Ini kali keduanya saya dan ndut tercinta berwisata kenangan jaman Sekolah Dasar dulu. Tujuan kita adalah Tugu Monas yang terletak di jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Pas sekali dengan diadakannya kegiatan car free day tiap hari minggu. Olahraga sambil wisata lokal. Sebenarnya sih direncanakan pergi ke Monas itu pas hari kerja tapi bentrok dengan demo di depan gedung DPRD DKI Jakarta. Untung saya punya feeling dan langsung membatalkan rencana itu.

Jadi, kami mulai wisata ini dengan berjalan kaki dari bundaran HI menuju Monas dengan waktu tempuh sekitar 60 menit. Lama ya? Iyalah secara jalanan MH Thamrin padat di saat car free day. Tiba di Monas pun masih sesak dengan orang-orang karena juga ada acara fun walk. Kami pun berjalan di tepi-tepi dagangan PKL.

image

Lama gak berkunjung ke Monas itu aneh ya rasanya apalagi di tengah lautan manusia dan barang dagangan. Malah sempat nanya juga dimana pintu masuk ke puncak Monasnya.

Setelah berjalan jauh dan memutar, kami pun tiba di depan terowongan yang akan membawa kami ke loket tugu Monas. Eng ing eng, ternyata pintu terowongannya belum buka :). Ya sudah, sambil menunggu gak ada salahnya selonjoran di depan pintu terowongan sambil foto-foto. Ndut yang tiba-tiba haus ngotot ingin membeli teh yang dikemas di botol plastik. Saya sih sudah melarang karena harganya lebih mahal lagipula sudah ada air mineral di tas, tapi tetap dibeli dan baru nyesal kan pas tahu harganya lebih mahal.

image

Kembali ke cerita, kami pikir antrian ke Monas sepi lho tapi ternyata sudah banyak warga yang desak-desakan. Animonya besar juga ya, salut. Tepat jam 8, pintu terowongan pun dibuka. Kami berdua pun langsung menuju loket tanpa berebut ya. Orang cakep biasa ngantri kan.

Harga tiket masuknya termasuk murah. Cuma bayar Rp 15.000,- per orang sudah bisa masuk ke puncak dan cawan Monas. Sebagai tanda masuk kita disuruh pakai gelang plastik yang warna warni (tergantung jam berkunjung) tapi gak bisa dibawa pulang 😦 . Begitu sampai di antrian lift menuju Puncak Monas, petugasnya mengambil kembali gelang tersebut.

Liftnya kecil banget (kayaknya sih cuma bisa nampung maksimal 8 orang) sudah termasuk petugas yang siap mencet tombol ke puncak Monas. Tombol angka 3 pun menyala tandanya kita sudah sampai di puncak monas. Puncak Monas tidak begitu luas. Bayangan saya sebelum sampai tuh, puncaknya sepi karena pengunjung digilir tapi ini malah ramai betul. Mau pakai alat pengeker pun musti antri belum lagi anak-anak kecil yang kepengennya duluan tanpa mau repot antri :D. Di Puncak ini ada 4 teropong yang diletakkan di masing-masing sudut. Dari puncak, saya bisa lihat mesjid istiqlal, kereta yang lagi berhenti di stasiun gambir, gedung-gedung pencakar langit dan lain lain (mau tahu lebih banyak, ya coba datang aja ke sini 🙂 ). Gedung-gedung, kendaraan rasanya kecil banget dilihat dari sini, seperti miniatur 🙂 . Kalau mau lebih fokus bisa memasukkan koin tapi masalahnya itu koin beli dimana ya? Mau nanya tapi gak ada petugas di Puncaknya, mungkin nanti tanya di loket saat kunjungan berikutnya. Terus terang gak begitu menarik pemandangan Jakarta hari itu, atau mungkin karena hari itu birunya langit Jakarta gak kelihatan ya. Gw berasa lihat kabut dimana-mana. Kabut atau polusi itu ya?

Puas ngeker Jakarta dari puncak Monas, kami pun turun ke cawan Monas di lantai 2, tadinya mau lanjut ke ruang proklamasi tapi malas banget kalau harus naik tangga sementara perut masih kosong.

Setelah dari cawan kami pun turun ke lantai 1, di sini kita bisa melihat dan belajar tentang sejarah negara kita melalui diorama (jendela peragaan), ada diorama mengenai kemerdekaan, pemilu pertama, konferensi yang diikuti RI dll. Kalau melihat diorama ini ingatan saya jadi kembali ke 22 tahun silam. Setelah wisata ke Monas ini, kami harus mencatat semua detail karena pasti akan ditanya oleh guru dan disuruh buat essay :). Di lobi ini juga terasa ‘penuh’. Kenapa? Karena pengunjung banyak yang tiduran di lobi ini, memang sih adem tapi kan sudah ada larangannya untuk tidak tiduran di lobi dan tidak boleh makan serta buang sampah sembarangan. Kalau berwisata tetap patuhi aturanlah.

Oiya, di Monas ini ada juga kereta wisata yang siap mengantar keliling Monas hanya dengan menunjukkan karcis masuk Monas, eh tapi kemarin kok saya gak lihat ada petugas atau supirnya ya? Atau mungkin lagi libur saat saya berkunjung?

Sekian dulu ceritanya, wisata kenangan berikutnya Monumen Lubang Buaya, yippee.

Notes : foto-fotonya susah diupload di blog, lbh banyak upload ke Instagram.

(Angkot Hijau)

Advertisements