Lagi, Saya dikecewakan oleh Alfamart. Masih soal uang recehan, tentunya kali ini saya tidak bisa menganggapnya sebagai hal sepele. Pasalnya ini sudah berkaitan dengan kejujuran.

Kamis pagi, 25 Desember 2014, suami saya membeli lakban di Alfamart Warung Jati Barat. Saya sudah wanti-wanti belanja menggunakan uang pas saja karena Saya sudah sering dikecewakan pihak Alfamart soal uang kembalian. Saya pun memberikan sekantung uang receh yang memang sengaja saya kumpulkan. Dalam kantung tersebut ada 40 buah logam lima ratus rupiah, 20 buah logam dua ratus rupiah, 40 buah logam seratus rupiah dan supaya genap menjadi Rp 30.000,- saya menambahkan 2 logam lima ratus dan 5 logam dua ratus rupiah.

Suami saya pun segera pergi ke Alfamart. Betul saja firasat saya, dia kembali dengan hati jengkel. Suami saya menceritakan setelah dia memberikan sekantung tukaran uang, dia pun membayar lakban di kasir.

Mau tahu apa yang terjadi? Kasir Alfamart bernama Dini (masih kasir yang sama yang pernah saya marahi karena peristiwa yang sama) tidak memberikan uang kembalian kepada suami saya. Saat itu, Suami saya memberikan selembar uang sepuluh ribu rupiah, harga lakban hanya senilai Rp 9900,-. Artinya masih ada kembalian seratus rupiah, tapi kasir menuliskan di struk uang pembayaran Rp 9900,-. Sama saja dia menghapuskan perbuatannya dan seolah-olah Suami saya membayar dengan uang pas. Suami saya tentu saja kesal dan menanyakan uang kembalian yang menjadi haknya sebagai konsumen. Kasir dengan lugu menjawab “kayak gini gak apa-apa?,” . Dia menunjukkan uang logam seratus rupiah yang sudah hitam. “Tidak apa-apa,” jawab suami saya. Kasir pun mengambil dari laci dan tolong dicatat ya uang yang diambil bukan dari kantung plastik yang Suami saya berikan. Berarti, di lacinya ada uang receh. Kenapa musti berbohong? Uang seratus rupiah mungkin sedikit nilainya tapi menjadi hal besar karena menyangkut ketidakjujuran seorang kasir.

Ketidakjujuran pertama : Kasir tidak menuliskan dengan jujur uang pembayaran yang diberikan Suami saya. Seharusnya Rp 10.000,- tapi ditulis Rp 9.900,-.

Ketidakjujuran kedua : Tidak memberikan uang kembalian. Baru memberikan setelah dikomplain. Padahal Suami saya baru saja menukarkan sekantung uang receh ke kasirnya. Selain itu di laci kasir juga sudah ada uang receh, namun dia enggan memberikan hanya karena alasan logam tersebut hitam.

Sudah cukup rasa kecewa Saya kepada Alfamart, kalian mempunyai nama besar tapi sayang dirusak karena kasir yang tidak jujur. Terus terang Saya sendiri sudah malas belanja di Alfamart, hanya saja Suami saya masih memberikan kalian kesempatan sampai akhirnya dia mengalami sendiri. Sudah cukuplah dulu kalian memberikan permen sebagai ganti uang kembalian, jangan kecewakan konsumen terkait uang kembalian. Konsumen berhak menerima uang kembalian, diberikan struk pembelanjaan, setuju atau tidak menyetujui soal donasi yang ditawarkan kasir. Yang paling terpenting jujurlah menuliskan nominal uang pembayaran di struk.

Saya hanya menunggu itikad baik pihak Alfamart untuk serius menanggapi keluhan ini.