Akhirnya outing yang sudah lama dinantikan tiba juga. Tujuan outing tahun ini adalah kota di negeri siam, yaitu Bangkok. Tanggal keberangkatannya pas banget di hari gajian, cihuy kan. Outing kali ini ada dress code nya, semua peserta harus memakai baju warna merah. Hoho.. Warna favorit gw itu, gak cuma baju yang berwarna merah, koper gw pun berwarna merah :). Oiya, outing kali ini kami tidak memakai jasa travel. Jadi benar-benar murni hasil kerja kerasnya EO pribadi alias karyawan di unit gw sendiri.

Sekitar pukul 2 siang, gw dan kawan satu unit pun segera meninggalkan kantor. Perjalanan menuju Bandara Soekarno Hatta cuma memakan waktu gak sampai satu jam. Karena jam keberangkatan pesawat masih 2 jam lagi sekitar pukul 16.45 wib, kami menyempatkan diri untuk makan, foto-foto di lounge dan melaksanakan ibadah terlebih dahulu. Penerbangan kali ini masih menggunakan Air Asia, secara harganya murah boow.
image

Perjalanan menuju Bangkok sekitar 3 jam 20 menit. Lumayan lama. Karena gw kebagian tempat duduk dengan orang yang tidak gw kenal, jadi gw memilih untuk tidur he he he..

Gw dan rombongan tiba di Bandara Don Mueang sekitar pukul 20.30. Kalau menurut informasi pramugari pesawat yang gw naiki, tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Bangkok. Setelah melalui proses imigrasi, gw dan rombongan segera menuju tempat penginapan, De Bangkok Hotel.

image

Perjalanan menuju Hotel sekitar 20 menit. Kesan pertama terhadap hotel tempat gw menginap adalah kumuh. Kumuh karena bangunan sekitarnya sudah berumur dan tampak tidak terawat, ditambah masuk gang, well.. bukan gang senggol tapi gang yang bisa masuk 1 mobil. Namun, kesan kumuh itu segera hilang saat gw tiba di lobi hotel. Interior di lobi hotel ini sederhana dan klasik, dan gw suka patung tiga kucing yang ada di lantai lobi. Staffnya juga ramah. Dan yang jelas bagi yang hobi belanja, hotel ini sangat dekat dengan pasar Pratunam, Platinum Mall, Panthip Mall, Paladium Mall, dan pasar malam.

Sambil nunggu panitia check in, gw sempatkan foto-foto dong (tetep narsis). Sepuluh menit kemudian, check in pun selesai dan tibalah saatnya pembagian kamar. Awalnya sih gw dapat kamar di lantai 4 tapi karena satu hal akhirnya ditukar ke kamar di lantai 3. Kamar yang gw tempati juga oke, ada dua tempat tidur single, ada bath up, lemari, kulkas mini, pembuat kopi, televisi, pengering rambut dan ada balkonnya. Cukup baguslah untuk kelas bintang 3, apalagi harganya miring :). Kami diberi waktu sepuluh menit untuk meletakkan koper, setelah itu rombongan akan menuju restoran untuk makan malam. Akhirnya… makan juga setelah kelaparan di pesawat :).

Restoran pilihan kami tentunya yang menyajikan makanan halal, karena mayoritas rombongan adalah muslim. Restoran yang ditunjukkan oleh sopir taksi yang biasa mangkal di hotel adalah Restoran Kuang, restoran yang menyajikan makanan laut. Letaknya sekitar 500 meter dari hotel. Sepanjang perjalanan menuju Restoran Kuang, mata gw terbiasa dengan pemandangan motor dan mobil yang diparkir di trotoar (gak jauh berbeda dengan Jakarta), tempat pijat refleksi.

Oke, setelah berjalan sejauh 500 meter, kami pun sampai di Restoran Kuang. Restorannya biasa aja, kecil tapi bertingkat 2. Di depan Restoran, hewan-hewan laut yang menjadi menu di sini dipajang, masih hidup!. Tempat yang kami pilih, di lantai 2. Sang pelayan pun segera memberikan buku menu kepada kami. Sempat bingung juga saat memilih karena semuanya tampak lezaaatt :). Akhirnya menu yang dipilih adalah Tom Yam (pastinya!), Green Curry, Fried Calamary, Telor Dadar (seperti makan di rumah hehe) dan tumis phak coy. Untuk minumnya hampir semua rombongan memilih air putih kecuali gw. Gw lebih milih jus semangka seharga 80 thb ketimbang air putih seharga 25 thb. Alasannya sederhana, air putih banyak disediakan di hotel, lagipula harganya cukup mahal untuk seukuran air putih. Oiya pelayan di sini ramah banget, dan yang jelas she speak English! Jadi gak banyak keluar bahasa tubuh juga.

image

image

image

Kelar makan, kami gak langsung balik ke hotel, tapi jalan-jalan dulu ke sekeliling restoran dan mencoba mesin ATM lokal. Sekadar informasi, lebih baik sih tukar uang di Indonesia, karena kalau ambil uang di mesin ATM lokal dikenakan biaya tambahan 150 thb (mayan kan?). Rate tukarnya sih memang bagus, sama dengan rate tukar di BI, tapi biaya tambahannya itu lhoo.. Gak lucu kan kalo cuma ambil 500 thb tapi dikenakan biaya tambahan 150 thb.

Oiya, seven eleven menjamur banget di Bangkok, tapi sevel di sini gak menyediakan bangku dan meja buat nongkrong tuh. Dan ukurannya pun mini banget, gak kayak sevel di Jakarta, tapi barang-barangnya tetap komplit. Kelar belanja di sevel, rombongan kembali kembali ke hotel untuk beristirahat karena keesokan harinya jadwal padat telah menanti.

Cerita berikutnya tentang seharian keliling kota Bangkok.

Posted from WordPress for Android

Advertisements