Posts tagged ‘blogger’

Ramadhan di Negeri Jiran,  Part 1 

Tahun ini Saya memenuhi bucket list yaitu berpuasa di negara lain. Destinasinya di negara dengan mayoritas muslim saja dulu, Negeri Jiran Malaysia. Belajar istilahnya, selanjutnya di negara yang mungkin mempunyai empat musim dan bukan mayoritas muslim penduduknya. 

Persiapannya bisa dibilang mendadak. Memang tiket pergi sudah dibeli, namun tiket pulang dan hotel baru dibeli 2 hari jelang keberangkatan. Alhasil beli valasnya pun di detik-detik terakhir. Karena tujuannya untuk mencicipi Ramadhan di Negeri orang jadi Jalan-jalan nya pun bukan yang ekstrem dan memakan energi banyak. Saya dan suami hanya melakukan tur dalam kota, mencari takjilan di bazar ramadhan dan sholat taraweh di Masjid setempat. 

Hari pertama,  kami hanya berbuka puasa di Mall NU Sentral karena kami tiba di hotel mepet dengan beduq maghrib. Saya sempatkan bertemu dengan seorang teman lama yang memang kerja di Malaysia. Tadinya, kami janjian untuk berburu takjilan di bazar ramadhan tapi karena alasan di atas tadi membuatnya ditunda esok hari. 

Hotel tempat saya menginap berada di Little India nya Kuala lumpur, yakni Brickfields. Di sekeliling hotel lebih banyak bertebaran rumah makan khas India. Kalau ingin menu lain bisa bersantap di Nu sentral. Pilihan kami malam itu gak jauh dari makanan Indonesia, Ayam penyet. Maklum, setelah seharian dalam perjalanan gak afdol rasanya kalau gak kena nasi putih plus lauk khas Indonesia. 
Untuk taraweh, malam pertama kami datang dilakukan di hotel,  karena ternyata tidak mudah menemukan masjid. Masjid ada di tempat tertentu. Kalau menurut teman Saya, beda kalau sudah masuk pinggiran Kuala lumpur. Jadi niat taraweh di Masjid Jamek ditunda. Sebenarnya Saya sempat mendengar azan subuh dari hotel tapi samar bunyinya. Entah berada di sebelah mana hotel. Mungkin jauh, karena Saya sempat melihat laki-laki pakai sarung dan kopiah berjalan beriringan di waktu lepas taraweh. 

Hari kedua berpuasa di Kuala Lumpur


Menu Sahur Nasi Kandar

Saya sempat bertanya pada front liner Hotel, apakah mereka menyediakan sahur atau tidak. Jawabannya tidak, karena hotel tidak memiliki restoran. Kalau ingin sahur bisa di ABC Bistro yang jaraknya dekat dengan hotel. Makanan yang disajikan khas India Penang, Nasi Kandar. Awalnya agak agak ragu, karena bumbu masakannya kurang cocok di lidah Saya. Begitu mencoba, enak juga, walaupun memang kuat sekali bumbunya. Alhamdulillah seporsi Nasi Kandar dengan lauk ayam dan sayur khas India, sedikit kuah kari dan kerupuk ala mereka bisa menambah energi untuk melakukan tur selama di Kuala Lumpur. Berkah banget. Pengen rasanya balik lagi dan bilang sama kokinya, Terima kasih atas makanannya,  berkah sekali. Kemarin lupa bilang, karena Buru-buru balik ke Hotel. 

 Tur Dimulai


Sekitar jam 10 kami memulai tur dalam kota. Kami membeli tiket bus Hop on Hop Off, alasannya supaya efisien saja tidak repot ganti stasiun. Cukup membayar RM 45 per orang, supir bus siap mengantarkan para pelancong ke 23 destinasi populer di Kuala Lumpur. Sebenarnya ada beberapa destinasi yang sudah Saya kunjungi, tapi tidak apa-apa diulangi kembali. Untuk detail bisa lihat di foto yang Saya upload.

Saya memulai perjalanan dari KL Sentral. Tunggu saja di pemberhentian bus Hop on Hop Off di lobi kedatangan. Bayar tiketnya di dalam bus. Kalau ingin kena hembusan angin, naik bus yang terbuka atapnya. Tiket berlaku 24 jam dan 48 jam tergantung ingin beli yang mana. Jam operasi bus hanya sampai jam 6 petang. Perhitungan 24 jamnya,  kalau di tiket kamu dibolongi jam 12 (seperti tiket saya) berarti kamu bisa naik bus ini kembali sampai jam 12 siang esok. Tentunya dalam sehari tetap hanya sampai jam 6 petang ya. Destinasi di hari pertama Saya hanya turun di Istana Negara Malaysia, Aquaria KlCC dan Central Market. Lainnya hanya menikmati pemandangan saja dan memotretnya dari dalam bus. Bus tidak akan menunggu kamu kecuali di destinasi tertentu. Jadi untuk pastinya tanyakan kembali pada supir. Kalau kamu turun di suatu destinasi jangan khawatir, kamu bisa naik bus berikutnya. Bus datang tiap 20 menit. Dan paling penting, jangan sampai kehilangan tiket, karena ada pemeriksaan oleh petugas di setiap pemberhentian bus. 
Aquaria KLCC 

Kami menyempatkan masuk ke Aquaria KLCC. Tiket dibandrol RM 69 per orang. Sayangnya ketika kami datang, pertunjukan hanya kasih makan hewan laut yang ada di sana saja. Mau menunggu jam berikutnya takut kelamaan. 

Lepas melihat ikan-ikan di Aquaria, kami menunggu bus berikutnya. Sekalian menikmati taman KlCC, mumpung angin lagi berhembus sepoi-sepoi kan. 

Belanja Milo Cube di Central Market 

Salah satu tujuan Saya ke Kuala Lumpur ya mau membeli Milo Cube. Lha kan bisa beli online. Bisa sih, tapi kalau bisa beli offline sekalian jalan-jalan kenapa enggak hehehe. Setelah mutar-mutar,  nanya sana sini,  eh ada penjual yang langsung menawarkan Milo Cube ke Saya. Mungkin dia bisa baca hati Saya, kok tahu Saya lagi nyari Milo Cube hahahaha. Ok,  Milo Cube sudah ditangan,  cokelat, kopi juga sudah dibeli, waktunya kita kembali ke tempat pemberhentian bus. Karena waktu udah mepet banget dengan jadwal ketemuan dengan teman Saya. 

Berburu Takjilan di Bazar Ramadhan 


Buka puasa kali ini kami putuskan di area Bazar Ramadhan di Kampong Baru. Kami naik LRT turun di Gombak. Lalu keluar dan belok kanan ke arah rusun. Jalan terus saja di pinggiran rusun tak jauh dari sana sudah bisa ditemukan Bazar Ramadhan. Banyak pilihan, Saya memilih es keladi (iced Taro) sebagai pelepasan dahaga. Untuk makanan, kami bersantap di Ayam Wong Solo. Kalau mau pilihan lain bisa ke Medan Selera atau Food Court di sana. 


Bazar Ramadhan ini dekat dengan Masjid Kampong Baru, jadi setelah selesai makan, kami melanjutkan sholat taraweh di sana. Alhamdulillah, masjidnya bersih, toiletnya bersih, tempat wudhunya bersih, shafnya rapih, hawa sejuk karena ada AC dan kipas angin juga, di sini tidak ada anak kecil yang teriak dan berlari ke sana kemari. Bagi jamaah yang tidak kuat sholat berdiri, disediakan kursi. 

Ok,  sekian dulu cerita Ramadhan di Negeri Jiran. Nanti disambung ke bagian ke dua. 

Advertisements

Ngopi Cantik Sambil Lihat Sawah Berundak

Saya salah seorang pecinta kopi. Biasanya kalau ngopi ya di rumah atau di gerai-gerai kopi yang banyak bertaburan di ibukota. Ngopinya sambil nonton atau bercengkerama dengan suami (kalau di rumah) atau hanya sekadar menghabiskan akhir pekan dan berleyeh-leyeh di gerai kopi.

Saking cintanya sama kopi, liburan pun tetap gak bisa pisah sama kopi. Nah, kali ini Saya dan suami kembali berwisata agro ke Kebun kopi di Bali. Sekarang kita melipir ke tempat lain, yang konon katanya ngehits di Pulau Dewata yaitu Bali Pulina.

Bali Pulina ini terletak di kecamatan Tegalalang, Ubud, Bali. Kalau dari Legian, kita melewati Monkey Forest dulu. Tadinya sih gak niat ke sini, justru ngototnya tuh ke Rice Terrace. Mau menikmati pemandangan sawah berundak-undak, tapi Cak Us, supir yang kami sewa selama 2 hari justru mengusulkan ke Bali Pulina saja. Dia tanya “Mbak suka ngopi gak?” Saya langsung bilang iya. “Nah, ke Bali Pulina saja, bisa lihat rice terraces juga, gak bayar lagi,” lanjut Cak Us. Wah mau lah, lihat pemandangan hijau gratis bisa ngopi lagi, ihiiiyy. Sempat baca-baca review Rice terrace memang gak gratis ke sana, ada harganya.

Setelah 1,5 jam perjalanan dari Legian ke Ubud, akhir nya kami tiba juga di Bali Pulina. Bali Pulina ini sudah ada sejak Januari 2011 ternyata (wah kok supir rental sebelumnya gak ngajak ke sini ya). Tempat Parkirnya lumayan luas. Begitu tiba di sana, kami langsung disambut pemandu tur / karyawan Bali Pulina. Mereka yang bakal menemani kita berkeliling Kebun kopi. Saya sih gak begitu mendengarkan informasi seputar kopinya karena pernah berwisata yang sama di Gianyar. Hanya yang Saya suka, di Bali Pulina, para luwak masih terjaga, bisa kasih mereka makan biji kopi juga. Saya juga mencoba roasting kopi secara tradisional walau cuma beberapa detik aja sih (takut gosong biji kopinya).

image

Puas kasih makan luwak, nyobain roasting biji kopi, kami pun lanjut keliling Kebun Kopi. Setibanya di atas ada warung kopi. Banyak pilihan bangku di sini. Mau yang dekat dengan sawah berundak atau di dalam. Saya memilih di dalam karena ada ayam jantan yang lagi berkelahi (hadeeeh, sieun). Jangan khawatir, dari dalam tetap bisa menikmati pemandangan sawah berundak-undak karena warung tersebut dibuat tanpa sekat dinding. Begitu kami duduk kami ditawarkan apakah ingin mencoba kopi luwaknya atau hanya ingin mencoba tester kopi dan Teh. Namanya juga perempuan, Ibu Ibu Muda gitu ya nyarinya yang gratis aja. “Kami minta tester aja gek,” jawab Saya.

Tidak lama kemudian, ada sekitar 8 cangkir mungil berisi tester Teh dan kopi yang diletakkan di nampan kayu ditemani sepiring keripik ketela (hmm, padahal berharap pisang goreng kayak di Kebun Kopi sebelah). Kesukaan Saya itu Teh jahe, kopi rasa vanila dan Kopi Bali sendiri tentunya.

image

Puas menyeruput kopi kami pun turun untuk lebih dekat melihat hijaunya sawah berundak (foto-foto juga sih). Subhanallah, indah nian ciptaan Allah SWT. Tinggal lama di Bali Saya mau banget deh, biar tiap hari lihat yang hijau-hijau, langit biru dan pantai biru. Pikiran fresh rasanya.

image

image

Selesai berfoto, kami pun menuju toko suvenir mereka. Tak lupa membeli Kopi Bali. Kopi Bali seberat 150 gram dibanderol Rp 90.000,-. Kopi luwak lebih mahal, bisa ratusan ribu harganya.

image

image

Sejam di Bali Pulina tuh kurang rasanya cuma ya karena kami harus menuju destinasi berikutnya, dengan berat hati kami ucapkan Sampai Jumpa Lagi, Suksma Gek.

Angkot hijau
Posted from WordPress for Android