Saya salah seorang pecinta kopi. Biasanya kalau ngopi ya di rumah atau di gerai-gerai kopi yang banyak bertaburan di ibukota. Ngopinya sambil nonton atau bercengkerama dengan suami (kalau di rumah) atau hanya sekadar menghabiskan akhir pekan dan berleyeh-leyeh di gerai kopi.

Saking cintanya sama kopi, liburan pun tetap gak bisa pisah sama kopi. Nah, kali ini Saya dan suami kembali berwisata agro ke Kebun kopi di Bali. Sekarang kita melipir ke tempat lain, yang konon katanya ngehits di Pulau Dewata yaitu Bali Pulina.

Bali Pulina ini terletak di kecamatan Tegalalang, Ubud, Bali. Kalau dari Legian, kita melewati Monkey Forest dulu. Tadinya sih gak niat ke sini, justru ngototnya tuh ke Rice Terrace. Mau menikmati pemandangan sawah berundak-undak, tapi Cak Us, supir yang kami sewa selama 2 hari justru mengusulkan ke Bali Pulina saja. Dia tanya “Mbak suka ngopi gak?” Saya langsung bilang iya. “Nah, ke Bali Pulina saja, bisa lihat rice terraces juga, gak bayar lagi,” lanjut Cak Us. Wah mau lah, lihat pemandangan hijau gratis bisa ngopi lagi, ihiiiyy. Sempat baca-baca review Rice terrace memang gak gratis ke sana, ada harganya.

Setelah 1,5 jam perjalanan dari Legian ke Ubud, akhir nya kami tiba juga di Bali Pulina. Bali Pulina ini sudah ada sejak Januari 2011 ternyata (wah kok supir rental sebelumnya gak ngajak ke sini ya). Tempat Parkirnya lumayan luas. Begitu tiba di sana, kami langsung disambut pemandu tur / karyawan Bali Pulina. Mereka yang bakal menemani kita berkeliling Kebun kopi. Saya sih gak begitu mendengarkan informasi seputar kopinya karena pernah berwisata yang sama di Gianyar. Hanya yang Saya suka, di Bali Pulina, para luwak masih terjaga, bisa kasih mereka makan biji kopi juga. Saya juga mencoba roasting kopi secara tradisional walau cuma beberapa detik aja sih (takut gosong biji kopinya).

image

Puas kasih makan luwak, nyobain roasting biji kopi, kami pun lanjut keliling Kebun Kopi. Setibanya di atas ada warung kopi. Banyak pilihan bangku di sini. Mau yang dekat dengan sawah berundak atau di dalam. Saya memilih di dalam karena ada ayam jantan yang lagi berkelahi (hadeeeh, sieun). Jangan khawatir, dari dalam tetap bisa menikmati pemandangan sawah berundak-undak karena warung tersebut dibuat tanpa sekat dinding. Begitu kami duduk kami ditawarkan apakah ingin mencoba kopi luwaknya atau hanya ingin mencoba tester kopi dan Teh. Namanya juga perempuan, Ibu Ibu Muda gitu ya nyarinya yang gratis aja. “Kami minta tester aja gek,” jawab Saya.

Tidak lama kemudian, ada sekitar 8 cangkir mungil berisi tester Teh dan kopi yang diletakkan di nampan kayu ditemani sepiring keripik ketela (hmm, padahal berharap pisang goreng kayak di Kebun Kopi sebelah). Kesukaan Saya itu Teh jahe, kopi rasa vanila dan Kopi Bali sendiri tentunya.

image

Puas menyeruput kopi kami pun turun untuk lebih dekat melihat hijaunya sawah berundak (foto-foto juga sih). Subhanallah, indah nian ciptaan Allah SWT. Tinggal lama di Bali Saya mau banget deh, biar tiap hari lihat yang hijau-hijau, langit biru dan pantai biru. Pikiran fresh rasanya.

image

image

Selesai berfoto, kami pun menuju toko suvenir mereka. Tak lupa membeli Kopi Bali. Kopi Bali seberat 150 gram dibanderol Rp 90.000,-. Kopi luwak lebih mahal, bisa ratusan ribu harganya.

image

image

Sejam di Bali Pulina tuh kurang rasanya cuma ya karena kami harus menuju destinasi berikutnya, dengan berat hati kami ucapkan Sampai Jumpa Lagi, Suksma Gek.

Angkot hijau
Posted from WordPress for Android

Advertisements