelayan pun segera memberikan buku menu kepada kami. Sempat bingung juga saat memilih karena semuanya tampak lezaaatt :). Akhirnya menu yang dipilih adalah Tom Yam (pastinya!), Green Curry, Fried Calamary, Telor Dadar (seperti makan di rumah hehe) dan tumis phak coy. Untuk minumnya hampir semua rombongan memilih air putih kecuali gw. Gw lebih milih jus semangka seharga 80 thb ketimbang air putih seharga 25 thb. Alasannya sederhana, air putih banyak disediakan di hotel, lagipula harganya cukup mahal untuk seukuran air putih. Oiya pelayan di sini ramah banget, dan yang jelas she speak English! Jadi gak banyak keluar bahasa tubuh juga.

image

image

image

Kelar makan, kami gak langsung balik ke hotel, tapi jalan-jalan dulu ke sekeliling restoran dan mencoba mesin ATM lokal. Sekadar informasi, lebih baik sih tukar uang di Indonesia, karena kalau ambil uang di mesin ATM lokal dikenakan biaya tambahan 150 thb (mayan kan?). Rate tukarnya sih memang bagus, sama dengan rate tukar di BI, tapi biaya tambahannya itu lhoo.. Gak lucu kan kalo cuma ambil 500 thb tapi dikenakan biaya tambahan 150 thb.

Oiya, seven eleven menjamur banget di Bangkok, tapi sevel di sini gak menyediakan bangku dan meja buat nongkrong tuh. Dan ukurannya pun mini banget, gak kayak sevel di Jakarta, tapi barang-barangnya tetap komplit. Kelar belanja di sevel, rombongan kembali kembali ke hotel untuk beristirahat karena keesokan harinya jadwal padat telah menanti.

Cerita berikutnya tentang seharian keliling kota Bangkok.

Posted from WordPress for Android