Jakarta mungkin lebih dikenal sebagai kota metropolitan yang berlimpah dengan pusat perbelanjaan, kemacetan yang bikin grrr, banjir dan stigma negatif lainnya. Padahal dibalik semua itu kota yang super sibuk ini memiliki destinasi wisata sejarah yang layak dikunjungi.

Selama ini, kalau ingin berwisata lokal Saya biasanya hanya menuju ke Kota Tua, tapi kali ini berbeda. Saya ingin mengulang kembali momen saat berkaryawisata di jaman masih memakai rok pendek warna merah alias jaman SD. Waktu itu, sekolah saya mengajak murid-muridnya berkaryawisata ke Taman Mini Indonesia Indah, Ragunan, Monas, Lubang Buaya, dan beberapa museum termasuk museum Fatahilah di kawasan Kota Tua (tapi penampakannya belum seperti sekarang). Saya yang masih awam dengan Jakarta (baru pindah ke Jakarta sewaktu kelas 4 SD cawu ke 2 sekitar tahun 1991) tentu saja antusias. Akhirnya keinginan untuk jalan-jalan keliling Jakarta tercapai walau harus bersama teman-teman sekolah lantaran Papa saya super sibuk dengan liputannya.

Nah, baru-baru ini terlintas kembali untuk melakukan perjalanan yang sama. Saya memulainya dari Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Perjalanannya masih bersama suami tercinta si ndut yang sudah mulai sedikit langsing :). Kami mengendarai motor ke TMII dengan alasan lebih praktis. Harga tiket masuknya masih terjangkau Rp 10.000,-/ orang dan Rp 6000,-/ motor. Jadi total yang kami bayar Rp 26.000,-. Kami masuk dari pintu masuk 3 dari arah Ceger. Kalo dari Ceger sih bisa naik angkot merah bernomor 02.

image

Tiket masuk TMII

Setelah membayar karcis, kami pun mulai berkeliling. Tadinya sih ingin berjalan kaki mengelilingi TMII biar lebih terasa gitu mengelilingi Indonesianya :), tapi karena cuaca panas akhirnya kami tetap naik motor. TMII juga menyewakan sepeda untuk berkeliling, ada juga kereta wisata dan mobil keliling, tinggal dipilih saja, untuk harga sewa bisa lihat di situs resminya. Sekilas info tentang TMII, penggagasnya adalah Almarhumah Ibu Tien Soeharto. Beliau ingin ada tempat wisata dimana semua provinsi di Indonesia bisa disatukan dalam bentuk mini, nah karena gagasan itulah akhirnya TMII dibangun pada tahun 1972 dan resmi dibuka pada tahun 1975 (dari berbagai sumber). Di sini tidak hanya ada anjungan, tapi juga ada museum dan wahana rekreasi.

image

Yuk, mari kita berkeliling TMII. Kami memulainya dengan anjungan. Anjungan pertama yang kami kunjungi Anjungan Bengkulu, anjungan yang lebih dekat dari pintu masuk 3. Di anjungan ini turut dipajang foto Presiden pertama RI, Ir. Soekarno. Kami sempat foto sebentar di sini. Setelah itu kami ke Anjungan Sumatera Selatan. Di anjungan ini kami hanya mampir sebentar, hanya sampai pintu masuk lalu keluar lagi karena terus terang ruangannya gelap jadi agak malas berkeliling. Saya merengek ke ndut untuk buru-buru keluar anjungan. Tidak jauh dari sana bisa dilihat Anjungan Riau, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Karena letaknya berdekatan, motor diparkirkan di bawah rel monorail. Semula kami ingin mencoba naik monorail, sayangnya lagi rusak karena cuaca buruk. Yasudahlah, cukup parkir motor saja dan mari kita ke Anjungan Sumatera Barat, kampung halaman yeess!.

Anjungan Sumbar sedang dalam perbaikan di area mushollanya. Pengunjungnya ramai di Anjungan ini, banyak bule dan anak-anak sekolah. Ruangannya juga terang, penuh cahaya matahari. Kami sempat mengobrol dengan petugas anjungan ini, Ibu Anna, perempuan yang pensiunan PNS ini masih diminta untuk menjadi petugas di Anjungan Sumbar karena kepiawaiannya berbahasa asing dan pengetahuannya terkait budaya Sumbar. Lama mengobrol, saya baru tahu ternyata Ibu Anna ini, ibunda dari perempuan yang menjadi model di uang lima ribu, namanya Natasha. Kami sempat bicara soal anaknya juga yang sekarang tinggal di Amerika Serikat.

Saya sempat bilang ke Ibu Anna, kenapa anjungan Sumbar kelihatan lebih menarik (bukan karena saya berasal dari sana juga sih). Kalo menurut Ibu Anna, karena rumah gadang warnanya meriah, mudah terlihat oleh mata, selain itu semua rumah adat di area anjungan Sumbar selalu dibuka pintu dan jendelanya agar cahaya matahari masuk, jadi tidak ada kesan gelap. Ucapan beliau ada benarnya, selain itu memang anjungan Sumbar letaknya sangat strategis dan petugasnya ramah dan enak diajak ngobrol.

Ada sekitar satu jam kami mengobrol dengan Ibu Anna, obrolan kami terhenti karena akan ada shooting film dokumenter. Kami pun melanjutkan perjalanan ke Anjungan Riau. Sayangnya kami tidak masuk ke rumah adatnya karena pintunya belum dibuka, setelah itu kami lanjut ke anjungan Sumatera Utara dan makan siang di sana.

Perut sudah diisi, mari kita lanjut berkeliling. Kami memang tidak memasuki anjungan satu persatu karena keterbatasan waktu juga. Kami sempat mencoba naik kereta gantung TMII. Harga tiketnya Rp 30.000,- per orang. Dari dalam kereta gantung ini kita serasa terbang di atas semua kepulauan. Pemandangannya menarik juga, mengantarkan kenangan di jaman kecil dulu :). Bagi yang takut ketinggian lebih baik ajak teman ya.

Lima menit bersenang-senang menikmati pemandangan dari kereta gantung cukuplah ya. Sebelum meninggalkan parkiran, kami mampir dulu di anjungan Papua. Sempat berfoto juga di rumah adatnya. Kalau melihat toko suvenirnya jadi ingat dulu papa sempat beli oleh-oleh pajangan dinding berupa panah dan tifa (kemana ya kedua benda itu sekarang?).

Puas berfoto di anjungan Papua kami pun memutuskan untuk duduk-duduk santai di taman yang menghadap kepulauan dan danau buatan yang terletak persis di seberang anjungan Bali. Sejuk juga ya udaranya, kalo masih pagi mungkin bisa ketiduran di sini :).

Hari pun semakin sore, kami harus segera pulang karena kebetulan kami berkunjung di hari kerja. Kami tidak ingin terjebak kemacetan karena berbarengan dengan jam pulang kantor. Sebelum pulang mampir dulu untuk berfoto di anjungan Bali. Sayang banget gak bisa mampir ke museum-museum yang juga ada di kawasan TMII dan nonton teater di keong mas. Lain kali kita berkunjung lagi ke sini ya, setidaknya kenangan jaman SD bisa diulang walau hanya beberapa jam.

Nb : tujuan berikutnya Puncak Monas

Advertisements