Archive for December, 2013

Bali : Bulan Madu Yang Tak Terlupakan

Umumnya pengantin berbulan madu setelah pernikahan dilangsungkan, tapi berhubung gw dan suami super sibuk eaaa, jadi bulan madunya baru bisa dilakukan setelah 1 tahun pernikahan. Kali ini, kami sudah meniatkan untuk pergi ke Bali. Setelah satu tahun tertunda, akhirnya terbang juga ke Bali, yippiiiee.. Plus dapat tiket promo Air Asia, sempurna.
image

Pesawat kami berangkat pukul 19.30 Wib. Sempat delay sekitar 40 menit. Alhamdulillah, perjalanannya mulus. Hanya saja lumayan lama ya nunggunya, hmm..

Kami tiba di Bandara Ngurah Rai sekitar pukul 23.30 wita. Kami menuju hotel dengan menggunakan taksi resmi bandara yang tanpa argo. Tarif yang dikenakan Rp 65.000,-. Dua kali lipat kalau menggunakan argo. Karena memang sudah terlalu larut malam, kami pun setuju.

Sekitar 10 menit, sudah sampai di Bakung Sari Resort and Spa, penginapan kami. Waw.. Kirain jauh dari bandara. Tarif segitu sih masih lebih mahal dari tarif taksi blue bird dari kantor ke rumah (udah pakai macet lagi). Taksi tanpa argo itu menyesakkan dada.

Hotel yang kami pilih ini, desain luarnya mirip pura. Artistik banget. Sewaktu check in pun kami diberikan welcome drink, sirup rasa jeruk. Segar, tapi lebih bagus lagi kalau diberikan bajigur atau teh jahe, secara cuaca dingin sehabis hujan.

Staf hotel benar-benar ramah termasuk ke turis lokal. Kami dapat kamar yang pemandangannya menghadap ke taman. Saat kamar dibuka, waahh, gw cuma bayar 260 ribu rupiah per malam tapi dapat kamar seluas ini sudah termasuk sarapan pagi lagi.

image

15 Desember 2013

Selamat hari pernikahan sayang.. Gak terasa sudah setahun kita bersama, berbagi kasih, suka dan duka. Semoga kebersamaan ini langgeng sampai maut memisahkan (serius).

image

Di hari yang bahagia ini, gw dan ndut akan berkeliling Bali seharian. Sebelumnya kami sempatkan untuk sarapan dulu.
Sekadar informasi, hotel kami ini dekat dengan pantai Kuta dan ada kolam renangnya juga.

Sekitar jam 8.30 sopir dan mobil sewaan pun tiba. Kami merental mobil ini murah banget 400 ribu per 12 jam. Harga yang sangat jarang ditemui di Bali. Tujuan pertama kami adalah Desa Batu Bulan. Di sana kami menonton pertunjukan Tari Barong. Untuk masuk ke dalam, perorangnya dikenai tarif Rp 100.000,-. Harga segitu sih imbang dengan pertunjukan yang disuguhkan selama 1 jam. Lucu dan Mengagumkan!

image

Setelah itu kami meluncur ke pembuatan perak di desa Celuk. Sesampai di sana, ternyata kami tidak dibawa ke tempat pembuatannya, tapi langsung ke toko. Melihat harga yang mahal gw jadi tidak tertarik. Perhiasannya bagus-bagus sih, tapi mehong :).

Melihat kekecewaan kami, sang sopir, Bli Gusdu pun membawa kami ke kebun kopi Negari yang terletak di Gianyar. Sepintas sih tempatnya terkesan kecil. Parkirnya pun cuma muat 4 mobil. Kesan kecil dan sumpeknya pun berubah, karena di halaman belakang sangat luaaaaass. Pemandu wisata mengatakan kebun kopi ini dibuka sejak 2 tahun lalu. Rumah-rumah yang ada di depan adalah rumah pemilik kebun kopi ini. Rumahnya seperti rumah joglo, banyan bagian-bagiannya. Yang menarik itu, adalah pajangan berbentuk trenggiling. Gw kira itu patung, ternyata sudah mati dan diawetkan.

image

Kebun kopi ini sih lebih pantas disebut rimba kecil, karena ada berbagai macam binatang yang dipelihara di sini. Di sini gw bisa lihat luwak yang lagi bobo pulas, kera putih kecil, dan… Oh my God.. Ada ayaaaam.. Sumpah, wisata pun jadi menegangkan gini. Gw beraniin diri untuk meneruskan wisata. Tapiii.. Gw gak sanggup gara-gara melihat ada burung berwarna hitam kelam di seberang gw. Sekali lihat gw kira patung, dua kali lihat, eh kok matanya bergerak membalas tatapan gw. Gw lihat lagi ke tiga kalinya, daann benar burung itu hidup. Jadilah, gw langsung merengek ke pemandu wisatanya untuk membatalkan wisata dan kembali ke pintu depan. Cemen banget ya hihihi. Pemandu wisata meminta gw untuk meneruskan tur, tapi langsung ke tempat pembuatan kopi dan mencoba tester kopi. Oke deh, selama gak bertemu unggas lagi aja.

Eng ing eng, gw pun sampai di tempat pembuatan kopi. Yang membuat kopi ini seorang ibu tua, hebat! Proses pembuatan kopi ini ternyata memakan waktu yang lama. Mulai dari penjemuran, direbus, disanggrai terus ditumbuk sampai halus. Gak heran harganya mahal, 100 gram kopi Bali dibanderol Rp 60.000,-, kopi luwak lebih mahal lagi.

image

image

Yang menyenangkan itu adalah, suguhan pisang goreng dengan taburan gula aren, ditemani ragam varian tester minuman. Enak banget pisangnya! Kopi Balinya juga.

image

Puas mencicipi tester minuman dan pisang goreng, gw pun menuju ke bagian utara Bali, Istana Tampaksiring dan Kintamani.

Bali Utara ini cuacanya lebih sejuk, bahkan cenderung dingin, dan hujan terus, mirip dengan kawasan Puncak, Bogor. Sesampai di Tampaksiring, hujan tak kunjung reda, dan akhirnya kita batalkan niat untuk turun ke bawah. Rencana ke Kintamani pun turut dibatalkan karena cuaca yang tidak cerah. Padahal udah berencana makan siang di Danau Batur tuh.

Mobil pun berputar arah menuju Ubud, Bli Gusdu sempat menawarkan ke Monkey Forest, tapi gw menolak, karena gw takut dicakar monyet. Jadi, di Ubud ini, kami hanya berkeliling dan makan siang di Warung Bu Mina. Gw pikir kayak warteg gitu eh ternyata restoran hihihi. Tempatnya keren, ada saung untuk lesehan. Restoran yang kerap dikunjungi itu kata si Bli sih restoran Tepi Sawah yang menu wajibnya bebek. Bagi penyuka menu bebek, wajib datang ke sini.

image

Perut sudah kenyang, mari kita lanjutkan perjalanan. Tujuan berikutnya adalah pusat oleh-oleh Khrisna. Sepanjang perjalanan, hujan setia menemani kami. Sebenarnya tujuan gw itu adalah Pasar Seni Sukowati, tapi kayaknya belakangan para sopir ataupun pemandu wisata lebih suka mengantarkan kami ke Khrisna. Entah apa alasannya, tapi berhubung hujan, gw setuju aja sih. Di Khrisna, tersedia lengkap semua jenis oleh-oleh, harganya murah meriah.

Puas berbelanja, kami menuju Pantai Sanur, itennary benar-benar di luar rencana awal. Sebetulnya Sanur lebih indah bila dikunjungi di pagi hari, saat matahari baru memunculkan sinarnya. Tapi ya sudahlah, karena sudah kehabisan ide mau kemana ditambah langit yang tidak cerah, kami pun menghabiskan waktu di Sanur. Walaupun hujan belum turun, langit di Sanur sudah gelap. Sanur di sore hari sangat ramai dengan penduduk lokal yang mandi di sana, dan anjing-anjing peliharaan. Kami berkeliling sebentar, foto-foto di depan Hotel Malibunya Sanur (kata si Bli Gusdu sih), dan tentunya pantai Sanurnya. Hujan pun kembali turun, gw dan ndut setengah berlari menuju mobil.

Benar-benar mati ide, harus kemana lagi sementara di luar sana hujan terus dan waktu sewa mobil masih tersisa 2,5 jam lagi. Si Bli kasihan melihat turisnya gak bisa kemana-mana, akhirnya dia membawa kami berkeliling Legian dan Kuta. Hari semakin gelap, hasrat untuk meneruskan sudah lenyap, jadi kami memutuskan balik ke hotel dan istirahat.

Well, istirahatnya hanya sebentar sih, begitu perut lapar, gw dan ndut pun keluar membeli makan malam. Kita makan di seberang hotel, menunya ayam bakar dan pecel lele, gak jauh-jauh deh :). Kelar makan, tiba-tiba muncul ide iseng, jalan-jalan ke pantai Kuta. Seharusnya sih kalau lewat jalan pintas, pantai dekat banget sama hotel, tapi karena sudah malam dan pencahayaan di jalan kurang terang, kami menempuh jarak yang cukup jauh dan tidak familiar. Berjalan kesana kemari, dan kami pun mengaku bahwa kami kesasar. Capek muter-muter, kami pun memutuskan untuk naik kendaraan. Pilihan pertama jatuh ke delman, kayaknya romantis keliling pantai pakai delman, tapi tarifnya yang mahal membuat gw mengurungkan niat. Di seberang jalan, kebetulan ada taksi yang lagi ngetem. Sopir taksinya makan nyaranin ke Jimbaran, duh udah jam 10 malam begini masih keluyuran ke tempat yang jauh dari hotel. Si sopir setuju mengantarkan keliling Kuta tapi dengan bayaran 50 ribu rupiah, dia tidak mau menghidupkan argonya. Lagi? Taksi tanpa argo? Bali sangat menyenangkan kecuali taksi tanpa argonya itu. Meski demikian, kehidupan malam di Kuta sangat semarak.

Kami kembali ke hotel sekitar pukul 00.00 Wita. Badan benar-benar terasa lelah, saatnya istirahat, karena besok pagi harus mengejar pesawat pagi ke Jakarta.

16 Desember 2013

Pesawat kami berangkat jam 09.30, tapi kami baru berangkat jam 08.30 karena bangun kesiangan. Dan benar saja, sampai di bandara kami ketinggalan pesawat hihihi… Ini pengalaman pertama gw ditinggal pesawat, kalau nyaris sih sering. Akhirnya kami membayar denda dan menunda keberangkatan ke Jakarta hingga pukul 12.00, daripada gak bisa pulang. Tahu gitu sih mending sengaja aja berangkat telat biar bisa ke destinasi yang belum sempat dikunjungi 🙂
Oya, untuk sampai ke bandara kami memesan Bali Taksi lewat telepon, dan tentunya taksi dengan argo. Cukup mencengangkan karena ternyata tarif dari hotel ke bandara gak sampai 30 ribu rupiah. Hanya saja kami harus membayar sesuai nilai pembayaran minimum. Gak masalah, selama masih pakai argo.

Walau Bulan madunya ditemani hujan dan beberapa rencana terpaksa dibatalkan, bulan madu ini tetap menjadi yang gak terlupakan karena dijalani bareng nduut :*

Lain waktu kami akan kembali pada musim panas supaya bisa mandi cahaya mataharinya Bali 🙂

Posted from WordPress for Android

Belanja oleh-oleh di area Pratunam

Bagi kebanyakan perempuan, belanja dalam waktu terbatas itu sangat tidak menyenangkan. Kalaupun tidak belanja, setidaknya cuci mata dalam waktu singkat pun juga tidak memuaskan. Sama juga dengan diri gw,  karena hanya berkeliling sebentar di area sekitar Pratunam dan Platinum Mall padat malam harinya, keesokannya, Minggu, 27 Oktober 2013, gw dan rombongan pun kembali menuju area Pratunam.

Kami mendapatkan informasi kalau Pratunam buka sekitar jam 9 pagi. Setelah sarapan kami pun kembali berjalan kaki menuju Pratunam. Jarak 1 km tidak terasa karena kami banyak mampir ke toko-toko sepanjang jalan menuju area Pratunam :). Sesampainya di Pratunam, ternyata toko-toko belum banyak yang buka. Usut punya usut, ternyata, kalau di hari Minggu memang para pemilik toko lebih banyak yang memilih untuk beribadah.

Selain Chatuchak, Pratunam bisa menjadi alternatif untuk belanja oleh-oleh, harganya juga lebih miring. Beda 50 thb lumayan kan? Yang penting bisa nawar. Di Pratunam, gw cuma beli pajangan meja dan kain khas Thailand.

Karena hanya sedikit toko yang buka, kami pun menyeberang ke Platinum Mall. Nah di sini, gw nemuin dress lucu warna pastel. Si pemilik toko sih awalnya memberikan harga 250 thb. Gak tahu kenapa, pas mau bayar eh malah dikasih diskon. “For you 200 thb,” katanya. Waaahhh kwab khun kap. Di mall ini, banyak dress manis yang dijual. Harga paling mahal pun 300 thb, itu pun masih bisa ditawar 🙂

Puas keliling, gw dan rombongan pun menuju ke lantai atas untuk makan siang. Seperti biasa food court sudah ramai. Karena kali ini kami punya banyak waktu, kami memutuskan untuk tidak makan junk food lagi. Cukup! :). Bagi turis muslim, ada satu tempat makan yang memiliki stiker halal di kaca display makanannya. Makanan yang dijual pun lumayan enak. Ada nasi kuning dengan ayam goreng, sop ikan dan mie goreng. Membayar makanan di food court ini harus pakai voucher. Jadi kalian harus menukarkan uang di counter khusus.

Oiya, masih di lantai atas, ada toko makanan yang letaknya di pojok, di sana kalian bisa membeli teh tarik merk N****a, rasanya enak banget, cuma dibanderol 90 thb. Di Indonesia gak ada yang jual merk tersebut (nyesel cuma beli 1 pack).

Buat yang pengen beli gadget bisa ke Pantip Mall, yang letaknya bersebelahan dengan Platinum Mall.

http://berrybenka.go2cloud.org/SHDI

Posted from WordPress for Android