Yeiy, hip hip hooray.. Senang banget pas tahu suami mau diajak pulang ke Bukittinggi. Kampung halaman yang kurang lebih sudah 15 tahun tidak ditengok.

Perjalanan dimulai dari Pekanbaru. Kami naik bus travel. Tiketnya sudah dipesan jauh-jauh hari. Ini pertama kalinya bagi Saya. Normalnya waktu tempuh dibutuhkan sekitar 6 jam. Namun, karena kami berangkat masih dalam suasana lebaran, jadi molor 4 jam. Yes, pantat tepos, pinggang dan leher pegal hehehe.

Akhirnya bisa melewati kelok 9 yang katanya sudah cantik itu (memang sudah cantik). Sayangnya gak bisa ambil foto karena bus terus melaju. Banyak yang jualan juga di sisi-sisinya, mungkin agar pemudik yang kelaparan atau lelah bisa istirahat sejenak.

Selama perjalanan, kami hanya singgah di 1 restoran yang sudah punya nama, RM Rangkiang, harganya gak dimainkan. Harga normal, setidaknya sama dengan harga di Jakarta. Di Rangkiang ini bisa melihat hijaunya pemandangan sekitar.

image

image

Biasanya sih, lewat dari Payakumbuh kita jalan lurus melewati ngalau. Namun, supir busnya gak sabaran dan akhirnya putar balik masuk ke Situjuah, lasi dan muncul-muncul di Ampek Angkek Canduang. Niatnya mau hindari macet eh malah kena macet juga hihi, lantaran jalan yang ditempuh lebih kecil.

Lepas Maghrib kami baru tiba di rumah almarhum inyiak. Hampir tidak mengenali bangunannya. Rumah gadang diganti jadi bangunan modern karena katanya sih sudah lapuk. Tapi kenapa gak dibuat model rumah gadang lagi ya? Satu-satunya yang membuat Saya mengenali rumah beliau adalah Surau Pilli yang bangunannya masih sama saat Saya masih kecil.

Dari balik jendela rumah, kami bisa melihat keindahan Gunung Merapi, Gunung Singgalang dan Bukit Barisan. Tidak lupa hamparan sawahnya.

image

image

Suhunya yang dingin sekitar 18-19 derajat celcius tanpa pendingin ruangan semakin bikin betah. Saking dinginnya ketika berbicara pun keluar asap di pagi hari (serasa lagi mengalami musim dingin di Eropa hehehe). Sayangnya kami hanya semalam di kampung.

Waktu yang sempit belum lagi harus mendatangi kerabat yang dituakan membuat kami harus pintar membuat jadwal. Kenapa? Supaya gak sia-sia pulang kampung, karena semua jalanpun macet.

Keesokan subuh, niatnya sih mau ke Jam Gadang, mau mengabadikan pemandangannya di kala Subuh. Niat ya cuma niat. Udara yang dingin memaksa kami meneruskan tidur lepas Sholat Subuh 😂.

Setelah makan pagi pun, langsung berkunjung ke rumah oom dan Tante dan sesepuh lainnya. Kami sempat salah perhitungan, harusnya di rumah gak usah makan, karena pasti kami dipaksa makan lagi ketika berkunjung. Di sana wajib makan nasi kala berkunjung kalau tidak tuan rumah kecewa. Alhasil, perut kekenyangan yang didapat 😅.

Sorenya kami menyempatkan diri ke Terusan Kamang. Kalau kata Pak Etek, air di sini kalau kemarau melimpah, kebalikannya pas musim hujan, airnya mengering. Karena letaknya di area pemukiman, jalannya pun kecil. Masuk ke Terusan Kamang pun kendaraan kudu antri. Kudu kasih sumbangan ke para pemudanya dan uang parkir juga, hmmm.. Mungkin pemda setempat harus lebih serius menatanya karena pengunjungnya tergolong banyak.

image

image

Kami tidak lama di Terusan Kamang lantaran harus balik ke Pekanbaru untuk mrngejar pesawat ke Jakarta. Sekian saja cerita pulang kampungnya, semoga bisa balik lagi ke sini tapi di luar waktu lebaran.

Angkot hijau
Posted from WordPress for Android

Advertisements