Archive for November, 2014

Day 3 : Blusukan di Malioboro dan sekitarnya

Berlibur hanya dalam waktu 3 hari memang tidak cukup untuk mengeksplor wisata setempat, ya seperti yang saya alami. Apalagi pas tiba hari terakhir liburan, jadi pengen punya mesin waktu supaya bisa mengulang kembali hari pertama liburan.

Hari terakhir berlibur, saya dan suami hanya blusukan ke Malioboro dan sekitarnya. Waktunya membeli oleh-oleh di sepanjang Malioboro, Pasar Beringharjo dan melipir ke toko bakpia dan kaus merk dagadu.

Setelah sarapan, sekitar pukul 7.30 WIB, kami langsung berangkat menyusuri Malioboro. Niatnya sih jalan kaki lagi tapi tiba-tiba disamperin abang becak motor. Si abang betor gak henti-hentinya merayu bahkan ngintilin terus, hingga akhirnya kita luluh juga. Rencana awal cuci mata di sepanjang Malioboro jadi berubah ke Tugu Jogja, Kraton Jogja yang ternyata belum buka karena kami datang kepagian, toko dagadu, toko bakpia 99 dan Pasar Beringharjo.

image

Di Tugu Jogja, kami menyempatkan diri berfoto di sini, di tengah ramainya lalu lalang kendaraan. Gak perlu berlama-lama di sini karena ngeri kesenggol kendaraan juga.

Dari Tugu Jogja kami menuju Kraton Jogja, tapi cuma muterin kompleknya saja karena datang kepagian. Kata abang betor sih kamisnya bakal ada acara gunungan, wah sayangnya kami sudah kembali ke Jakarta jadi gak bisa menyaksikan. Dari Kraton kami menuju toko kaus dagadu dan bakpia 99. Kami melewati kampung kauman, tadinya mau mampir ke langgar KH A. Dahlan tapi urung.

image

Belanja oleh-oleh juga hanya sebentar, semua makanan khas jogja dicemplungin ke keranjang belanja karena bingung mau milihnya. Selesai berbelanja kami meminta abang betor ke Pasar Beringharjo, tadinya sih mau ke Mirota, tapi harga Pasar Beringharjo lebih bersahabat di kantong liburan ala backpacker tapi koperan kayak kami ini.

Si abang betor cukup mengantar sampai Pasar Beringharjo saja, karena takutnya kelamaan menunggu kami belanja. Oya, Si abang betor ini pandai juga bercerita sejarah tempat yang kami kunjungi. Beda sama abang becak yang saya sewa 3 tahun lalu, yang hanya mengantar tanpa bercerita sejarah tempat tersebut. Abang betor ini sempat bercerita soal pohon beringin kembar saat masuk gerbang komplek kraton. Pohon beringin ini diberi nama kiai apa gitu saya lupa. Dia juga bercerita sejarah tugu jogja, kampung kauman, hotel tertua di jogja yakni Hotel Tugu yang jadi cagar budaya dan sedang dalam renovasi. Keren deh pokoknya, ya gak masalah dong kalau saya kasih tips ke dia atas usahanya itu.

Bagi turis yang ingin memborong batik ya di sini tempatnya, Pasar Beringharjo. Batik-batiknya bagus dan murah meriah. Kalau ke sini selalu deh tergoda untuk membeli kain batik. Untung saya bisa mengendalikan nafsu ya, karena teringat kain-kain yang dibeli di Bangkok saja belum dijahit sampai sekarang hihihi. Kalau lapar sehabis belanja bisa makan pecel di depan bangunan Pasar.

Puas berbelanja batik kami pun menyeberang ke arah pedagang kaki lima di sepanjang jalan Malioboro. Masih ada yang mau dibeli? Masih dong, kaus buat para lelaki belum sempat dibeli tuh, ntar pada cemburu lagi. Harga kausnya miring, ada yang Rp 15.000,-, kalau mau yang bahannya lebih berkualitas sedikit beli yang seharga Rp 30.000,- atau kalau mau mahal ya ke toko dagadu πŸ™‚ . Barang yang dijual tidak hanya kaus tapi juga ada blankon, pajangan, tas, sendal dll. Jangan lupa menawar ya untuk mendapatkan harga terbaik dan bersahabat sama kantong. Biasanya si penjual mau kok kasih korting apalagi belanjanya pas mereka baru buka lapak. Penglaris.. penglaris.. kata mereka sambil menepuk dagangan mereka dengan uang.

Advertisements

Ngetrip pakai Trans Jogja

Satu hal yang harus dipikirkan saat berwisata ya soal kendaraan. Sebelum berangkat ke Jogja, saya sempatkan diri googling kendaraan apa yang enak dipakai ngetrip.

Sewa mobil lebih praktis memang, gak perlu repot mikirin harus turun dan naik apa lagi ke destinasi berikutnya, tapi bagi saya harga sewa mobil bisa dialokasikan ke pembelian oleh-oleh. Lumayanlah apalagi Saya hanya jalan-jalan di dalam kota saja. Pilihan berikutnya ada andong, dan becak. Saya milih naik keduanya apabila memang destinasi hanya bisa dilalui kedua angkutan umum tersebut. Sewa motor juga bisa, tapi kali ini Saya memilih naik Trans Jogja atau Traja. Bus yang mengadaptasi bus Trans Jakarta ini mulai dioperasikan sejak tahun 2008. Kalau tidak salah Traja memiliki 8 rute, 1A, 1B, 2A, 2B, 3A, 3 B, 4A dan 4B.

Saya memulai perjalanan naik Traja ini di rute 1A, yakni dari Halte Bandara Adi Sucipto ke Halte Malioboro. Saya membeli kartu reguler trip supaya bisa dipakai selama 3 hari di Jogja dan ada tarif diskonnya. Hanya dengan membayar Rp 25.000,- saya sudah bisa mengantongi kartu plus saldo Rp 25.000,-. Untuk pengguna kartu reguler trip mendapatkan korting 300 rupiah untuk sekali jalan, jadi hanya dipotong Rp 2700 dari saldo awal. Hemat kan? Beda dengan bus Trans Jakarta yang harus merogoh kocek Rp 40.000,- tapi hanya dapat saldo Rp 20.000,-. Isi ulang saldonya pun murah dimulai dari Rp 15.000,- .

image

Kebetulan setiap naik Trans Jogja, saya selalu kebagian di waktu-waktu sibuknya warga Jogja, tapi tenang saja berada di bus ini gak desak-desakan seperti bus Transjakarta. Waktu tunggunya juga tidak lama. Kekurangannya mungkin ya, jalanan yang kebanyakan satu arah jadi pengalaman saya selama naik Traja memang banyak muter-muternya untuk sampai ke tujuan πŸ˜€ . Traja belum memilik jalur khusus jadi masih berbaur dengan kendaraan lain, tapi 3 hari di Jogja saya jarang kena macet kecuali pas ada demo tapi gak parah macetnya.

image

Mau menuju wisata populer seperti Candi Prambanan, Candi Borobudur atau Pantai Parangtritis bisa juga naik Traja ini.

Β€ Ke Candi Prambanan, ada di rute 1 A. Saya kebetulan naik dari halte Malioboro 1. Bagi yang baru keluar dari bandara Adi Sucipto dan hanya bawa ransel bisa langsung naik di Halte Adi Sucipto, turun di halte Prambanan. Setelah itu bisa jalan kaki sekitar 1 km atau naik andong dan becak.

Β€ Ke Candi Borobudur, bisa juga, hanya saja harus turun di halte terminal Jombor (rute 2A) lalu lanjutkan dengan bis tujuan Borobudur.

Β€ Ke Pantai Parangtritis, berdasarkan informasi yang saya dapatkan, Dari Malioboro naik Traja bisa transit di halte Sugiono menuju halte Giwangan. Selanjutnya bisa naik bus jurusan Parangtritis. Kalau mau akurat mending nanya sama petugas Trajanya ya.

Mau ke tempat kuliner seperti The House of Raminten jg bisa. Sewaktu di sana, Saya naik dari halte Senopati yang terletak di depan Taman Pintar. Petugasnya memberi petunjuk agar saya naik bus Traja rute 2A lalu transit di Halte Kridosono dan lanjut ke rute 3A dan turun di halte portable yang letaknya tidak jauh dari The House Of Raminten. Nah pas pulangnya agak ribet, apalagi udah malam dan hujan pula. Saya berjalan kaki ke jalan raya, ke arah halte Traja (lupa nama haltenya) untuk naik Traja ke arah Malioboro.

Sebelum naik Traja, jangan lupa ya ingat jam operasionalnya mulai dari 5.30 WIB – 21.30 WIB dan yang paling penting banyak bertanya ke petugasnya. Petugasnya baik hati semuanya, mereka gak jutek kalo kita nanya ini itu soal rute. Kalau nanya kenapa Traja datang lama pun dijawabnya sopan banget (waktu itu pas ada demo bbm dan hujan pula, jadi jalanan yang dilewati rute 2A memang padat) udah gitu penjelasannya detail.

Kencan Di The House Of Raminten

Sepulang dari Candi Prambanan niatnya sih berkeliling kota Jogja, tapi badan rasanya lengket karena cuaca panas. Jadi kami balik ke hotel dulu untuk membersihkan diri dan sholat, setelah itu baru jalan-jalan lagi. Ya namanya juga manusia hanya bisa berencana, apa daya hujan turun lagi, yang πŸ™‚

Saya baru bisa keluar hotel sekitar pukul 5 sore. Karena sudah malam dan buta daerah Jogja, jadinya ya jalan-jalan aja sepanjang Malioboro hingga ke nol kilometernya Jogja, mengabadikan foto di sana, duduk-duduk di bangku yang sudah tersedia di sana sampai maghrib tiba sambil lihat burung walet beterbangan dan lalu lalang kendaraan juga warga yang asyik bercengkerama. Romantis juga hahaha. Mau masuk benteng Vredeburg, kraton dan Taman Sari juga sudah kesorean.

Satu jam duduk-duduk di area nol kilometer, kami pun lanjut berjalan ke arah Taman Pintar dan menemukan Halte Traja. Akhirnya keliling naik bus Traja lagi dari halte Senopati depan Taman Pintar. Hari juga semakin malam, sekalian saja deh cari makan dan tempat kencan, ihiiiy. Tiba-tiba kepikiran The House Of Raminten di Kotabaru karena tadi siang memang pengen ke sana tapi gak kesampaian. Kami naik Traja di rute 2A lalu transit di Halte Kridosono ke rute 3A. Menurut informasi kondekturnya sih bisa turun di halte portable yang tidak jauh dari The House Of Raminten. Lokasinya bersebelahan dengan Mirota Bakery.

image

Bersyukur banget pas tiba di resto ini gak pake ngantri. Begitu tiba langsung duduk lesehan dan pesan makanan. Makanannya murah meriah setidaknya untuk di kelasnya. Sego kucing pakte (pakai telor) lengkap dengan oseng tempe dan sambal teri cuma dibanderol tiga ribu rupiah, mau nambah nasi ya cukup keluarin uang dua ribu rupiah lagi. Sego gudeg telor cuma sepuluh ribuan, sego gudeg komplit cuma 18.000,- harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan lesehan dekat hotel kami. Harga minuman juga murah meriah belum lagi ada minuman yang dituang di gelas yang segede gaban hehe, bisa untuk minum bertiga. Kencan di sana cuma keluar uang tiga puluh ribu rupiah. Sudah termasuk dua gelas minuman nambah makanan dan kerupuk. Kalau makan di sini jangan malu bertanya soal porsi makanan ya, porsinya untuk satu orang atau rame-rame.

image

Kencan kami di The House of Raminten diiringi musik gamelan dan lampu temaram, kalau gak ingat jam operasionalnya Traja mah betah urang di dieu πŸ˜€

Day 2 : Yogyakarta, Wisata Candi

Tepat pukul 7.00 pagi, Saya dan suami bergegas turun ke restoran Waroeng Kopi untuk menyantap sarapan pagi gratis yang sudah termasuk ke dalam harga sewa kamar. Lokasinya masih di area hotel hanya terpisah bangunan saja. Tempatnya mungil hanya ada sekitar 8 kelompok meja. Jadi untuk tamu yang tidak kebagian tempat duduk bisa menikmati sarapan di lobi hotel. Sarapan yang disediakan juga menu sederhana, nasi goreng, salad dan bakwan goreng. Minumannya ada air putih, sirup rasa jeruk, teh dan kopi. Walau sederhana tapi tetap bisa bikin kenyang kok.

image

Satu jam setelah menyantap sarapan, kami pun kembali berkeliling Jogja. Itinerary nya sih sudah dibuat tapi kayaknya banyak yang melenceng πŸ˜€ . Wisata kali ini inginnya sih wisata candi, kuliner dan tur dalam kota. Rencana ke Pantai terpaksa dicoret karena waktu tidak mencukupi.

Kami kembali melangkah ke Halte Malioboro 1. Tur dimulai dari rute 1A, Malioboro – Prambanan (halte terakhir). Karena perjalanan masih lama, kami memilih duduk di bangku belakang sambil mengamati pemandangan sekitar. Tadinya ingin ke Borobudur (rute 2A, turun di Terminal Jombor), tapi batal karena takut terlalu siang pas kembali ke kota, karena Borobudur berada di area Magelang.

Setiba di Halte Prambanan, sesuai dengan informasi yang saya kumpulkan, bisa berjalan menuju Candi Prambanan. Kalau gak mau capek bisa naik becak atau andong. Harganya jangan lupa ditawar.

Tadinya sih saya ingin naik andong tapi ndut lebih tertarik berjalan kaki. Alasannya sekalian olahraga. “Liburan kita sering makan, jadi ya harus sering jalan kaki biar in dan out balance,”. Oke deh boss. Siap.

Bagi yang gak terbiasa jalan sih jangan meniru ya, karena jaraknya lumayan, 1 km lebih. Belum lagi loket pembelian tiket masih masuk ke dalam. Tiket masuk ke Candi Prambanan terbagi 2. Kalau hanya ingin ke Prambanan saja cukup bayar Rp 30.000,- per orang. Kalau mau ambil paket ke Candi Ratu Boko tinggal menambahkan uang Rp 15.000,-. Sudah termasuk shuttle mini bus yang ada setiap 15 menit sekali. Loketnya juga dibedakan. Kami mengambil paket Ratu Boko – Prambanan, karena ya sudah ke sini ya sekalian aja deh. Tur pertama ke Ratu Boko baru ke Prambanan.

Candi Ratu Boko

Candi ini terletak di luar area Prambanan. Kalau tanya jalannya saya kurang hapal, tapi kami melewati desa-desa yang masih banyak sawah, rumah joglo dan jalanan menanjak karena letaknya memang di perbukitan. Jarak tempuh hanya sekitar 10 sampai 15 menit. Setibanya di Perbukitan Boko, kami langsung menuruni anak tangga menuju situs Ratu Boko. Sepanjang selasar disediakan bangku taman untuk duduk-duduk, juga ada gazebo.

Situs Ratus Boko ini dibangun pada abad VII – IX M dengan corak hinduisme dan buddhaisme. Jangan lupa mengabadikan foto dari segala sudut. Buat yang takut kulitnya kebakar matahari karena cuacanya memang lagi panas-panasnya di area ini, jangan lupa oles tabir surya atau pakai payung.

Puas mengabadikan foto, pengunjung yang mau selonjoran atau rebahan bisa ke gazebo sambil minum es kelapa yang dipesan dari warung sekitar candi. Kalau mau berkelas sedikit ya mampir saja ke Resto Boko Sunset (waktu saya datang sih belum buka jadi numpang foto-foto saja). Di sini pemandangannya lebih indah terutama saat matahari terbenam. Ada bunga-bunga berwarna ceria dengan latar belakang gunung merapi dan sawah penduduk setempat. Belum lagi angin semilirnya bisa bikin tidur.

Sebelum terbuai, lebih baik kami turun menuju shuttle bus untuk melanjutkan perjalanan ke Candi Prambanan.

image

Candi Prambanan

Kami tiba di Candi Prambanan tepat pada tengah hari. Candi Prambanan ini merupakan warisan budaya dunia nomor 642. Masih ada reruntuhan di depan area Candi saat Jogja digoyang gempa tahun 2006 ya kalau tidak salah. Ada beberapa candi di Kompleks Candi Prambanan ini, jumlah pastinya bisa digoogling ya, tapi seingat Saya ada Candi Kelir, Candi Angsa, Candi Mandi, Candi Brahma dan Candi Shiwa yang terbesar. Tempatnya gak kalah eksotik untuk mengambil foto. Hanya saja tangganya agak curam jadi musti berhati-hati karena sewaktu saya ke sana ada bule yang terpeleset, untung gak luka. Di area ini juga ada jasa juru foto, Saya sih tidak menyewa jasanya karena kebetulan bawa kamera dan tongsis :D.

Keluar dari Candi Prambanan, pengunjung bisa melanjutkan ke Candi Sewu. Bisa dengan berjalan kaki ataupun naik kereta wisata yang sudah disediakan. Bayar atau tidaknya tanyakan ke petugasnya ya. Saya tadinya ingin ke Candi Sewu tapi urung lantaran jarum jam sudah menunjukkan pukul 13.30. Waktunya kembali ke kota. Di luar komplek candi ini juga ada yang berjualan suvenir dan oleh-oleh. Kalau mau beli gantungan kunci mending beli di sini karena harganya cuma seribu rupiah per item. Saya hanya beli intip goreng saja seharga Rp 15.000,- lumayan jauh beda harganya kalau beli di toko oleh-oleh dekat Malioboro. Menuju pintu keluar memang melewati para pedagang jadi sekalian cuci mata.

Pintu keluar candi lumayan jauh tapi teduh kok karena banyak pepohonan. Sesampai di gerbang keluar, para abang becak dan andong mulai menawarkan jasa mereka. Sayangnya harganya kemahalan menurut Saya karena jarak tempuh pulang dari Candi ke Halte Traja Prambanan lebih pendek ketimbang keberangkatan. Belum jauh Saya melangkah eh dipanggil lagi sama pakde Andong, dia setuju dengan harga yang Saya ajukan, sepuluh ribu rupiah. Siapa bilang wisata kudu mahal.
image

Jogja, Aku Kembali – Day 1

Senin pagi di medio November, warga Jakarta seperti biasa mulai berbondong-bondong menuju tempat aktivitas masing-masing. Namun tidak dengan Saya, ini waktunya berlibur. Menuju kota yang jalanannya berbanding terbalik dengan jalanan ibukota ini. Jogja, aku kembali setelah 3 tahun lamanya.

Beruntung jalanan menuju pool Damri Pasar Minggu tidak macet meski harus menunggu 10 menit di pool tersebut.
image

Perjalanan menuju Bandara Soekarno Hatta memakan waktu sekitar 90 menit sudah termasuk macet di sepanjang jalan Pasar Minggu Raya hingga perempatan Pancoran. Penerbangan kali ini masih memakai Air Asia, kebetulan saya sudah membeli tiket promo dari akhir tahun 2013, tiket pulang pergi Jakarta – Jogjakarta cukup bayar Rp 500 ribuan untuk 2 orang. Sangat murah, bahkan lebih murah dari harga tiket bisnis kereta api.

Setibanya di bandara, Saya dan suami langsung menuju konter drop baggage karena saya sudah melakukan check in dan mencetak boarding pass secara online. Lumayan, menghemat waktu antrian. Setelah melakukan drop bagasi, Saya mampir sebentar membeli segelas kopi untuk dibawa ke ruang tunggu. Penerbangan kali ini juga lancar, tidak ada penundaan, tidak ada juga kejadian ketinggalan pesawat seperti liburan tahun sebelumnya. Pesawat kami lepas landas pukul 10.35 dengan waktu tempuh sekitar 1 jam.

Yogyakarta, akhirnya.

Setibanya di bandara Adi Sucipto Jogja, cuacanya cakep banget, cerah, jadi semangat berliburnya. Keluar dari area bandara, bingung juga mau naik apa ke hotel kami yang terletak di area Malioboro. Sebenarnya saya sudah memesan mobil hotel untuk menjemput kami tapi karena penyakit lama yaitu lupa mengkonfirmasi, jadinya ya tidak ada yang menjemput. Mau naik taksi takut kejadian kayak liburan di kota lain, gak pakai argo. Akhirnya sesuai dengan petunjuk di situs wisata jogja, kami pun ngetrip dengan naik Trans Jogja atau Traja di rute 1A. Traja ini mempunyai 3 jenis tiket, single trip, regular trip, dan student reguler trip (penjelasan lebih lanjut dijelaskan di tulisan berikutnya). Siang itu penumpang Traja rute 1A ramai banget, tidak hanya oleh orang yang baru keluar dari bandara tapi juga yang habis berwisata di Candi Prambanan. Meski ramai tapi gak terasa sesak seperti waktu Saya naik bus Trans Jakarta. Masih ada ruang untuk bernafas. Agak lama memang menuju Malioboro dengan Traja ini karena jalurnya satu arah jadi banyak mutar-mutarnya. Belum lagi kedatangan Saya disambut demo mahasiswa hehehe. Gak sampe rusuh sih hanya membuat lalu lintas sedikit tersendat.

Karena rutenya mutar-mutar, Saya jadi ada kesempatan untuk melihat-lihat Jogja dari balik kaca Traja. Jadi tahu kan kalo ada jalan layang juga di sana meski tidak sepanjang dan sebanyak di Jakarta. Jadi tahu nama-nama bangunannya dll. Lagi asyik melihat ke luar kaca Traja tiba-tiba sudah ada pemberitahuan bahwa pemberhentian berikutnya adalah Halte Malioboro 1, mari kita turun dan melipir ke Jalan Dagen.

Saat keluar dari Halte, kami langsung disambut para abang becak kayuh, becak motor dan andong yang menawarkan jasa antar. Maaf ya abang-abang, Saya lagi kepengen jalan kaki, selain sehat jaraknya juga gak begitu jauh πŸ™‚

Kami tiba di hotel 1 jam lebih awal dan tentu saja belum waktunya check in. Mau keliling kok ya malas banget, capek dan lapar, jadi kami memutuskan mampir ke tempat makan yang tidak jauh dari tempat kami menginap. Banyak pilihan tempat makan di sini, tapi saya memilih Lesehan Raos Eco karena makannya lesehan, lumayan bisa selonjoran πŸ™‚

Hujan dan Angkringan

image

Ya namanya juga Saya datang di awal musim hujan, jadi musti terima kenyataan kalau dari sore sampai masuk waktu Isya hujan tidak mau berhenti. Mau pinjam payung ke Hotel sudah keduluan customer yang lain πŸ˜€ . Mungkin memang waktunya untuk beristirahat dulu sebelum mulai menjelajahi kota Jogja.

Seperti yang Saya prediksikan, lepas waktu Isya, hujan pun reda. Hujan reda, kami malah bingung mau kemana πŸ˜€ . Akhirnya sih kami memutuskan ke Angkringan Kopi Jos Lik Man. Seperti biasa para abang becak juga menawarkan jasa antar begitu kami keluar area hotel. Saat saya bilang bisa antar ke Angkringan Lik Man, eh kok malah oper-operan dan kelihatan gak bersemangat. Mereka malah rayu Saya untuk berkeliling dan mampir ke toko oleh-oleh. Duh, masa hari pertama udah beli oleh-oleh yang ada oleh-olehnya keburu saya habiskan sebelum balik ke Jakarta, hiks. Saya pun menolak secara halus dan memutuskan jalan kaki saja ke Angkringan Lik Man. Lumayan jaraknya hampir 1 km, tapi gak terasa karena kami berjalan sambil lihat barang yang dijual di sepanjang Malioboro.

Oiya, rute ke Angkringan Lik Man ini mudah kok, terletak di Jalan Wongsodirjan. Dari Malioboro tinggal berjalan lurus saja ke Stasiun Tugu, setelah itu belok kiri. Kalau naik becak memang musti mutar karena jalannya hanya satu arah, mungkin karena itu ya abang becak yang nawarin jasa ke Saya terlihat tidak begitu semangat. Kalau dari arah Tugu Jogja ya tinggal berjalan lurus, tepat sebelum Stasiun langsung belok kanan. Kalau bingung bisa lihat di google map.

Sekadar berbagi informasi, ada yang menarik di perlintasan kereta Stasiun Tugu. Kalau di Jakarta saya lebih sering menemui palang perlintasan yang biasa. Kalau di sini menggunakan pagar mini yang digeser secara otomatis. Seharusnya sih seperti ini yang benar, karena gak ada yang berani nerobos. Keren nih pemdanya Jogja.

Penanda Angkringan Lik Man ini ada semacam pikulan dari bambu di Angkringannya. Di sana juga penjualnya meracik minuman andalannya kopi joooss. Minuman hangat memang pas banget apalagi hawa Jogja malam itu dingin banget. Kami gak pesan kopi jos sih karena sudah kebanyakan menenggak kafein hari ini. Susu jahe dan jeruk panasnya juga enak dipadanin dengan jadah bakar panas dan sego kucing dengan berbagai gorengan dan sate. Harganya kalo dibandingi dengan Angkringan di Jakarta termasuk murah. Sego kucing 2 bungkus, gorengan 4 buah, varian sate 4 tusuk, jadah bakar 1, susu jahe dan jeruk panas masing-masing 1 gelas cuma dikenakan harga dua puluh ribu saja.

Sepanjang jalan Wongsodirjan ini banyak berderet Angkringan, tapi sepengamatan Saya sih yang paling ramai itu Angkringan Lik Man. Angkringan Lik Man ini buka 24 jam tapi menurut Saya lebih enak makan dan nongkrong pas malam hari karena momennya dapat aja. Kencan di Angkringan seru juga.

Note : Upload foto menyusul karena sinyal tidak stabil