Archive for October, 2014

Melihat Jakarta Dari Puncak Monas

Ini kali keduanya saya dan ndut tercinta berwisata kenangan jaman Sekolah Dasar dulu. Tujuan kita adalah Tugu Monas yang terletak di jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Pas sekali dengan diadakannya kegiatan car free day tiap hari minggu. Olahraga sambil wisata lokal. Sebenarnya sih direncanakan pergi ke Monas itu pas hari kerja tapi bentrok dengan demo di depan gedung DPRD DKI Jakarta. Untung saya punya feeling dan langsung membatalkan rencana itu.

Jadi, kami mulai wisata ini dengan berjalan kaki dari bundaran HI menuju Monas dengan waktu tempuh sekitar 60 menit. Lama ya? Iyalah secara jalanan MH Thamrin padat di saat car free day. Tiba di Monas pun masih sesak dengan orang-orang karena juga ada acara fun walk. Kami pun berjalan di tepi-tepi dagangan PKL.

image

Lama gak berkunjung ke Monas itu aneh ya rasanya apalagi di tengah lautan manusia dan barang dagangan. Malah sempat nanya juga dimana pintu masuk ke puncak Monasnya.

Setelah berjalan jauh dan memutar, kami pun tiba di depan terowongan yang akan membawa kami ke loket tugu Monas. Eng ing eng, ternyata pintu terowongannya belum buka :). Ya sudah, sambil menunggu gak ada salahnya selonjoran di depan pintu terowongan sambil foto-foto. Ndut yang tiba-tiba haus ngotot ingin membeli teh yang dikemas di botol plastik. Saya sih sudah melarang karena harganya lebih mahal lagipula sudah ada air mineral di tas, tapi tetap dibeli dan baru nyesal kan pas tahu harganya lebih mahal.

image

Kembali ke cerita, kami pikir antrian ke Monas sepi lho tapi ternyata sudah banyak warga yang desak-desakan. Animonya besar juga ya, salut. Tepat jam 8, pintu terowongan pun dibuka. Kami berdua pun langsung menuju loket tanpa berebut ya. Orang cakep biasa ngantri kan.

Harga tiket masuknya termasuk murah. Cuma bayar Rp 15.000,- per orang sudah bisa masuk ke puncak dan cawan Monas. Sebagai tanda masuk kita disuruh pakai gelang plastik yang warna warni (tergantung jam berkunjung) tapi gak bisa dibawa pulang 😦 . Begitu sampai di antrian lift menuju Puncak Monas, petugasnya mengambil kembali gelang tersebut.

Liftnya kecil banget (kayaknya sih cuma bisa nampung maksimal 8 orang) sudah termasuk petugas yang siap mencet tombol ke puncak Monas. Tombol angka 3 pun menyala tandanya kita sudah sampai di puncak monas. Puncak Monas tidak begitu luas. Bayangan saya sebelum sampai tuh, puncaknya sepi karena pengunjung digilir tapi ini malah ramai betul. Mau pakai alat pengeker pun musti antri belum lagi anak-anak kecil yang kepengennya duluan tanpa mau repot antri :D. Di Puncak ini ada 4 teropong yang diletakkan di masing-masing sudut. Dari puncak, saya bisa lihat mesjid istiqlal, kereta yang lagi berhenti di stasiun gambir, gedung-gedung pencakar langit dan lain lain (mau tahu lebih banyak, ya coba datang aja ke sini 🙂 ). Gedung-gedung, kendaraan rasanya kecil banget dilihat dari sini, seperti miniatur 🙂 . Kalau mau lebih fokus bisa memasukkan koin tapi masalahnya itu koin beli dimana ya? Mau nanya tapi gak ada petugas di Puncaknya, mungkin nanti tanya di loket saat kunjungan berikutnya. Terus terang gak begitu menarik pemandangan Jakarta hari itu, atau mungkin karena hari itu birunya langit Jakarta gak kelihatan ya. Gw berasa lihat kabut dimana-mana. Kabut atau polusi itu ya?

Puas ngeker Jakarta dari puncak Monas, kami pun turun ke cawan Monas di lantai 2, tadinya mau lanjut ke ruang proklamasi tapi malas banget kalau harus naik tangga sementara perut masih kosong.

Setelah dari cawan kami pun turun ke lantai 1, di sini kita bisa melihat dan belajar tentang sejarah negara kita melalui diorama (jendela peragaan), ada diorama mengenai kemerdekaan, pemilu pertama, konferensi yang diikuti RI dll. Kalau melihat diorama ini ingatan saya jadi kembali ke 22 tahun silam. Setelah wisata ke Monas ini, kami harus mencatat semua detail karena pasti akan ditanya oleh guru dan disuruh buat essay :). Di lobi ini juga terasa ‘penuh’. Kenapa? Karena pengunjung banyak yang tiduran di lobi ini, memang sih adem tapi kan sudah ada larangannya untuk tidak tiduran di lobi dan tidak boleh makan serta buang sampah sembarangan. Kalau berwisata tetap patuhi aturanlah.

Oiya, di Monas ini ada juga kereta wisata yang siap mengantar keliling Monas hanya dengan menunjukkan karcis masuk Monas, eh tapi kemarin kok saya gak lihat ada petugas atau supirnya ya? Atau mungkin lagi libur saat saya berkunjung?

Sekian dulu ceritanya, wisata kenangan berikutnya Monumen Lubang Buaya, yippee.

Notes : foto-fotonya susah diupload di blog, lbh banyak upload ke Instagram.

(Angkot Hijau)

Advertisements

TMII : Mengulang Wisata Jaman Pakai Rok Merah

Jakarta mungkin lebih dikenal sebagai kota metropolitan yang berlimpah dengan pusat perbelanjaan, kemacetan yang bikin grrr, banjir dan stigma negatif lainnya. Padahal dibalik semua itu kota yang super sibuk ini memiliki destinasi wisata sejarah yang layak dikunjungi.

Selama ini, kalau ingin berwisata lokal Saya biasanya hanya menuju ke Kota Tua, tapi kali ini berbeda. Saya ingin mengulang kembali momen saat berkaryawisata di jaman masih memakai rok pendek warna merah alias jaman SD. Waktu itu, sekolah saya mengajak murid-muridnya berkaryawisata ke Taman Mini Indonesia Indah, Ragunan, Monas, Lubang Buaya, dan beberapa museum termasuk museum Fatahilah di kawasan Kota Tua (tapi penampakannya belum seperti sekarang). Saya yang masih awam dengan Jakarta (baru pindah ke Jakarta sewaktu kelas 4 SD cawu ke 2 sekitar tahun 1991) tentu saja antusias. Akhirnya keinginan untuk jalan-jalan keliling Jakarta tercapai walau harus bersama teman-teman sekolah lantaran Papa saya super sibuk dengan liputannya.

Nah, baru-baru ini terlintas kembali untuk melakukan perjalanan yang sama. Saya memulainya dari Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Perjalanannya masih bersama suami tercinta si ndut yang sudah mulai sedikit langsing :). Kami mengendarai motor ke TMII dengan alasan lebih praktis. Harga tiket masuknya masih terjangkau Rp 10.000,-/ orang dan Rp 6000,-/ motor. Jadi total yang kami bayar Rp 26.000,-. Kami masuk dari pintu masuk 3 dari arah Ceger. Kalo dari Ceger sih bisa naik angkot merah bernomor 02.

image

Tiket masuk TMII

Setelah membayar karcis, kami pun mulai berkeliling. Tadinya sih ingin berjalan kaki mengelilingi TMII biar lebih terasa gitu mengelilingi Indonesianya :), tapi karena cuaca panas akhirnya kami tetap naik motor. TMII juga menyewakan sepeda untuk berkeliling, ada juga kereta wisata dan mobil keliling, tinggal dipilih saja, untuk harga sewa bisa lihat di situs resminya. Sekilas info tentang TMII, penggagasnya adalah Almarhumah Ibu Tien Soeharto. Beliau ingin ada tempat wisata dimana semua provinsi di Indonesia bisa disatukan dalam bentuk mini, nah karena gagasan itulah akhirnya TMII dibangun pada tahun 1972 dan resmi dibuka pada tahun 1975 (dari berbagai sumber). Di sini tidak hanya ada anjungan, tapi juga ada museum dan wahana rekreasi.

image

Yuk, mari kita berkeliling TMII. Kami memulainya dengan anjungan. Anjungan pertama yang kami kunjungi Anjungan Bengkulu, anjungan yang lebih dekat dari pintu masuk 3. Di anjungan ini turut dipajang foto Presiden pertama RI, Ir. Soekarno. Kami sempat foto sebentar di sini. Setelah itu kami ke Anjungan Sumatera Selatan. Di anjungan ini kami hanya mampir sebentar, hanya sampai pintu masuk lalu keluar lagi karena terus terang ruangannya gelap jadi agak malas berkeliling. Saya merengek ke ndut untuk buru-buru keluar anjungan. Tidak jauh dari sana bisa dilihat Anjungan Riau, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Karena letaknya berdekatan, motor diparkirkan di bawah rel monorail. Semula kami ingin mencoba naik monorail, sayangnya lagi rusak karena cuaca buruk. Yasudahlah, cukup parkir motor saja dan mari kita ke Anjungan Sumatera Barat, kampung halaman yeess!.

Anjungan Sumbar sedang dalam perbaikan di area mushollanya. Pengunjungnya ramai di Anjungan ini, banyak bule dan anak-anak sekolah. Ruangannya juga terang, penuh cahaya matahari. Kami sempat mengobrol dengan petugas anjungan ini, Ibu Anna, perempuan yang pensiunan PNS ini masih diminta untuk menjadi petugas di Anjungan Sumbar karena kepiawaiannya berbahasa asing dan pengetahuannya terkait budaya Sumbar. Lama mengobrol, saya baru tahu ternyata Ibu Anna ini, ibunda dari perempuan yang menjadi model di uang lima ribu, namanya Natasha. Kami sempat bicara soal anaknya juga yang sekarang tinggal di Amerika Serikat.

Saya sempat bilang ke Ibu Anna, kenapa anjungan Sumbar kelihatan lebih menarik (bukan karena saya berasal dari sana juga sih). Kalo menurut Ibu Anna, karena rumah gadang warnanya meriah, mudah terlihat oleh mata, selain itu semua rumah adat di area anjungan Sumbar selalu dibuka pintu dan jendelanya agar cahaya matahari masuk, jadi tidak ada kesan gelap. Ucapan beliau ada benarnya, selain itu memang anjungan Sumbar letaknya sangat strategis dan petugasnya ramah dan enak diajak ngobrol.

Ada sekitar satu jam kami mengobrol dengan Ibu Anna, obrolan kami terhenti karena akan ada shooting film dokumenter. Kami pun melanjutkan perjalanan ke Anjungan Riau. Sayangnya kami tidak masuk ke rumah adatnya karena pintunya belum dibuka, setelah itu kami lanjut ke anjungan Sumatera Utara dan makan siang di sana.

Perut sudah diisi, mari kita lanjut berkeliling. Kami memang tidak memasuki anjungan satu persatu karena keterbatasan waktu juga. Kami sempat mencoba naik kereta gantung TMII. Harga tiketnya Rp 30.000,- per orang. Dari dalam kereta gantung ini kita serasa terbang di atas semua kepulauan. Pemandangannya menarik juga, mengantarkan kenangan di jaman kecil dulu :). Bagi yang takut ketinggian lebih baik ajak teman ya.

Lima menit bersenang-senang menikmati pemandangan dari kereta gantung cukuplah ya. Sebelum meninggalkan parkiran, kami mampir dulu di anjungan Papua. Sempat berfoto juga di rumah adatnya. Kalau melihat toko suvenirnya jadi ingat dulu papa sempat beli oleh-oleh pajangan dinding berupa panah dan tifa (kemana ya kedua benda itu sekarang?).

Puas berfoto di anjungan Papua kami pun memutuskan untuk duduk-duduk santai di taman yang menghadap kepulauan dan danau buatan yang terletak persis di seberang anjungan Bali. Sejuk juga ya udaranya, kalo masih pagi mungkin bisa ketiduran di sini :).

Hari pun semakin sore, kami harus segera pulang karena kebetulan kami berkunjung di hari kerja. Kami tidak ingin terjebak kemacetan karena berbarengan dengan jam pulang kantor. Sebelum pulang mampir dulu untuk berfoto di anjungan Bali. Sayang banget gak bisa mampir ke museum-museum yang juga ada di kawasan TMII dan nonton teater di keong mas. Lain kali kita berkunjung lagi ke sini ya, setidaknya kenangan jaman SD bisa diulang walau hanya beberapa jam.

Nb : tujuan berikutnya Puncak Monas