Senin pagi di medio November, warga Jakarta seperti biasa mulai berbondong-bondong menuju tempat aktivitas masing-masing. Namun tidak dengan Saya, ini waktunya berlibur. Menuju kota yang jalanannya berbanding terbalik dengan jalanan ibukota ini. Jogja, aku kembali setelah 3 tahun lamanya.

Beruntung jalanan menuju pool Damri Pasar Minggu tidak macet meski harus menunggu 10 menit di pool tersebut.
image

Perjalanan menuju Bandara Soekarno Hatta memakan waktu sekitar 90 menit sudah termasuk macet di sepanjang jalan Pasar Minggu Raya hingga perempatan Pancoran. Penerbangan kali ini masih memakai Air Asia, kebetulan saya sudah membeli tiket promo dari akhir tahun 2013, tiket pulang pergi Jakarta – Jogjakarta cukup bayar Rp 500 ribuan untuk 2 orang. Sangat murah, bahkan lebih murah dari harga tiket bisnis kereta api.

Setibanya di bandara, Saya dan suami langsung menuju konter drop baggage karena saya sudah melakukan check in dan mencetak boarding pass secara online. Lumayan, menghemat waktu antrian. Setelah melakukan drop bagasi, Saya mampir sebentar membeli segelas kopi untuk dibawa ke ruang tunggu. Penerbangan kali ini juga lancar, tidak ada penundaan, tidak ada juga kejadian ketinggalan pesawat seperti liburan tahun sebelumnya. Pesawat kami lepas landas pukul 10.35 dengan waktu tempuh sekitar 1 jam.

Yogyakarta, akhirnya.

Setibanya di bandara Adi Sucipto Jogja, cuacanya cakep banget, cerah, jadi semangat berliburnya. Keluar dari area bandara, bingung juga mau naik apa ke hotel kami yang terletak di area Malioboro. Sebenarnya saya sudah memesan mobil hotel untuk menjemput kami tapi karena penyakit lama yaitu lupa mengkonfirmasi, jadinya ya tidak ada yang menjemput. Mau naik taksi takut kejadian kayak liburan di kota lain, gak pakai argo. Akhirnya sesuai dengan petunjuk di situs wisata jogja, kami pun ngetrip dengan naik Trans Jogja atau Traja di rute 1A. Traja ini mempunyai 3 jenis tiket, single trip, regular trip, dan student reguler trip (penjelasan lebih lanjut dijelaskan di tulisan berikutnya). Siang itu penumpang Traja rute 1A ramai banget, tidak hanya oleh orang yang baru keluar dari bandara tapi juga yang habis berwisata di Candi Prambanan. Meski ramai tapi gak terasa sesak seperti waktu Saya naik bus Trans Jakarta. Masih ada ruang untuk bernafas. Agak lama memang menuju Malioboro dengan Traja ini karena jalurnya satu arah jadi banyak mutar-mutarnya. Belum lagi kedatangan Saya disambut demo mahasiswa hehehe. Gak sampe rusuh sih hanya membuat lalu lintas sedikit tersendat.

Karena rutenya mutar-mutar, Saya jadi ada kesempatan untuk melihat-lihat Jogja dari balik kaca Traja. Jadi tahu kan kalo ada jalan layang juga di sana meski tidak sepanjang dan sebanyak di Jakarta. Jadi tahu nama-nama bangunannya dll. Lagi asyik melihat ke luar kaca Traja tiba-tiba sudah ada pemberitahuan bahwa pemberhentian berikutnya adalah Halte Malioboro 1, mari kita turun dan melipir ke Jalan Dagen.

Saat keluar dari Halte, kami langsung disambut para abang becak kayuh, becak motor dan andong yang menawarkan jasa antar. Maaf ya abang-abang, Saya lagi kepengen jalan kaki, selain sehat jaraknya juga gak begitu jauh 🙂

Kami tiba di hotel 1 jam lebih awal dan tentu saja belum waktunya check in. Mau keliling kok ya malas banget, capek dan lapar, jadi kami memutuskan mampir ke tempat makan yang tidak jauh dari tempat kami menginap. Banyak pilihan tempat makan di sini, tapi saya memilih Lesehan Raos Eco karena makannya lesehan, lumayan bisa selonjoran 🙂

Hujan dan Angkringan

image

Ya namanya juga Saya datang di awal musim hujan, jadi musti terima kenyataan kalau dari sore sampai masuk waktu Isya hujan tidak mau berhenti. Mau pinjam payung ke Hotel sudah keduluan customer yang lain 😀 . Mungkin memang waktunya untuk beristirahat dulu sebelum mulai menjelajahi kota Jogja.

Seperti yang Saya prediksikan, lepas waktu Isya, hujan pun reda. Hujan reda, kami malah bingung mau kemana 😀 . Akhirnya sih kami memutuskan ke Angkringan Kopi Jos Lik Man. Seperti biasa para abang becak juga menawarkan jasa antar begitu kami keluar area hotel. Saat saya bilang bisa antar ke Angkringan Lik Man, eh kok malah oper-operan dan kelihatan gak bersemangat. Mereka malah rayu Saya untuk berkeliling dan mampir ke toko oleh-oleh. Duh, masa hari pertama udah beli oleh-oleh yang ada oleh-olehnya keburu saya habiskan sebelum balik ke Jakarta, hiks. Saya pun menolak secara halus dan memutuskan jalan kaki saja ke Angkringan Lik Man. Lumayan jaraknya hampir 1 km, tapi gak terasa karena kami berjalan sambil lihat barang yang dijual di sepanjang Malioboro.

Oiya, rute ke Angkringan Lik Man ini mudah kok, terletak di Jalan Wongsodirjan. Dari Malioboro tinggal berjalan lurus saja ke Stasiun Tugu, setelah itu belok kiri. Kalau naik becak memang musti mutar karena jalannya hanya satu arah, mungkin karena itu ya abang becak yang nawarin jasa ke Saya terlihat tidak begitu semangat. Kalau dari arah Tugu Jogja ya tinggal berjalan lurus, tepat sebelum Stasiun langsung belok kanan. Kalau bingung bisa lihat di google map.

Sekadar berbagi informasi, ada yang menarik di perlintasan kereta Stasiun Tugu. Kalau di Jakarta saya lebih sering menemui palang perlintasan yang biasa. Kalau di sini menggunakan pagar mini yang digeser secara otomatis. Seharusnya sih seperti ini yang benar, karena gak ada yang berani nerobos. Keren nih pemdanya Jogja.

Penanda Angkringan Lik Man ini ada semacam pikulan dari bambu di Angkringannya. Di sana juga penjualnya meracik minuman andalannya kopi joooss. Minuman hangat memang pas banget apalagi hawa Jogja malam itu dingin banget. Kami gak pesan kopi jos sih karena sudah kebanyakan menenggak kafein hari ini. Susu jahe dan jeruk panasnya juga enak dipadanin dengan jadah bakar panas dan sego kucing dengan berbagai gorengan dan sate. Harganya kalo dibandingi dengan Angkringan di Jakarta termasuk murah. Sego kucing 2 bungkus, gorengan 4 buah, varian sate 4 tusuk, jadah bakar 1, susu jahe dan jeruk panas masing-masing 1 gelas cuma dikenakan harga dua puluh ribu saja.

Sepanjang jalan Wongsodirjan ini banyak berderet Angkringan, tapi sepengamatan Saya sih yang paling ramai itu Angkringan Lik Man. Angkringan Lik Man ini buka 24 jam tapi menurut Saya lebih enak makan dan nongkrong pas malam hari karena momennya dapat aja. Kencan di Angkringan seru juga.

Note : Upload foto menyusul karena sinyal tidak stabil

Advertisements