Archive for August, 2015

Menjajal track jogging di Kebun Raya Bogor

Beberapa minggu ini Saya dan suami kembali giat berolahraga. Melanjutkan aktivitas rutin 4 bulan lalu. Olahraga yang kami pilih yang ringan saja, jalan kaki tapi dengan jarak di atas 1 km.

Tempat yang biasa kami kunjungi area Car Free Day dan taman-taman. Bosan juga sih jalan kaki di  area yang sama. Akhirnya, kami memutuskan untuk menjajal jogging track di Kebun Raya Bogor (KRB).  Memang kami tidak jogging di sini tapi berjalan kaki di sepanjang lintasan KRB ini mengasyikkan juga.

image

Berjalan kaki di bawah rindangnya pepohonan di KRB punya keasyikan tersendiri. Belum lagi kalau di pagi hari, pengunjung belum terlalu ramai. Bisa foto-foto dengan latar belakang Istana Kepresidenan Bogor.

image

Medannya juga lumayan, ada yang naik turun kontur tanahnya. Sedikit membuat betis cenat cenut 😁. Setidaknya kami sudah berjalan sepanjang 2.43 km di KRB. Inginnya sih lanjut hingga 4 atau 5 km, mumpung lokasinya oke, tapi sayang hari makin siang, pengunjung semakin ramai. Ya, next time kalau liburan ke Bogor, kami jadwalkan untuk berolahraga pagi di KRB. Berolahraga sambil mempelajari nama-nama tumbuhan yang terdapat di KRB.

image

Sekadar informasi, harga ticket untuk masuk ke KRB berbeda-beda ya. Yang Saya ingat sih untuk wisatawan lokal itu Rp 15.000/orang.

Angkot hijau
Posted from WordPress for Android

Menikmati Hutan Wisata Dago Pakar

Masih dalam rangka lebaran dan liburan Juli lalu, Saya dan suami menyempatkan diri mampir ke Bandung. Tadinya sempat khawatir terjebak macet, tapi ternyata lancar. Mungkin kami datang saat arus balik tengah berlangsung ya.

Ngetrip di Bandungnya sih hanya sebentar. Tempat menginap pastinya di Jalan Braga (suka sama suasana kunonya dan banyak tempat makan hihihi). Kalau ke Bandung sih kami gak pernah wisata belanja, gak tertarik menghabiskan duit di mall atau FO 😁. Lebih tertarik wisata alam atau kuliner. Maklum jarang lihat pemandangan hijau di Ibukota πŸ˜‚.

Destinasi yang dipilih juga di luar rencana. Baru kepikiran saat di Angkot dari Taman Musik menuju Dago. Hey, kenapa kita gak ke Dago Pakar saja. Begitu kira-kira kata Ndut. Jawaban Saya seperti biasa “ngapain ke sana? Ada apa di sana?”. “Ke hutan, yuk,”. Hutan? Waduh… Kok berasa ‘spooky’ ya πŸ˜…. Ternyata hutan yang dimaksud Hutan Wisata Dago Pakar. Ooohh, hayuklah.

Dari terminal Dago, kami naik ojek ke TKP. Tarifnya sekitar Rp 15.000/orang (kalau gak salah ingat ya). Lokasi lumayan jauh. Jalan kaki juga bisa tapi tidak disarankan karena nanti di Hutan Wisata bakal puas jalan kaki hehehe.

Harga tanda masuk ke Hutan Wisata murah kok, hanya Rp 11.000,- per orang. Tempat yang bisa dikunjungi banyak banget!. Gua Jepang, Gua Belanda, penangkaran Rusa (kalau ini sih udah pernah pas liputan di Bogor) dan beberapa Curug. Rute awal kami adalah menuju Gua Jepang. Dengan semangat 1000% kami menyusuri medan yang kontur tanahnya naik turun, belum lagi ada tangga. Baru sekitar 500 meter, tiba-tiba ada terdengar salakan anjing. Waduh, sieun ih, digigit lagi ntar. Ternyata ada pengunjung yang membawa anjing, dan anjingnya disapa oleh para anjing pemilik kedai di sana. Heboh ya. Karena kami berdua takut gukguk lebih baik kami mengurungkan diri ke Gua Jepang. Balik kanan, grak!.

image

Gak lucu dong, sudah jauh-jauh ke sini eh langsung balik ke Hotel. Akhirnya kami menempuh rute lain ke Gua Belanda. Jarak lumayan jauh. Jalannya juga penuh bebatuan. Di sepanjang jalan bisa ditemui kedai makanan yang menjual Mie rebus atau jagung bakar. Kalau lapar setelah mengelilingi Hutan Wisata mampir saja ke sini. Hati-hati ada monyet πŸ™ˆπŸ™‰, tapi jangan takut mereka gak jahat kok. Cuma nemenin kita makan aja.

image

Setelah berjalan jauh, akhirnya tiba juga di Gua Belanda. Hore.. Hore. Guanya gelap banget, katanya pernah dipakai waktu shooting dunia lain. Kalau kamu takut, sewa senter mini aja, lima ribu rupiah saja harga sewanya. Jangan lupa perginya barengan sama pengunjung lain. Kalau gak mau repot balik lagi buat antar senternya, mending siapin sendiri 😁. Soalnya dari Gua Belanda ini masih banyak destinasi menarik lainnya

image

image

image

Kalau Saya dan suami sih bolak balik gelap-gelapan di Gua Belanda lantaran waktunya kepotong Jumatan jadi gak mungkin juga seharian di Hutan Wisata. Belum lagi harus balikin senter. Yah setidaknya sudah menapakkan kaki di Gua Belanda lah daripada enggak sama sekali 😁. Kapan-kapan kalau ke Bandung wajib ke sini lagi deh, nyobain ke curugnya. Bagi yang mau ke Tebing Keraton, juga dekat dari sini. Dari loket tinggal belok kanan saja.

Jadi ke Bandung gak musti belanja kan? Wisata alam lebih asyik, pakai deg-deg an lagi πŸ˜„.

Angkot hijau
Posted from WordPress for Android

Braga : Mengenang tempo dulu.

Biasanya kalau mampir ke Bandung, Saya selalu menginap dan kelayapan di sekitar Dago. Belakangan, tepatnya sih setelah perhelatan KAA digelar, Saya lebih tertarik untuk main dan menginap di Jalan Braga dan Merdeka.

Jalan Braga ini gak panjang dan gak lebar. Bisa dibilang mungkin hanya sekitar setengah kilometer panjangnya. Lebarnya kira-kira hanya muat dua Mobil dengan arah berlawanan. Meski demikian, Jalan Braga ini istimewa. Kenapa? Bentuk bangunannya sangaaaat kuno, berasa balik ke tempo dulu. Sebagai gambaran mirip kota tua di Jakarta Barat.

image

image

Di sini tempat yang pas untuk wisata kuliner. Melimpah ruah. Mau yang lokal, ala Jepang atau western juga ada. Turis mancanegara juga banyak banget yang nongkrong di sini.

Kalau Saya suka Braga karena ada hotel yang letaknya dalam Mall (jadi hotel langganan). Jadi kalau Bandung lagi hujan gak perlu ke luar hotel tetap bisa makan di restoran (bukan makanan pesan antar). Suasana malamnya lebih menyenangkan. Kawula muda Bandung banyak juga yang ‘hang out’ di Braga.

Restoran favorit Saya dan suami sih Ayam penyetnya Bu Tris. Sambalnya pedas. Kerupuk banjurnya juga mantap πŸ˜‹. Bagi yang hobi nyanyi bisa ikutan nyanyi lho dengan iringan keyboard. Serasa lagi konser mini di kafe hehehe.

image

Kami juga menjajal kulinet food trucknya Braga. Hanya saja, mereka baru menyediakan makanan utama di jam 9 – 10 malam. Yah keburu laper dah ini cacing di perut. Jadi, waktu ke food truck Braga yang letaknya persis depan Hotel Gino Feruci, kami hanya mencicipi nachos dan segelas cokelat panas saja sambil menikmati suasana malam di Braga.

image

Setelah urusan makan selesai, kami selalu menyempatkan diri menyusuri Jalanan Braga, dan mampir ke Jalan Asia Afrika, Merdeka dan sekitarnya. Lumayan, jalan kaki untuk membakar kalori yang berasal dari makanan kami.

Oh iya sekilas info saja, Jalan Braga ini dekat dengan stasiun Bandung. Jadi bagi yang naik kereta ke Bandung, bisa mampir ke Braga. Kalau naik angkot sih Saya hanya tahu kalau dari Dago bisa naik Dago – Kalapa. Turun depan restoran Mie kocok Bandung, tinggal jalan dikit aja ke kiri sudah bisa menyusuri jalan Braga 😊.

Angkot hijau
Posted from WordPress for Android