Posts from the ‘Kuliner’ Category

Itinerary Bali, 4 hari 3 malam, Mai Melali Ke Bali Luh

Mai melali ke Bali, Luh. Ayo kita jalan-jalan ke Bali Sayang, kira begitu artinya. Alhamdulillah, diberikan kesempatan lagi untuk berkunjung ke Pulau Dewata. Liburan ke Bali kali ini gak diniatkan sama sekali. Semua berawal ketika menghadiri acara telkomsel poin di Grand Indonesia beberapa bulan lalu. Niatnya sih hanya menonton aksi panggung Maliq & D’essentials tapi siapa sangka justru di sinilah keberuntungan dimulai.

Suami Saya mendapatkan voucher menginap di hotel Mercure Bali Legian (Thanks Telkomsel, lagi dong vouchernya 😊). Tadinya pilihannya mau di Bali atau Makassar, tapi kami memilih Bali karena punya janji akan datang kembali ke Bali di saat cuaca cerah. Sudah dapat voucher hotel ya sekalian aja dibuat rencana perjalanannya. Kami pun berburu Tiket pesawat, belinya di detik terakhir sih sebenarnya 😁.

image

Beruntung sekali cuaca di Bali juga lagi luar biasa cerah. Suka deh, bisa buat berenang sepuasnya dan berjemur ala bule. Apalagi hotel Mercure punya kolam renang roof top. Keren, berenang bisa sambil lihat jalanan di bawah dan pas banget kami berenang pelangi muncul. Sedap ya. Pemandangan yang indah. Di kolam renang Hotel ini jugalah Saya diajari renang oleh Suami dan langsung bisa, tepuk tangan dong πŸ˜„.

image

Liburan kali ini kami menghabiskan waktu 4 hari 3 malam. Kami menyewa mobil berikut supirnya selama dua hari (kenalan supir di kantor Suami). Sebenarnya sih Saya sudah merencanakan tempat-tempat mana saja yang akan dikunjungi, tapi semua berubah lantaran pesawat Citilinknya delayed dan baru berangkat jam 13.40. Alhasil baru tiba di Hotel Mercure jam 18.00 an.

Kira-kira begini itinerary nya. Jangan tanya soal angkutan umum atau sewa motor ya karena kami hanya menyewa mobil. Info aja deh soal taksinya, kalau gak mau pakai taksi non Argo mending pesen langsung ke call center nya (Saya pakai Bali taksi groupnya Blue bird dari bandara ke hotel atau dari hotel ke bandara). Kalau dari bandara, tunggu aja dari pintu kedatangan, biasanya taksi Blue Bird suka mengantarkan penumpang, atau bisa berjalan ke luar ke arah parkiran motor (tapi jauh jalannya).

Hari Pertama, hanya berjalan-jalan sekitar Jalan Legian. Lihat-lihat souvenir yang dijajakan. Makan malamnya sih tetap nasi Padang yang tepat banget di sebelah hotel. Di Jalan Legian ada juga sih restoran yang menjual makanan halal, tapi ramai betul. Jadi pilihannya tetap makanan Padang. Dibungkus pula, makan sambil nonton stand up comedy.

image

Hari kedua, sarapan di Hotel lalu lanjut berolahraga di Pantai Legian. Langit masih cerah, pantai belum banyak pengunjung, cuma banyak gukguk (sieun ih). Puas olahraga di Pantai Legian, balik ke hotel. Ambil handuk langsung cus ke lantai 4, berenang dan berjemur.Β  Sekarang Saya tahu kenapa bule suka banget berjemur. Kena cahaya matahari itu rasanya gak bisa dijelaskan, lagian lumayan baju kering sendiri hehehe. Di sebelah kolam renang ada fitness center, gratis tapi syaratnya pakai sepatu. Yah kita ke kolam renang pakai sandal hotel aja, balik lagi ke kamar sekalian ganti baju dan pakai sepatu. Temanya sampai siang itu adalah olahraga.

Kelar sholat zuhur baru deh menuju destinasi wisata di Bali Selatan aja (terbatas waktu sih). Karena perut belum diisi, kami mampir dulu di Warung Pecel Ibu Tinuk di daerah Tuban. Lalu melanjutkan perjalanan ke Pantai Pandawa, Pantai Dreamland dan makan malam di Kuta (masih ke restoran yang menjual makanan halal). Balik ke hotel sekitar jam 20.00. Gak mau terlalu larut karena besok bakal jalan-jalan lagi.

Hari ketiga, sarapan di hotel dan masih lanjut berolahraga di pantai Legian. Ngopi cantik di Bali Pulina sekalian dapat bonus melihat sawah berundaknya, ada di daerah Ubud. Kita naik ke atas ke daerah Kintamani untuk makan siang romantis, alhamdulillah cuaca cerah ya gak hujan kayak liburan tahun lalu. Puas makan plus ngadem di Kintamani, kami menuju ke Tanah Lot dan GWK. Petangnya kami makan malam romantis di Pantai Jimbaran, ihiiiy.  dan belanja di Pusat Oleh-oleh Krishna di Jalan Sunset Road (kalau gak salah). Balik-balik tepar πŸ˜„.

image

Hari terakhir, cuma menikmati hotel aja dan sekitaran Legian. Agak siangan sekalian check out dan menuju bandara, kami mampir ke Pabrik Kata-kata Joger.

Itinerary secara global aja, penjelasannya nanti satu persatu Saya jadikan cerita. Secara keseluruhan, liburan kali ini puas walau masih pengen ke Tanjung Benoa dan mencoba berbagai olahraga air (mumpung dah bisa berenang nih, eaaa). Semoga bisa berkunjung kembali ke Bali di saat cuaca cerah juga. Aamiin.

Angkot hijau
Posted from WordPress for Android

Braga : Mengenang tempo dulu.

Biasanya kalau mampir ke Bandung, Saya selalu menginap dan kelayapan di sekitar Dago. Belakangan, tepatnya sih setelah perhelatan KAA digelar, Saya lebih tertarik untuk main dan menginap di Jalan Braga dan Merdeka.

Jalan Braga ini gak panjang dan gak lebar. Bisa dibilang mungkin hanya sekitar setengah kilometer panjangnya. Lebarnya kira-kira hanya muat dua Mobil dengan arah berlawanan. Meski demikian, Jalan Braga ini istimewa. Kenapa? Bentuk bangunannya sangaaaat kuno, berasa balik ke tempo dulu. Sebagai gambaran mirip kota tua di Jakarta Barat.

image

image

Di sini tempat yang pas untuk wisata kuliner. Melimpah ruah. Mau yang lokal, ala Jepang atau western juga ada. Turis mancanegara juga banyak banget yang nongkrong di sini.

Kalau Saya suka Braga karena ada hotel yang letaknya dalam Mall (jadi hotel langganan). Jadi kalau Bandung lagi hujan gak perlu ke luar hotel tetap bisa makan di restoran (bukan makanan pesan antar). Suasana malamnya lebih menyenangkan. Kawula muda Bandung banyak juga yang ‘hang out’ di Braga.

Restoran favorit Saya dan suami sih Ayam penyetnya Bu Tris. Sambalnya pedas. Kerupuk banjurnya juga mantap πŸ˜‹. Bagi yang hobi nyanyi bisa ikutan nyanyi lho dengan iringan keyboard. Serasa lagi konser mini di kafe hehehe.

image

Kami juga menjajal kulinet food trucknya Braga. Hanya saja, mereka baru menyediakan makanan utama di jam 9 – 10 malam. Yah keburu laper dah ini cacing di perut. Jadi, waktu ke food truck Braga yang letaknya persis depan Hotel Gino Feruci, kami hanya mencicipi nachos dan segelas cokelat panas saja sambil menikmati suasana malam di Braga.

image

Setelah urusan makan selesai, kami selalu menyempatkan diri menyusuri Jalanan Braga, dan mampir ke Jalan Asia Afrika, Merdeka dan sekitarnya. Lumayan, jalan kaki untuk membakar kalori yang berasal dari makanan kami.

Oh iya sekilas info saja, Jalan Braga ini dekat dengan stasiun Bandung. Jadi bagi yang naik kereta ke Bandung, bisa mampir ke Braga. Kalau naik angkot sih Saya hanya tahu kalau dari Dago bisa naik Dago – Kalapa. Turun depan restoran Mie kocok Bandung, tinggal jalan dikit aja ke kiri sudah bisa menyusuri jalan Braga 😊.

Angkot hijau
Posted from WordPress for Android

Icip kuliner ala food truck

image

Udah lama gak ngeblog, sekalinya ngeblog tetap gak jauh dari makanan πŸ˜‚. Belakangan Saya lagi suka mencoba kuliner ala food truck. Awalnya sih karena terlalu sering menonton acara kuliner Luar Negeri di TV kabel. Kuliner yang baru saya coba sih Loco mama (makanan ala Meksiko) sewaktu diadakannya festival food truck di MT Haryono dan The halal boys (ala Timur tengah) yang berlokasi persis di depan Waluma, Jalan Hang Lekir, Jakarta Selatan.

Konsep food truck ini mengagumkan, simple dan kekinian. Makanannya dimasak di dalam truck yang sudah dimodifikasi semenarik mungkin. Makanannya pun lebih ke gaya sederhana. Harga sih relatif, rasa juga lumayan di lidah setidaknya saya suka rasa yang dihadirkan oleh Loco Mama dan the halal boys. Untuk Loco Mama Saya suka taco nya dan chicken rice untuk The Halal Boys yang diberi Saus BBQ di atasnya, nyaaaamm.

image

image

Kelak, ingin juga berbisnis kuliner food truck 😊.

Angkot hijau
Posted from WordPress for Android

Kencan Di The House Of Raminten

Sepulang dari Candi Prambanan niatnya sih berkeliling kota Jogja, tapi badan rasanya lengket karena cuaca panas. Jadi kami balik ke hotel dulu untuk membersihkan diri dan sholat, setelah itu baru jalan-jalan lagi. Ya namanya juga manusia hanya bisa berencana, apa daya hujan turun lagi, yang πŸ™‚

Saya baru bisa keluar hotel sekitar pukul 5 sore. Karena sudah malam dan buta daerah Jogja, jadinya ya jalan-jalan aja sepanjang Malioboro hingga ke nol kilometernya Jogja, mengabadikan foto di sana, duduk-duduk di bangku yang sudah tersedia di sana sampai maghrib tiba sambil lihat burung walet beterbangan dan lalu lalang kendaraan juga warga yang asyik bercengkerama. Romantis juga hahaha. Mau masuk benteng Vredeburg, kraton dan Taman Sari juga sudah kesorean.

Satu jam duduk-duduk di area nol kilometer, kami pun lanjut berjalan ke arah Taman Pintar dan menemukan Halte Traja. Akhirnya keliling naik bus Traja lagi dari halte Senopati depan Taman Pintar. Hari juga semakin malam, sekalian saja deh cari makan dan tempat kencan, ihiiiy. Tiba-tiba kepikiran The House Of Raminten di Kotabaru karena tadi siang memang pengen ke sana tapi gak kesampaian. Kami naik Traja di rute 2A lalu transit di Halte Kridosono ke rute 3A. Menurut informasi kondekturnya sih bisa turun di halte portable yang tidak jauh dari The House Of Raminten. Lokasinya bersebelahan dengan Mirota Bakery.

image

Bersyukur banget pas tiba di resto ini gak pake ngantri. Begitu tiba langsung duduk lesehan dan pesan makanan. Makanannya murah meriah setidaknya untuk di kelasnya. Sego kucing pakte (pakai telor) lengkap dengan oseng tempe dan sambal teri cuma dibanderol tiga ribu rupiah, mau nambah nasi ya cukup keluarin uang dua ribu rupiah lagi. Sego gudeg telor cuma sepuluh ribuan, sego gudeg komplit cuma 18.000,- harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan lesehan dekat hotel kami. Harga minuman juga murah meriah belum lagi ada minuman yang dituang di gelas yang segede gaban hehe, bisa untuk minum bertiga. Kencan di sana cuma keluar uang tiga puluh ribu rupiah. Sudah termasuk dua gelas minuman nambah makanan dan kerupuk. Kalau makan di sini jangan malu bertanya soal porsi makanan ya, porsinya untuk satu orang atau rame-rame.

image

Kencan kami di The House of Raminten diiringi musik gamelan dan lampu temaram, kalau gak ingat jam operasionalnya Traja mah betah urang di dieu πŸ˜€

Yuk, Minum Jus Hijau!

Siapa yang tidak suka makan sayuran hijau? Bagi yang kurang suka makan sayuran hijau ada alternatif lain nih untuk bisa menikmati sayuran hijau. Selain dimasak dengan cara biasa (ditumis atau direbus), sayuran juga bisa diolah menjadi jus lho.

Jus? Aneh ah rasanya. Pasti ada yang bilang begitu sambil pasang muka aneh πŸ™‚ . Iya diolah jadi jus. Sayuran yang diolah jadi jus ini tetap gak menghilangkan vitamin yang dikandung malah lebih mudah dinikmati, tinggal glek.

Belakangan gw iseng minum jus hijau lagi. Biasanya sih gw hanya minum jus buah, kalaupun ada sayuran paling hanya jus wortel. Jadi ingat dulu pertama kalinya gw minum jus itu masih kecil banget. Waktu masih tinggal di Padang. Ceritanya bokap baru beliin juicer buat nyokap. Jadilah nyokap bereksperimen dengan juicer baru itu. Segala macam sayuran dan buah dijus. Korbannya? Ya gw dan abang gw hahaha. Paling mual itu pas disuruh minum jus bayam. Benar-benar jus bayam tanpa tambahan apapun. Itulah perkenalan pertama gw dengan jus sayuran hijau.

Nah sekarang (baru sekitar seminggu) gw kembali menenggak jus sayuran hijau. Asal muasalnya karena iseng googling di instagram. Tampilan jus sayurannya cantik banget dan di tuangkan ke gelas atau botol yang kece-kece juga. Malah botol bekas selai juga jadi wadahnya hehe. Tertarik untuk ngejus sayuran hijau lagi, gw sampai follow semua akun yang menampilkan jus hijau. Waah banyak ternyata, sampai detik gw mengetik tulisan ini, ada sekitar 254 ribuan foto jus hijau diunggah ke instagram. Resep-resepnya pun beragam. Ada untuk pemula sampai yang sudah terbiasa.

Bagi pemula kayak gw, pilih resep yang sederhana dulu. Misalnya bayam, brokoli, pok coy, apel hijau. Nah untuk rasa manis gw tambahin air jeruk medan. Sebenarnya sih jus sayuran tidak boleh dicampur dengan buah karena ada enzim yang berbeda yang mencernanya. Itu kan idealnya dan bagi yang sudah level atas lah ya, bagi pemula seperti gw, gw tetap bandel masukin buah. Buah yang gw campur juga cuma apel hijau dan jeruk medan kok. Pertama kali coba hasil racikan raw food chef wiana aneeehh.. hahahaa.. tapi gw tidak menyerah. Sorenya dan keesokannya gw tetap buat jus hijau lagi. Pernah suatu hari gw tambahin jahe lantaran banyak saran untuk menambahkan jahe agat lebih berenergi. Gw tambahin dong jahe sepanjang satu ruas jari. Hasilnya? Gw gak sukaaa, rasanya aneh dan pedas. Mending jahe diolah tersendiri (kalau ini sih selera ya).

Resep yang sering dipakai para penggila jus hijau itu biasanya bayam, kale, brokoli, timun, seledri, apel hijau. Khasiatnya ya macam-macam. Umumnya sih ada yang mencegah kanker, radikal bebas, kolesterol, menyehatkan sistem pencernaan, dan lain-lain. Bagus untuk kulit juga lho (info untuk para perempuan).

Kalau gw pribadi membiasakan diri minum jus dua kali sehari, kalau di instagram sih gw liat dalam sehari mereka bisa minum 5 botolan. Ada sih yang bertanya,

loe diet ketat sekarang?

. Gw sih gak diet ketat, gw masih makan daging merah tanpa lemak dan ikan kok, gw hanya ingin hidup sehat saja. Kalau istilah di instagram tuh eatclean.

Tunggu apalagi, mau sehat tapi malas makan sayur ya di jus saja πŸ™‚

Belanja oleh-oleh di area Pratunam

Bagi kebanyakan perempuan, belanja dalam waktu terbatas itu sangat tidak menyenangkan. Kalaupun tidak belanja, setidaknya cuci mata dalam waktu singkat pun juga tidak memuaskan. Sama juga dengan diri gw,  karena hanya berkeliling sebentar di area sekitar Pratunam dan Platinum Mall padat malam harinya, keesokannya, Minggu, 27 Oktober 2013, gw dan rombongan pun kembali menuju area Pratunam.

Kami mendapatkan informasi kalau Pratunam buka sekitar jam 9 pagi. Setelah sarapan kami pun kembali berjalan kaki menuju Pratunam. Jarak 1 km tidak terasa karena kami banyak mampir ke toko-toko sepanjang jalan menuju area Pratunam :). Sesampainya di Pratunam, ternyata toko-toko belum banyak yang buka. Usut punya usut, ternyata, kalau di hari Minggu memang para pemilik toko lebih banyak yang memilih untuk beribadah.

Selain Chatuchak, Pratunam bisa menjadi alternatif untuk belanja oleh-oleh, harganya juga lebih miring. Beda 50 thb lumayan kan? Yang penting bisa nawar. Di Pratunam, gw cuma beli pajangan meja dan kain khas Thailand.

Karena hanya sedikit toko yang buka, kami pun menyeberang ke Platinum Mall. Nah di sini, gw nemuin dress lucu warna pastel. Si pemilik toko sih awalnya memberikan harga 250 thb. Gak tahu kenapa, pas mau bayar eh malah dikasih diskon. “For you 200 thb,” katanya. Waaahhh kwab khun kap. Di mall ini, banyak dress manis yang dijual. Harga paling mahal pun 300 thb, itu pun masih bisa ditawar πŸ™‚

Puas keliling, gw dan rombongan pun menuju ke lantai atas untuk makan siang. Seperti biasa food court sudah ramai. Karena kali ini kami punya banyak waktu, kami memutuskan untuk tidak makan junk food lagi. Cukup! :). Bagi turis muslim, ada satu tempat makan yang memiliki stiker halal di kaca display makanannya. Makanan yang dijual pun lumayan enak. Ada nasi kuning dengan ayam goreng, sop ikan dan mie goreng. Membayar makanan di food court ini harus pakai voucher. Jadi kalian harus menukarkan uang di counter khusus.

Oiya, masih di lantai atas, ada toko makanan yang letaknya di pojok, di sana kalian bisa membeli teh tarik merk N****a, rasanya enak banget, cuma dibanderol 90 thb. Di Indonesia gak ada yang jual merk tersebut (nyesel cuma beli 1 pack).

Buat yang pengen beli gadget bisa ke Pantip Mall, yang letaknya bersebelahan dengan Platinum Mall.

http://berrybenka.go2cloud.org/SHDI

Posted from WordPress for Android

Bangkok : Wisata pinggir jalan di malam hari

Setelah muter-muter di Pasar Chatucak, gw dan rombongan kembali ke hotel. Sebenarnya kami sempat berencana langsung menuju Asiatic, tapi karena satu hal rencana tersebut dibatalkan.

Sesampainya di hotel, kami juga tidak sempat istirahat. Setelah membenahi diri dan sholat maghrib, kami para perempuan kembali menelusuri jalanan kota Bangkok. Niatnya sih cuma makan malam, tapi sepanjang perjalanan banyak barang-barang murah yang dijual di pinggir jalan. Oya, kami memutuskan jalan kaki lho ke Platinum Mall. Jaraknya sekitar 1 km lebih dari hotel. Cuma di Bangkok nih gw jabanin jalan kaki dari hotel ke tempat tujuan, di Jakarta belum tentu gw mau hehehe.. Karena kami berjalan sambil cuci mata, jarak pun bukan halangan. Pasar malam di area Pratunam ini menarik juga. Harganya juga lumayan. Gw sih cuma beli sapu tangan dengan motif unyu, harganya? Sehelai cuma 25 thb. Sepanjang jalan menuju Platinum MallΒ  (Pratunam, Platinum Mall dan Pantip Mall jaraknya berdekatan) banyak penjual lotere dan tempat pijat.

image

Di pasar malam ini juga gw menemukan pajangan berbentuk kura-kura berwarna hitam. Tanpa pikir panjang gw langsung beli. Kalau orang-orang lebih suka beli pajangan berbentuk gajah, gw lebih tertarik membeli si kura-kura. Gw bukan penyuka kura-kura sih, tapi karena di meja kantor sudah ada 2 kura-kura yang mejeng, ya gw beli aja deh sebagai teman mereka πŸ™‚

image

Di pasar malam sih gak lama, karena gw dapat info, Platinum Mall tutup jam 8 malam. Apa??? Cepat banget dalam hati gw, lebih cepat dari jam tutup ITC di Jakarta. Benar saja, sesampainya di food court Platinum Mall, makanan yang dijual juga sudah banyak yang habis. Lagi-lagi gw beli fast food.. Hadeeh..

Karena cuma sebentar di Platinum Mall, gw dan rombongan pun berencana untuk kembali ke sini keesokannya.

Berikutnya, bercerita soal wisata belanja di Pratunam dan sekitarnya.

Posted from WordPress for Android