Intro

Seperti Ramadan sebelumnya, menjalankan puasa di negara lain sekaligus jalan-jalan memang masuk dalam salah satu bucket list Saya. Tujuan awal ya negara tetangga dan Asean dulu. Nah, Ramadan tahun 2018 ini Saya dan suami melakukan perjalanan Ramadan ke Negeri Singa sekalian melipir ke Kuala Lumpur juga sih. Kayaknya gak afdol kalau sudah ke Singapura tapi gak mampir ke Malaysia hehe.

<p>

Kali ini kami memilih Area Masjid Sultan sebagai titik memulai perjalanan sekaligus tempat menginap. Tempat menginap pilihan kami adalah Hotel Nuve Bugis, berada tidak jauh dari Masjid Sultan. Berseberangan tepatnya. Silahkan googling Hotel Nuve untuk detilnya.

<p>

Kami naik taksi menuju hotel lantaran fisik yang lelah dan menghemat tenaga juga sih gak perlu angkat-angkat koper. Untuk tarifnya kalau tidak salah sekitar 20SGD. Naik taksi di Singapura lebih nyaman sih menurut Saya, karena taksinya pakai argo jadi gak capek tawar menawar. Taksi tidak bisa berhenti di depan hotel karena ternyata jalannya hanya satu arah. Jadi kami diturunkan di seberang Masjid Sultan, selebihnya jalan kaki sekitar 70 meter. Deket banget kan.

<p>

Pelayanan check in di Hotel Nuve termasuk cepat, gak pakai nunggu lama. Nah, karena kami tiba di hotel sudah sore jadi kami istirahat sejenak sebelum waktu berbuka puasa tiba.

Buka Puasa di Masjid Sultan

Setelah beristirahat sejenak, kami langsung siap-siap keluar hotel untuk mencari restoran. Sepuluh menit lagi waktunya berbuka puasa. Kami datang pada hari ketiga Ramadan. Azan Maghrib akan berkumandang pada pukul 19.07 waktu setempat. Sambil berjalan kami menyapa warga dan turis di sekitar area. Kebetulan sekali kami bertemu turis asal Indonesia juga, tepatnya dari Surabaya. Mereka juga ingin berbuka puasa. “Di masjid saja,” usul si Bapak yang baru kami temui ini. Dia bepergian dengan istrinya. “Masjid Sultan Pak?,” tanya Saya. Beliau mengangguk. “Disediakan gratis ya pak?,” Saya kembali bertanya. Maklum belum pernah berbuka puasa di Masjid jadi Saya banyak tanya. Dia mengangguk kembali. “Boleh pak, kami belum pernah buka puasa bersama di Masjid, apalagi di luar negeri,” ucap Saya sambil tertawa kecil. Bapaknya hanya mesam mesem aja gak tau apa yang ada di pikirannya. “Ya sudah yuk,” ajak beliau. Saya dan suami pun mengikuti si Bapak masuk ke dalam Masjid Sultan.

Baru berjalan beberapa langkah, Masjid sudah dipenuhi oleh jamaah dan petugas yang sudah dibagi tugasnya untuk memasak dan menyajikan makanan berbuka. Saya pun berpisah dengan suami. Saya dan istri si bapak yang kami temui tadi berjalan menuju aula khusus jamaah perempuan. Di aula juga sudah ramai orang berkumpul. “Wah suasana Ramadannya dapat banget nih,” kata Saya dalam hati.

<p>

Begitu azan Maghrib berkumandang, para jamaah makan bersama dalam satu pinggan yang sudah diisi oleh Nasi Briyani, Kari Kambing dan acar. Sekitar 4-5 orang diberikan makanan dalam satu pinggan.

Saya hanya makan sedikit di sini lantaran Saya tidak begitu suka makan kambing. Di aula ini warga setempat maupun turis bercampur aduk, semuanya tampak bersuka cita menikmati hidangan. Saya sempat berkenalan dengan warga setempat namanya Hazlin, seorang perempuan berwajah Asia Selatan. Dia berbicara dengan logat Singlish kentalnya, menceritakan bahwa dia selalu berbuka puasa di Masjid setelah pulang kerja.

Advertisements