Posts from the ‘Plesiran’ Category

Itinerary Bali, 4 hari 3 malam, Mai Melali Ke Bali Luh

Mai melali ke Bali, Luh. Ayo kita jalan-jalan ke Bali Sayang, kira begitu artinya. Alhamdulillah, diberikan kesempatan lagi untuk berkunjung ke Pulau Dewata. Liburan ke Bali kali ini gak diniatkan sama sekali. Semua berawal ketika menghadiri acara telkomsel poin di Grand Indonesia beberapa bulan lalu. Niatnya sih hanya menonton aksi panggung Maliq & D’essentials tapi siapa sangka justru di sinilah keberuntungan dimulai.

Suami Saya mendapatkan voucher menginap di hotel Mercure Bali Legian (Thanks Telkomsel, lagi dong vouchernya ๐Ÿ˜Š). Tadinya pilihannya mau di Bali atau Makassar, tapi kami memilih Bali karena punya janji akan datang kembali ke Bali di saat cuaca cerah. Sudah dapat voucher hotel ya sekalian aja dibuat rencana perjalanannya. Kami pun berburu Tiket pesawat, belinya di detik terakhir sih sebenarnya ๐Ÿ˜.

image

Beruntung sekali cuaca di Bali juga lagi luar biasa cerah. Suka deh, bisa buat berenang sepuasnya dan berjemur ala bule. Apalagi hotel Mercure punya kolam renang roof top. Keren, berenang bisa sambil lihat jalanan di bawah dan pas banget kami berenang pelangi muncul. Sedap ya. Pemandangan yang indah. Di kolam renang Hotel ini jugalah Saya diajari renang oleh Suami dan langsung bisa, tepuk tangan dong ๐Ÿ˜„.

image

Liburan kali ini kami menghabiskan waktu 4 hari 3 malam. Kami menyewa mobil berikut supirnya selama dua hari (kenalan supir di kantor Suami). Sebenarnya sih Saya sudah merencanakan tempat-tempat mana saja yang akan dikunjungi, tapi semua berubah lantaran pesawat Citilinknya delayed dan baru berangkat jam 13.40. Alhasil baru tiba di Hotel Mercure jam 18.00 an.

Kira-kira begini itinerary nya. Jangan tanya soal angkutan umum atau sewa motor ya karena kami hanya menyewa mobil. Info aja deh soal taksinya, kalau gak mau pakai taksi non Argo mending pesen langsung ke call center nya (Saya pakai Bali taksi groupnya Blue bird dari bandara ke hotel atau dari hotel ke bandara). Kalau dari bandara, tunggu aja dari pintu kedatangan, biasanya taksi Blue Bird suka mengantarkan penumpang, atau bisa berjalan ke luar ke arah parkiran motor (tapi jauh jalannya).

Hari Pertama, hanya berjalan-jalan sekitar Jalan Legian. Lihat-lihat souvenir yang dijajakan. Makan malamnya sih tetap nasi Padang yang tepat banget di sebelah hotel. Di Jalan Legian ada juga sih restoran yang menjual makanan halal, tapi ramai betul. Jadi pilihannya tetap makanan Padang. Dibungkus pula, makan sambil nonton stand up comedy.

image

Hari kedua, sarapan di Hotel lalu lanjut berolahraga di Pantai Legian. Langit masih cerah, pantai belum banyak pengunjung, cuma banyak gukguk (sieun ih). Puas olahraga di Pantai Legian, balik ke hotel. Ambil handuk langsung cus ke lantai 4, berenang dan berjemur.ย  Sekarang Saya tahu kenapa bule suka banget berjemur. Kena cahaya matahari itu rasanya gak bisa dijelaskan, lagian lumayan baju kering sendiri hehehe. Di sebelah kolam renang ada fitness center, gratis tapi syaratnya pakai sepatu. Yah kita ke kolam renang pakai sandal hotel aja, balik lagi ke kamar sekalian ganti baju dan pakai sepatu. Temanya sampai siang itu adalah olahraga.

Kelar sholat zuhur baru deh menuju destinasi wisata di Bali Selatan aja (terbatas waktu sih). Karena perut belum diisi, kami mampir dulu di Warung Pecel Ibu Tinuk di daerah Tuban. Lalu melanjutkan perjalanan ke Pantai Pandawa, Pantai Dreamland dan makan malam di Kuta (masih ke restoran yang menjual makanan halal). Balik ke hotel sekitar jam 20.00. Gak mau terlalu larut karena besok bakal jalan-jalan lagi.

Hari ketiga, sarapan di hotel dan masih lanjut berolahraga di pantai Legian. Ngopi cantik di Bali Pulina sekalian dapat bonus melihat sawah berundaknya, ada di daerah Ubud. Kita naik ke atas ke daerah Kintamani untuk makan siang romantis, alhamdulillah cuaca cerah ya gak hujan kayak liburan tahun lalu. Puas makan plus ngadem di Kintamani, kami menuju ke Tanah Lot dan GWK. Petangnya kami makan malam romantis di Pantai Jimbaran, ihiiiy.  dan belanja di Pusat Oleh-oleh Krishna di Jalan Sunset Road (kalau gak salah). Balik-balik tepar ๐Ÿ˜„.

image

Hari terakhir, cuma menikmati hotel aja dan sekitaran Legian. Agak siangan sekalian check out dan menuju bandara, kami mampir ke Pabrik Kata-kata Joger.

Itinerary secara global aja, penjelasannya nanti satu persatu Saya jadikan cerita. Secara keseluruhan, liburan kali ini puas walau masih pengen ke Tanjung Benoa dan mencoba berbagai olahraga air (mumpung dah bisa berenang nih, eaaa). Semoga bisa berkunjung kembali ke Bali di saat cuaca cerah juga. Aamiin.

Angkot hijau
Posted from WordPress for Android

Ngopi Cantik Sambil Lihat Sawah Berundak

Saya salah seorang pecinta kopi. Biasanya kalau ngopi ya di rumah atau di gerai-gerai kopi yang banyak bertaburan di ibukota. Ngopinya sambil nonton atau bercengkerama dengan suami (kalau di rumah) atau hanya sekadar menghabiskan akhir pekan dan berleyeh-leyeh di gerai kopi.

Saking cintanya sama kopi, liburan pun tetap gak bisa pisah sama kopi. Nah, kali ini Saya dan suami kembali berwisata agro ke Kebun kopi di Bali. Sekarang kita melipir ke tempat lain, yang konon katanya ngehits di Pulau Dewata yaitu Bali Pulina.

Bali Pulina ini terletak di kecamatan Tegalalang, Ubud, Bali. Kalau dari Legian, kita melewati Monkey Forest dulu. Tadinya sih gak niat ke sini, justru ngototnya tuh ke Rice Terrace. Mau menikmati pemandangan sawah berundak-undak, tapi Cak Us, supir yang kami sewa selama 2 hari justru mengusulkan ke Bali Pulina saja. Dia tanya “Mbak suka ngopi gak?” Saya langsung bilang iya. “Nah, ke Bali Pulina saja, bisa lihat rice terraces juga, gak bayar lagi,” lanjut Cak Us. Wah mau lah, lihat pemandangan hijau gratis bisa ngopi lagi, ihiiiyy. Sempat baca-baca review Rice terrace memang gak gratis ke sana, ada harganya.

Setelah 1,5 jam perjalanan dari Legian ke Ubud, akhir nya kami tiba juga di Bali Pulina. Bali Pulina ini sudah ada sejak Januari 2011 ternyata (wah kok supir rental sebelumnya gak ngajak ke sini ya). Tempat Parkirnya lumayan luas. Begitu tiba di sana, kami langsung disambut pemandu tur / karyawan Bali Pulina. Mereka yang bakal menemani kita berkeliling Kebun kopi. Saya sih gak begitu mendengarkan informasi seputar kopinya karena pernah berwisata yang sama di Gianyar. Hanya yang Saya suka, di Bali Pulina, para luwak masih terjaga, bisa kasih mereka makan biji kopi juga. Saya juga mencoba roasting kopi secara tradisional walau cuma beberapa detik aja sih (takut gosong biji kopinya).

image

Puas kasih makan luwak, nyobain roasting biji kopi, kami pun lanjut keliling Kebun Kopi. Setibanya di atas ada warung kopi. Banyak pilihan bangku di sini. Mau yang dekat dengan sawah berundak atau di dalam. Saya memilih di dalam karena ada ayam jantan yang lagi berkelahi (hadeeeh, sieun). Jangan khawatir, dari dalam tetap bisa menikmati pemandangan sawah berundak-undak karena warung tersebut dibuat tanpa sekat dinding. Begitu kami duduk kami ditawarkan apakah ingin mencoba kopi luwaknya atau hanya ingin mencoba tester kopi dan Teh. Namanya juga perempuan, Ibu Ibu Muda gitu ya nyarinya yang gratis aja. “Kami minta tester aja gek,” jawab Saya.

Tidak lama kemudian, ada sekitar 8 cangkir mungil berisi tester Teh dan kopi yang diletakkan di nampan kayu ditemani sepiring keripik ketela (hmm, padahal berharap pisang goreng kayak di Kebun Kopi sebelah). Kesukaan Saya itu Teh jahe, kopi rasa vanila dan Kopi Bali sendiri tentunya.

image

Puas menyeruput kopi kami pun turun untuk lebih dekat melihat hijaunya sawah berundak (foto-foto juga sih). Subhanallah, indah nian ciptaan Allah SWT. Tinggal lama di Bali Saya mau banget deh, biar tiap hari lihat yang hijau-hijau, langit biru dan pantai biru. Pikiran fresh rasanya.

image

image

Selesai berfoto, kami pun menuju toko suvenir mereka. Tak lupa membeli Kopi Bali. Kopi Bali seberat 150 gram dibanderol Rp 90.000,-. Kopi luwak lebih mahal, bisa ratusan ribu harganya.

image

image

Sejam di Bali Pulina tuh kurang rasanya cuma ya karena kami harus menuju destinasi berikutnya, dengan berat hati kami ucapkan Sampai Jumpa Lagi, Suksma Gek.

Angkot hijau
Posted from WordPress for Android

Menikmati Hutan Wisata Dago Pakar

Masih dalam rangka lebaran dan liburan Juli lalu, Saya dan suami menyempatkan diri mampir ke Bandung. Tadinya sempat khawatir terjebak macet, tapi ternyata lancar. Mungkin kami datang saat arus balik tengah berlangsung ya.

Ngetrip di Bandungnya sih hanya sebentar. Tempat menginap pastinya di Jalan Braga (suka sama suasana kunonya dan banyak tempat makan hihihi). Kalau ke Bandung sih kami gak pernah wisata belanja, gak tertarik menghabiskan duit di mall atau FO ๐Ÿ˜. Lebih tertarik wisata alam atau kuliner. Maklum jarang lihat pemandangan hijau di Ibukota ๐Ÿ˜‚.

Destinasi yang dipilih juga di luar rencana. Baru kepikiran saat di Angkot dari Taman Musik menuju Dago. Hey, kenapa kita gak ke Dago Pakar saja. Begitu kira-kira kata Ndut. Jawaban Saya seperti biasa “ngapain ke sana? Ada apa di sana?”. “Ke hutan, yuk,”. Hutan? Waduh… Kok berasa ‘spooky’ ya ๐Ÿ˜…. Ternyata hutan yang dimaksud Hutan Wisata Dago Pakar. Ooohh, hayuklah.

Dari terminal Dago, kami naik ojek ke TKP. Tarifnya sekitar Rp 15.000/orang (kalau gak salah ingat ya). Lokasi lumayan jauh. Jalan kaki juga bisa tapi tidak disarankan karena nanti di Hutan Wisata bakal puas jalan kaki hehehe.

Harga tanda masuk ke Hutan Wisata murah kok, hanya Rp 11.000,- per orang. Tempat yang bisa dikunjungi banyak banget!. Gua Jepang, Gua Belanda, penangkaran Rusa (kalau ini sih udah pernah pas liputan di Bogor) dan beberapa Curug. Rute awal kami adalah menuju Gua Jepang. Dengan semangat 1000% kami menyusuri medan yang kontur tanahnya naik turun, belum lagi ada tangga. Baru sekitar 500 meter, tiba-tiba ada terdengar salakan anjing. Waduh, sieun ih, digigit lagi ntar. Ternyata ada pengunjung yang membawa anjing, dan anjingnya disapa oleh para anjing pemilik kedai di sana. Heboh ya. Karena kami berdua takut gukguk lebih baik kami mengurungkan diri ke Gua Jepang. Balik kanan, grak!.

image

Gak lucu dong, sudah jauh-jauh ke sini eh langsung balik ke Hotel. Akhirnya kami menempuh rute lain ke Gua Belanda. Jarak lumayan jauh. Jalannya juga penuh bebatuan. Di sepanjang jalan bisa ditemui kedai makanan yang menjual Mie rebus atau jagung bakar. Kalau lapar setelah mengelilingi Hutan Wisata mampir saja ke sini. Hati-hati ada monyet ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™‰, tapi jangan takut mereka gak jahat kok. Cuma nemenin kita makan aja.

image

Setelah berjalan jauh, akhirnya tiba juga di Gua Belanda. Hore.. Hore. Guanya gelap banget, katanya pernah dipakai waktu shooting dunia lain. Kalau kamu takut, sewa senter mini aja, lima ribu rupiah saja harga sewanya. Jangan lupa perginya barengan sama pengunjung lain. Kalau gak mau repot balik lagi buat antar senternya, mending siapin sendiri ๐Ÿ˜. Soalnya dari Gua Belanda ini masih banyak destinasi menarik lainnya

image

image

image

Kalau Saya dan suami sih bolak balik gelap-gelapan di Gua Belanda lantaran waktunya kepotong Jumatan jadi gak mungkin juga seharian di Hutan Wisata. Belum lagi harus balikin senter. Yah setidaknya sudah menapakkan kaki di Gua Belanda lah daripada enggak sama sekali ๐Ÿ˜. Kapan-kapan kalau ke Bandung wajib ke sini lagi deh, nyobain ke curugnya. Bagi yang mau ke Tebing Keraton, juga dekat dari sini. Dari loket tinggal belok kanan saja.

Jadi ke Bandung gak musti belanja kan? Wisata alam lebih asyik, pakai deg-deg an lagi ๐Ÿ˜„.

Angkot hijau
Posted from WordPress for Android

Braga : Mengenang tempo dulu.

Biasanya kalau mampir ke Bandung, Saya selalu menginap dan kelayapan di sekitar Dago. Belakangan, tepatnya sih setelah perhelatan KAA digelar, Saya lebih tertarik untuk main dan menginap di Jalan Braga dan Merdeka.

Jalan Braga ini gak panjang dan gak lebar. Bisa dibilang mungkin hanya sekitar setengah kilometer panjangnya. Lebarnya kira-kira hanya muat dua Mobil dengan arah berlawanan. Meski demikian, Jalan Braga ini istimewa. Kenapa? Bentuk bangunannya sangaaaat kuno, berasa balik ke tempo dulu. Sebagai gambaran mirip kota tua di Jakarta Barat.

image

image

Di sini tempat yang pas untuk wisata kuliner. Melimpah ruah. Mau yang lokal, ala Jepang atau western juga ada. Turis mancanegara juga banyak banget yang nongkrong di sini.

Kalau Saya suka Braga karena ada hotel yang letaknya dalam Mall (jadi hotel langganan). Jadi kalau Bandung lagi hujan gak perlu ke luar hotel tetap bisa makan di restoran (bukan makanan pesan antar). Suasana malamnya lebih menyenangkan. Kawula muda Bandung banyak juga yang ‘hang out’ di Braga.

Restoran favorit Saya dan suami sih Ayam penyetnya Bu Tris. Sambalnya pedas. Kerupuk banjurnya juga mantap ๐Ÿ˜‹. Bagi yang hobi nyanyi bisa ikutan nyanyi lho dengan iringan keyboard. Serasa lagi konser mini di kafe hehehe.

image

Kami juga menjajal kulinet food trucknya Braga. Hanya saja, mereka baru menyediakan makanan utama di jam 9 – 10 malam. Yah keburu laper dah ini cacing di perut. Jadi, waktu ke food truck Braga yang letaknya persis depan Hotel Gino Feruci, kami hanya mencicipi nachos dan segelas cokelat panas saja sambil menikmati suasana malam di Braga.

image

Setelah urusan makan selesai, kami selalu menyempatkan diri menyusuri Jalanan Braga, dan mampir ke Jalan Asia Afrika, Merdeka dan sekitarnya. Lumayan, jalan kaki untuk membakar kalori yang berasal dari makanan kami.

Oh iya sekilas info saja, Jalan Braga ini dekat dengan stasiun Bandung. Jadi bagi yang naik kereta ke Bandung, bisa mampir ke Braga. Kalau naik angkot sih Saya hanya tahu kalau dari Dago bisa naik Dago – Kalapa. Turun depan restoran Mie kocok Bandung, tinggal jalan dikit aja ke kiri sudah bisa menyusuri jalan Braga ๐Ÿ˜Š.

Angkot hijau
Posted from WordPress for Android

Akhirnya Pulang Kampuuuungg!!

Yeiy, hip hip hooray.. Senang banget pas tahu suami mau diajak pulang ke Bukittinggi. Kampung halaman yang kurang lebih sudah 15 tahun tidak ditengok.

Perjalanan dimulai dari Pekanbaru. Kami naik bus travel. Tiketnya sudah dipesan jauh-jauh hari. Ini pertama kalinya bagi Saya. Normalnya waktu tempuh dibutuhkan sekitar 6 jam. Namun, karena kami berangkat masih dalam suasana lebaran, jadi molor 4 jam. Yes, pantat tepos, pinggang dan leher pegal hehehe.

Akhirnya bisa melewati kelok 9 yang katanya sudah cantik itu (memang sudah cantik). Sayangnya gak bisa ambil foto karena bus terus melaju. Banyak yang jualan juga di sisi-sisinya, mungkin agar pemudik yang kelaparan atau lelah bisa istirahat sejenak.

Selama perjalanan, kami hanya singgah di 1 restoran yang sudah punya nama, RM Rangkiang, harganya gak dimainkan. Harga normal, setidaknya sama dengan harga di Jakarta. Di Rangkiang ini bisa melihat hijaunya pemandangan sekitar.

image

image

Biasanya sih, lewat dari Payakumbuh kita jalan lurus melewati ngalau. Namun, supir busnya gak sabaran dan akhirnya putar balik masuk ke Situjuah, lasi dan muncul-muncul di Ampek Angkek Canduang. Niatnya mau hindari macet eh malah kena macet juga hihi, lantaran jalan yang ditempuh lebih kecil.

Lepas Maghrib kami baru tiba di rumah almarhum inyiak. Hampir tidak mengenali bangunannya. Rumah gadang diganti jadi bangunan modern karena katanya sih sudah lapuk. Tapi kenapa gak dibuat model rumah gadang lagi ya? Satu-satunya yang membuat Saya mengenali rumah beliau adalah Surau Pilli yang bangunannya masih sama saat Saya masih kecil.

Dari balik jendela rumah, kami bisa melihat keindahan Gunung Merapi, Gunung Singgalang dan Bukit Barisan. Tidak lupa hamparan sawahnya.

image

image

Suhunya yang dingin sekitar 18-19 derajat celcius tanpa pendingin ruangan semakin bikin betah. Saking dinginnya ketika berbicara pun keluar asap di pagi hari (serasa lagi mengalami musim dingin di Eropa hehehe). Sayangnya kami hanya semalam di kampung.

Waktu yang sempit belum lagi harus mendatangi kerabat yang dituakan membuat kami harus pintar membuat jadwal. Kenapa? Supaya gak sia-sia pulang kampung, karena semua jalanpun macet.

Keesokan subuh, niatnya sih mau ke Jam Gadang, mau mengabadikan pemandangannya di kala Subuh. Niat ya cuma niat. Udara yang dingin memaksa kami meneruskan tidur lepas Sholat Subuh ๐Ÿ˜‚.

Setelah makan pagi pun, langsung berkunjung ke rumah oom dan Tante dan sesepuh lainnya. Kami sempat salah perhitungan, harusnya di rumah gak usah makan, karena pasti kami dipaksa makan lagi ketika berkunjung. Di sana wajib makan nasi kala berkunjung kalau tidak tuan rumah kecewa. Alhasil, perut kekenyangan yang didapat ๐Ÿ˜….

Sorenya kami menyempatkan diri ke Terusan Kamang. Kalau kata Pak Etek, air di sini kalau kemarau melimpah, kebalikannya pas musim hujan, airnya mengering. Karena letaknya di area pemukiman, jalannya pun kecil. Masuk ke Terusan Kamang pun kendaraan kudu antri. Kudu kasih sumbangan ke para pemudanya dan uang parkir juga, hmmm.. Mungkin pemda setempat harus lebih serius menatanya karena pengunjungnya tergolong banyak.

image

image

Kami tidak lama di Terusan Kamang lantaran harus balik ke Pekanbaru untuk mrngejar pesawat ke Jakarta. Sekian saja cerita pulang kampungnya, semoga bisa balik lagi ke sini tapi di luar waktu lebaran.

Angkot hijau
Posted from WordPress for Android

Day 3 : Blusukan di Malioboro dan sekitarnya

Berlibur hanya dalam waktu 3 hari memang tidak cukup untuk mengeksplor wisata setempat, ya seperti yang saya alami. Apalagi pas tiba hari terakhir liburan, jadi pengen punya mesin waktu supaya bisa mengulang kembali hari pertama liburan.

Hari terakhir berlibur, saya dan suami hanya blusukan ke Malioboro dan sekitarnya. Waktunya membeli oleh-oleh di sepanjang Malioboro, Pasar Beringharjo dan melipir ke toko bakpia dan kaus merk dagadu.

Setelah sarapan, sekitar pukul 7.30 WIB, kami langsung berangkat menyusuri Malioboro. Niatnya sih jalan kaki lagi tapi tiba-tiba disamperin abang becak motor. Si abang betor gak henti-hentinya merayu bahkan ngintilin terus, hingga akhirnya kita luluh juga. Rencana awal cuci mata di sepanjang Malioboro jadi berubah ke Tugu Jogja, Kraton Jogja yang ternyata belum buka karena kami datang kepagian, toko dagadu, toko bakpia 99 dan Pasar Beringharjo.

image

Di Tugu Jogja, kami menyempatkan diri berfoto di sini, di tengah ramainya lalu lalang kendaraan. Gak perlu berlama-lama di sini karena ngeri kesenggol kendaraan juga.

Dari Tugu Jogja kami menuju Kraton Jogja, tapi cuma muterin kompleknya saja karena datang kepagian. Kata abang betor sih kamisnya bakal ada acara gunungan, wah sayangnya kami sudah kembali ke Jakarta jadi gak bisa menyaksikan. Dari Kraton kami menuju toko kaus dagadu dan bakpia 99. Kami melewati kampung kauman, tadinya mau mampir ke langgar KH A. Dahlan tapi urung.

image

Belanja oleh-oleh juga hanya sebentar, semua makanan khas jogja dicemplungin ke keranjang belanja karena bingung mau milihnya. Selesai berbelanja kami meminta abang betor ke Pasar Beringharjo, tadinya sih mau ke Mirota, tapi harga Pasar Beringharjo lebih bersahabat di kantong liburan ala backpacker tapi koperan kayak kami ini.

Si abang betor cukup mengantar sampai Pasar Beringharjo saja, karena takutnya kelamaan menunggu kami belanja. Oya, Si abang betor ini pandai juga bercerita sejarah tempat yang kami kunjungi. Beda sama abang becak yang saya sewa 3 tahun lalu, yang hanya mengantar tanpa bercerita sejarah tempat tersebut. Abang betor ini sempat bercerita soal pohon beringin kembar saat masuk gerbang komplek kraton. Pohon beringin ini diberi nama kiai apa gitu saya lupa. Dia juga bercerita sejarah tugu jogja, kampung kauman, hotel tertua di jogja yakni Hotel Tugu yang jadi cagar budaya dan sedang dalam renovasi. Keren deh pokoknya, ya gak masalah dong kalau saya kasih tips ke dia atas usahanya itu.

Bagi turis yang ingin memborong batik ya di sini tempatnya, Pasar Beringharjo. Batik-batiknya bagus dan murah meriah. Kalau ke sini selalu deh tergoda untuk membeli kain batik. Untung saya bisa mengendalikan nafsu ya, karena teringat kain-kain yang dibeli di Bangkok saja belum dijahit sampai sekarang hihihi. Kalau lapar sehabis belanja bisa makan pecel di depan bangunan Pasar.

Puas berbelanja batik kami pun menyeberang ke arah pedagang kaki lima di sepanjang jalan Malioboro. Masih ada yang mau dibeli? Masih dong, kaus buat para lelaki belum sempat dibeli tuh, ntar pada cemburu lagi. Harga kausnya miring, ada yang Rp 15.000,-, kalau mau yang bahannya lebih berkualitas sedikit beli yang seharga Rp 30.000,- atau kalau mau mahal ya ke toko dagadu ๐Ÿ™‚ . Barang yang dijual tidak hanya kaus tapi juga ada blankon, pajangan, tas, sendal dll. Jangan lupa menawar ya untuk mendapatkan harga terbaik dan bersahabat sama kantong. Biasanya si penjual mau kok kasih korting apalagi belanjanya pas mereka baru buka lapak. Penglaris.. penglaris.. kata mereka sambil menepuk dagangan mereka dengan uang.

Ngetrip pakai Trans Jogja

Satu hal yang harus dipikirkan saat berwisata ya soal kendaraan. Sebelum berangkat ke Jogja, saya sempatkan diri googling kendaraan apa yang enak dipakai ngetrip.

Sewa mobil lebih praktis memang, gak perlu repot mikirin harus turun dan naik apa lagi ke destinasi berikutnya, tapi bagi saya harga sewa mobil bisa dialokasikan ke pembelian oleh-oleh. Lumayanlah apalagi Saya hanya jalan-jalan di dalam kota saja. Pilihan berikutnya ada andong, dan becak. Saya milih naik keduanya apabila memang destinasi hanya bisa dilalui kedua angkutan umum tersebut. Sewa motor juga bisa, tapi kali ini Saya memilih naik Trans Jogja atau Traja. Bus yang mengadaptasi bus Trans Jakarta ini mulai dioperasikan sejak tahun 2008. Kalau tidak salah Traja memiliki 8 rute, 1A, 1B, 2A, 2B, 3A, 3 B, 4A dan 4B.

Saya memulai perjalanan naik Traja ini di rute 1A, yakni dari Halte Bandara Adi Sucipto ke Halte Malioboro. Saya membeli kartu reguler trip supaya bisa dipakai selama 3 hari di Jogja dan ada tarif diskonnya. Hanya dengan membayar Rp 25.000,- saya sudah bisa mengantongi kartu plus saldo Rp 25.000,-. Untuk pengguna kartu reguler trip mendapatkan korting 300 rupiah untuk sekali jalan, jadi hanya dipotong Rp 2700 dari saldo awal. Hemat kan? Beda dengan bus Trans Jakarta yang harus merogoh kocek Rp 40.000,- tapi hanya dapat saldo Rp 20.000,-. Isi ulang saldonya pun murah dimulai dari Rp 15.000,- .

image

Kebetulan setiap naik Trans Jogja, saya selalu kebagian di waktu-waktu sibuknya warga Jogja, tapi tenang saja berada di bus ini gak desak-desakan seperti bus Transjakarta. Waktu tunggunya juga tidak lama. Kekurangannya mungkin ya, jalanan yang kebanyakan satu arah jadi pengalaman saya selama naik Traja memang banyak muter-muternya untuk sampai ke tujuan ๐Ÿ˜€ . Traja belum memilik jalur khusus jadi masih berbaur dengan kendaraan lain, tapi 3 hari di Jogja saya jarang kena macet kecuali pas ada demo tapi gak parah macetnya.

image

Mau menuju wisata populer seperti Candi Prambanan, Candi Borobudur atau Pantai Parangtritis bisa juga naik Traja ini.

ยค Ke Candi Prambanan, ada di rute 1 A. Saya kebetulan naik dari halte Malioboro 1. Bagi yang baru keluar dari bandara Adi Sucipto dan hanya bawa ransel bisa langsung naik di Halte Adi Sucipto, turun di halte Prambanan. Setelah itu bisa jalan kaki sekitar 1 km atau naik andong dan becak.

ยค Ke Candi Borobudur, bisa juga, hanya saja harus turun di halte terminal Jombor (rute 2A) lalu lanjutkan dengan bis tujuan Borobudur.

ยค Ke Pantai Parangtritis, berdasarkan informasi yang saya dapatkan, Dari Malioboro naik Traja bisa transit di halte Sugiono menuju halte Giwangan. Selanjutnya bisa naik bus jurusan Parangtritis. Kalau mau akurat mending nanya sama petugas Trajanya ya.

Mau ke tempat kuliner seperti The House of Raminten jg bisa. Sewaktu di sana, Saya naik dari halte Senopati yang terletak di depan Taman Pintar. Petugasnya memberi petunjuk agar saya naik bus Traja rute 2A lalu transit di Halte Kridosono dan lanjut ke rute 3A dan turun di halte portable yang letaknya tidak jauh dari The House Of Raminten. Nah pas pulangnya agak ribet, apalagi udah malam dan hujan pula. Saya berjalan kaki ke jalan raya, ke arah halte Traja (lupa nama haltenya) untuk naik Traja ke arah Malioboro.

Sebelum naik Traja, jangan lupa ya ingat jam operasionalnya mulai dari 5.30 WIB – 21.30 WIB dan yang paling penting banyak bertanya ke petugasnya. Petugasnya baik hati semuanya, mereka gak jutek kalo kita nanya ini itu soal rute. Kalau nanya kenapa Traja datang lama pun dijawabnya sopan banget (waktu itu pas ada demo bbm dan hujan pula, jadi jalanan yang dilewati rute 2A memang padat) udah gitu penjelasannya detail.