Archive for April, 2014

Cari Kerja Kok Disuruh Bayar ?

Ini tulisan yang telat dimunculkan. Baru keingetan gara-gara ada email kompetisi menulis pengalaman mencari kerja dari salah satu situs pencari kerja.

Pengalaman mencari kerja yang aneh pernah saya alami sekitar akhir Januari lalu. Suatu hari ada dua orang yang mengaku bagian personalia menghubungi saya lewat sms. Mereka mengabarkan panggilan kerja. Saya yang kebetulan baru mengundurkan diri dari salah satu bank asing ternama tentu saja kaget. Kok bisa ada panggilan kerja sementara saya tidak melamar. Ketika saya tanya, hanya dijawab saya pernah melamar beberapa waktu sebelumnya. Saya berpikir keras, sepengetahuan saya tidak pernah.

Berbekal rasa ingin tahu yang tinggi, saya menyetujui undangan salah seorang dari mereka, saya pun datang ke kantor tersebut. Alangkah terkejutnya saya saat tiba di sana, lokasi hanya di sebuah ruko di kawasan Jakarta Timur.  Firasat saya tidak enak, tapi saya tetap naik ke lantai  atas dan mencari tahu. Pengap yang saya rasakan, banyak peserta yang sedang diwawancarai. Hati kecil saya berkata, bukan ini yang saya cari. Saya pun urung memberikan dokumen lamaran kepada resepsionis. Saya bergegas turun.

Setiba di luar gedung, saya dihampiri seorang peserta pria, dia tiba-tiba menyerocos “Mau kerja kok diminta bayar Rp 150.000,- , saya kerja ya buat dapatin uang bukan sebaliknya. Katanya kerja buat perusahaan A mana.. lokasi aja kayak gini. Mbak ditawari jadi apa tadi,” Saya baru sadar ternyata dia berbicara kepada saya. Saya hanya bisa menjawab “Gak tahu, saya gak minat, cv saya bawa pulang lagi,”. “Mbak dapat info darimana kantor ini,?” Tanyanya lagi. “Dari sms, saya sih merasa tidak pernah kirim lamaran, makanya dari awal sudah merasa aneh,”. Pria tersebut manggut-manggut sambil berkata “Hati-hati aja sekarang mbak kalo mau cari kerjaan,”. Saya mengangguk dan meninggalkan kantor tersebut. 
 
Peristiwa yang saya alami jadi pelajaran berharga untuk tidak mempercayai begitu saja panggilan kerja. Terutama bila merasa tidak pernah mengirimkan lamaran dan hanya menerima panggilan kerja lewat sms. Selain itu Saya juga lebih berhati-hati saat memilih perusahaan yang akan saya lamar. Lebih baik cari lamaran yang mencantumkan dengan jelas nama perusahaannya. Bukannya sombong, tapi si pengirim sms itu kok ya gak liat dulu latar belakang saya, beruntung saya tidak memperpanjang perkara ini.
 
Catatan : Maaf, saya tidak hapal nama perusahaan yang mengirimkan sms itu, karena smsnya sudah saya hapus.
 
Sent from my LG Mobile

Advertisements

Kembali ke Bogor

Yeiiy.. Setelah 1 tahun lebih lamanya, akhirnya saya kembali ke Bogor walau hanya beberapa hari. Tujuannya berlibur, mengunjungi si teteh walo batal karena sibuk liputan, juga menghadiri resepsi pernikahan. Terakhir bepergian ke Bogor itu awal 2013.

Kali ini saya ke Bogor masih bersama pasangan saya tercinta, nduutt :). Kami tidak lagi bersepeda motor ria ke kota hujan ini. Kapok, pantat tepos sehabis liburan hiks, jadi kami memilih naik commuter line dari stasiun pasar minggu. Sudah lama tidak naik kereta api membuat saya kagok. Sistem pembelian tiketnya beda banget, bukan lagi kertas kecil yang nantinya dibolongi petugas saat di dalam kereta.

Tiketnya sih ada dua kertas dan yang berbentuk keras seperti e ktp. Harganya Rp 8000,-. Tadinya saya sempat berpikir kok jadi mahal ya, eh ternyata lima ribu rupiahnya (tiket yang berbentuk seperti e ktp) bisa diuangkan di stasiun tujuan bila hanya bepergian sekali dalam satu hari. Jadi, saya ke Bogor hanya membayar tiga ribu rupiah saja. Murahnyaaa. Commuterline yang saya tumpangi tidak begitu penuh baru bisa duduk di stasiun citayam, yah lumayan daripada berdiri terus. Alat penyejuk ruangannya juga masih bagus kondisinya, mungkin karena tidak terlalu sesak di dalam.

Perjalanan ke Bogor memakan waktu sekitar 45 menit. Setiba di stasiun Bogor, saya kembali kagok. Ternyata pintu keluarnya pun sudah pindah hehehe, makanya sering-sering main ke Bogor biar gak kagok. Pintu keluar menuju angkot berada persis di seberang KFC. Stasiun Bogor benar-benar membuat saya terpukau. Luar biasa perubahannya. Jauh lebih bersih. Saking bersihnya saya tidak lagi menjumpai pengamen dan loper koran langganan saya 4 tahun silam.

image

Begitu keluar dari stasiun, saya dan ndut berjalan menuju jembatan merah. Tujuannya apalagi kalau bukan makan doclang 405 yang enak dan terkenal itu. Harganya murah meriah, cuma Rp 20.000,- itu pun sudah dengan menambah dua telor rebus dan dua gelas teh tawar hangat. Dulu waktu masih liputan di Bogor, jembatan merah ini tempat favorit saya untuk jajan, karena kebetulan memang searah dengan tempat kost.

image

image

Perut kami sudah kenyang oleh doclang saatnya menuju mesjid terdekat karena sudah waktunya beribadah. Kami kembali jalan menuju area pemkot Bogor. Kalo di Bogor sih gak perlu naik angkot selama jaraknya dekat.

Mesjid pemkot Bogor juga banyak mengalami perubahan. Di mesjid ini pula ketemu sama si kang Bima Arya, walikota Bogor yang baru. Orangnya ramah ternyata gak nolak waktu diminta foto bersama.

image

image

Kelar beribadah, kami berdua jalan menuju gerbang pemkot. Bukannya langsung menuju hotel eh malah nyangkut di luar pagar istana bogor 🙂 . Kami mau menyapa dan memberi makan gerombolan rusa dulu ah. Cukup dengan membeli seikat kangkung dan beberapa buah wortel seharga dua ribu rupiah, para rusa pun bisa diberi makan.

image

Kami tidak berlama-lama memberi makan rusa karena langit mulai menangis tersedu-sedu alias gerimis. Buru-buru kami menyeberang dan naik ke angkot hijau bernomor 03 (walo sempat selfie di depan gedung pemkot sih, bentar aja).

image

Benar aja kan, baru sampai di lapangan sempur, hujan mulai deras, kebayang deh kuyup menuju hotel karena lupa bawa payung. Oiya, ongkos angkot hijau udah naik sekarang, bukan dua ribu lagi.

Begitu sampai di depan botani square, hujan belum berhenti juga, mau gak mau nerobos sampai akhirnya ketemu ojek payung. Kami menginap di Hotel Fave By Aston. Lokasinya strategis banget, dekat dengan tol, terminal, stasiun, mall dan tempat makan. Kami menginap tanpa layanan sarapan di hotel. Kalau di Bogor saya tidak butuh sarapan hotel. Belagu dikit karena dah kenal medan hehe. Di luar banyak yang jual sarapan, tinggal pilih aja. Mau di sekitar hotel atau ngangkot sebentar demi kuliner sarapan hehe.

Kelar check in, kami langsung menuju kamar yang berada di lantai 3. Kamarnya unyu banget, tapi sayangny fasilitas kamar hotel ini tidak selengkap hotel bintang tiga di Bangkok atau Vietnam. Tidak ada hair dryer, kulkas dan pembuat kopi dan teh. Kadang saya juga heran, level bintang sama, tipe kamar sama, apa yang membuat hotel di Bangkok bisa lebih lengkap fasilitasnya ya? Belum sempat nanya juga sih waktu ke Bangkok kemarin.

Cukup segini dulu ya, nanti disambung lagi