Posts tagged ‘wisata jogja’

Mengejar Negeri Di Atas Awan

Kelar sarapan,  kami langsung menuju Imogiri. Transportasinya ya dengan mobil sewaaan. Tujuan pertama itu ke Kebun Buah Mangunan di daerah Dlingo. Pertama lihat fotonya di medsos,  langsung takjub. Wow, seperti negeri di atas awan. Pengeeeenn. 
Sayangnya,  kami gak dapat spot awan yang menutupi daratan kayak di medsos-medsos itu,  maklum kelar sarapan kesiangan. Sampe di TKP jam 9, hiks.  Walaupun liburan di hari kerja tetap lho rame terutama oleh peserta tur.  Mau foto-foto tetap antri ya bok hehehe.  Satu jam menikmati sajian pemandangan di Kebun Buah Mangunan cukuplah,  kami lalu melipir ke Hutan Pinus Imogiri.  

Tempatnya gak kalah oke. Udaranya sejuuuuuk banget,  pemandangannya apalagi,   instagramable banget!  Duduk di bangku yang tersedia di Puncak Becicinya  sambil menikmati angin sepoi-sepoi, makin enak banget kalau ada kopi hangat 😆. 

Tempat wisata ini cocok banget buat yang udah penat dengan runititas kerja sehari-hari, yang udah lelah bermacet  ria. Begitu melihat pemandangan nan hijau,  awan putih,  belum lagi sapuan angin sepoi-sepoinya.  Dijamin langsung fresh. 

Di sekitar Imogiri ini banyak banget tempat wisata,  kalau punya banyak waktu,  mampir aja. Bisa ke Tebing Watu, Bukit Bego Imogiri dan lainnya (silahkan googling sendiri ya). Untuk harga masuk ke Hutan Pinus Imogiri seingat Saya sih hanya bayar parkir. 

Setelah asyik menyusuri Hutan Pinus Imogiri,  kami melanjutkan perjalanan ke Tebing Breksi  di daerah Sleman. Cuacanya berbanding terbalik,  di sini hawanya lebih panas. Tebing Breksi ini dulunya bekas area pertambangan. Begitu disulap jadi tempat wisata, keren banget. Diresmikannya tahun 2015 lalu.  Coba kamu naik ke atas Tebingnya deh, berasa dekat banget dengan langit dan awan. Sekitar area ini ada food court.  Untuk harga tidak tahu, karena gak makan di sana.  Di Tebing Breksi ini banyak juga yang melakukan foto pre wedding. 

Kami gak lama-lama di sini karena musti nyari mesjid buat si Ndut sholat Jumat. Selesai  ibadah,  kami lanjut makan siang dan jalan-jalan. Kami juga sempat mampir ke Pabrik Bakpia 25,  melihat proses pembuatan Bakpia dan tentu saja belanja Bakpia juga. 

Lepas dari Pabrik Bakpia,  pengennya pergi ke pantai tapi yang gak jauh banget karena terbatas waktu sewa mobil juga. Akhirnya dipilih Pantai Depok Parangtritis. Di Pantai ini bisa beli ikan hasil tangkapan nelayan,  langsung dibakar sama mereka juga. 

Selesai jalan-jalan di pantai,  kami menuju Klinik Kopi yang tersohor itu dan tempat ngopinya di film AADC. Namun kami urung ngopi karena antriannya panjang dan sekali lagi mepet dengan  waktu sewa mobil.  Lain waktu deh mampir buat ngopi dan menjelajahi tempat wisata baru di Jogja. 

Sampai Jumpa Lain Waktu Jogja! 

Kabur Ke Jogja Kelar Nyoblos 

Situasi panas pilkada DKI gak ngaruh banyak ke Saya, bagi Saya yang penting udah nyoblos sesuai pilihan hati. Kelar nyoblos, keesokannya langsung kabur ke bandara untuk menikmati udara liburan. Tujuannya gak perlu jauh, Jogja aja, udah istimewa banget. Ada yang bilang emang belum pernah ke sana?  Saya balik nanya,  kenapa gitu pertanyaannya? Emang ada yang salah? Saya sering ke Jogja dan kalau balik lagi gak apa-apa toh. 
Tiket pesawat pun boleh dapat diskon voucher dari quiz di medsos. Keberuntungan kesekian saat liburan. Liburan ke Jogja walau mepet dan singkat tetap direncanakan sematang-matangnya. Kami cuma menginap 3 hari dua malam di sini.  Sekalian jajal hotel barunya grup AccorHotels,  Grand Mercure.  Reviewnya lihat di TripAdvisor aja ya. 
Itinerary globalnya,  hari pertama kami cuma kuliner seputar hotel saja. Kami ke sini naik taksi sewaan,  harganya mehong  ya,  hasil nego dapatnya harga goban.  Padahal,  trans Jogja lewat depan hotel hihihi.  Ok deh,  next  naik trans Jogja aja kalau nginap di Grand Mercure Jogja lagi. Hasil kuliner seputar hotel, ada yang jual gudeg di seberang  hotel, angkringan yang jaraknya sekitar 500 meter –  1 km dari hotel,  lotek di sebelah mall  lippo Jogja. Puas dan kenyang. Untuk harga,  lotek dan makanan angkringan murah meriah.  

Day 3 : Blusukan di Malioboro dan sekitarnya

Berlibur hanya dalam waktu 3 hari memang tidak cukup untuk mengeksplor wisata setempat, ya seperti yang saya alami. Apalagi pas tiba hari terakhir liburan, jadi pengen punya mesin waktu supaya bisa mengulang kembali hari pertama liburan.

Hari terakhir berlibur, saya dan suami hanya blusukan ke Malioboro dan sekitarnya. Waktunya membeli oleh-oleh di sepanjang Malioboro, Pasar Beringharjo dan melipir ke toko bakpia dan kaus merk dagadu.

Setelah sarapan, sekitar pukul 7.30 WIB, kami langsung berangkat menyusuri Malioboro. Niatnya sih jalan kaki lagi tapi tiba-tiba disamperin abang becak motor. Si abang betor gak henti-hentinya merayu bahkan ngintilin terus, hingga akhirnya kita luluh juga. Rencana awal cuci mata di sepanjang Malioboro jadi berubah ke Tugu Jogja, Kraton Jogja yang ternyata belum buka karena kami datang kepagian, toko dagadu, toko bakpia 99 dan Pasar Beringharjo.

image

Di Tugu Jogja, kami menyempatkan diri berfoto di sini, di tengah ramainya lalu lalang kendaraan. Gak perlu berlama-lama di sini karena ngeri kesenggol kendaraan juga.

Dari Tugu Jogja kami menuju Kraton Jogja, tapi cuma muterin kompleknya saja karena datang kepagian. Kata abang betor sih kamisnya bakal ada acara gunungan, wah sayangnya kami sudah kembali ke Jakarta jadi gak bisa menyaksikan. Dari Kraton kami menuju toko kaus dagadu dan bakpia 99. Kami melewati kampung kauman, tadinya mau mampir ke langgar KH A. Dahlan tapi urung.

image

Belanja oleh-oleh juga hanya sebentar, semua makanan khas jogja dicemplungin ke keranjang belanja karena bingung mau milihnya. Selesai berbelanja kami meminta abang betor ke Pasar Beringharjo, tadinya sih mau ke Mirota, tapi harga Pasar Beringharjo lebih bersahabat di kantong liburan ala backpacker tapi koperan kayak kami ini.

Si abang betor cukup mengantar sampai Pasar Beringharjo saja, karena takutnya kelamaan menunggu kami belanja. Oya, Si abang betor ini pandai juga bercerita sejarah tempat yang kami kunjungi. Beda sama abang becak yang saya sewa 3 tahun lalu, yang hanya mengantar tanpa bercerita sejarah tempat tersebut. Abang betor ini sempat bercerita soal pohon beringin kembar saat masuk gerbang komplek kraton. Pohon beringin ini diberi nama kiai apa gitu saya lupa. Dia juga bercerita sejarah tugu jogja, kampung kauman, hotel tertua di jogja yakni Hotel Tugu yang jadi cagar budaya dan sedang dalam renovasi. Keren deh pokoknya, ya gak masalah dong kalau saya kasih tips ke dia atas usahanya itu.

Bagi turis yang ingin memborong batik ya di sini tempatnya, Pasar Beringharjo. Batik-batiknya bagus dan murah meriah. Kalau ke sini selalu deh tergoda untuk membeli kain batik. Untung saya bisa mengendalikan nafsu ya, karena teringat kain-kain yang dibeli di Bangkok saja belum dijahit sampai sekarang hihihi. Kalau lapar sehabis belanja bisa makan pecel di depan bangunan Pasar.

Puas berbelanja batik kami pun menyeberang ke arah pedagang kaki lima di sepanjang jalan Malioboro. Masih ada yang mau dibeli? Masih dong, kaus buat para lelaki belum sempat dibeli tuh, ntar pada cemburu lagi. Harga kausnya miring, ada yang Rp 15.000,-, kalau mau yang bahannya lebih berkualitas sedikit beli yang seharga Rp 30.000,- atau kalau mau mahal ya ke toko dagadu 🙂 . Barang yang dijual tidak hanya kaus tapi juga ada blankon, pajangan, tas, sendal dll. Jangan lupa menawar ya untuk mendapatkan harga terbaik dan bersahabat sama kantong. Biasanya si penjual mau kok kasih korting apalagi belanjanya pas mereka baru buka lapak. Penglaris.. penglaris.. kata mereka sambil menepuk dagangan mereka dengan uang.

Jogja, Aku Kembali – Day 1

Senin pagi di medio November, warga Jakarta seperti biasa mulai berbondong-bondong menuju tempat aktivitas masing-masing. Namun tidak dengan Saya, ini waktunya berlibur. Menuju kota yang jalanannya berbanding terbalik dengan jalanan ibukota ini. Jogja, aku kembali setelah 3 tahun lamanya.

Beruntung jalanan menuju pool Damri Pasar Minggu tidak macet meski harus menunggu 10 menit di pool tersebut.
image

Perjalanan menuju Bandara Soekarno Hatta memakan waktu sekitar 90 menit sudah termasuk macet di sepanjang jalan Pasar Minggu Raya hingga perempatan Pancoran. Penerbangan kali ini masih memakai Air Asia, kebetulan saya sudah membeli tiket promo dari akhir tahun 2013, tiket pulang pergi Jakarta – Jogjakarta cukup bayar Rp 500 ribuan untuk 2 orang. Sangat murah, bahkan lebih murah dari harga tiket bisnis kereta api.

Setibanya di bandara, Saya dan suami langsung menuju konter drop baggage karena saya sudah melakukan check in dan mencetak boarding pass secara online. Lumayan, menghemat waktu antrian. Setelah melakukan drop bagasi, Saya mampir sebentar membeli segelas kopi untuk dibawa ke ruang tunggu. Penerbangan kali ini juga lancar, tidak ada penundaan, tidak ada juga kejadian ketinggalan pesawat seperti liburan tahun sebelumnya. Pesawat kami lepas landas pukul 10.35 dengan waktu tempuh sekitar 1 jam.

Yogyakarta, akhirnya.

Setibanya di bandara Adi Sucipto Jogja, cuacanya cakep banget, cerah, jadi semangat berliburnya. Keluar dari area bandara, bingung juga mau naik apa ke hotel kami yang terletak di area Malioboro. Sebenarnya saya sudah memesan mobil hotel untuk menjemput kami tapi karena penyakit lama yaitu lupa mengkonfirmasi, jadinya ya tidak ada yang menjemput. Mau naik taksi takut kejadian kayak liburan di kota lain, gak pakai argo. Akhirnya sesuai dengan petunjuk di situs wisata jogja, kami pun ngetrip dengan naik Trans Jogja atau Traja di rute 1A. Traja ini mempunyai 3 jenis tiket, single trip, regular trip, dan student reguler trip (penjelasan lebih lanjut dijelaskan di tulisan berikutnya). Siang itu penumpang Traja rute 1A ramai banget, tidak hanya oleh orang yang baru keluar dari bandara tapi juga yang habis berwisata di Candi Prambanan. Meski ramai tapi gak terasa sesak seperti waktu Saya naik bus Trans Jakarta. Masih ada ruang untuk bernafas. Agak lama memang menuju Malioboro dengan Traja ini karena jalurnya satu arah jadi banyak mutar-mutarnya. Belum lagi kedatangan Saya disambut demo mahasiswa hehehe. Gak sampe rusuh sih hanya membuat lalu lintas sedikit tersendat.

Karena rutenya mutar-mutar, Saya jadi ada kesempatan untuk melihat-lihat Jogja dari balik kaca Traja. Jadi tahu kan kalo ada jalan layang juga di sana meski tidak sepanjang dan sebanyak di Jakarta. Jadi tahu nama-nama bangunannya dll. Lagi asyik melihat ke luar kaca Traja tiba-tiba sudah ada pemberitahuan bahwa pemberhentian berikutnya adalah Halte Malioboro 1, mari kita turun dan melipir ke Jalan Dagen.

Saat keluar dari Halte, kami langsung disambut para abang becak kayuh, becak motor dan andong yang menawarkan jasa antar. Maaf ya abang-abang, Saya lagi kepengen jalan kaki, selain sehat jaraknya juga gak begitu jauh 🙂

Kami tiba di hotel 1 jam lebih awal dan tentu saja belum waktunya check in. Mau keliling kok ya malas banget, capek dan lapar, jadi kami memutuskan mampir ke tempat makan yang tidak jauh dari tempat kami menginap. Banyak pilihan tempat makan di sini, tapi saya memilih Lesehan Raos Eco karena makannya lesehan, lumayan bisa selonjoran 🙂

Hujan dan Angkringan

image

Ya namanya juga Saya datang di awal musim hujan, jadi musti terima kenyataan kalau dari sore sampai masuk waktu Isya hujan tidak mau berhenti. Mau pinjam payung ke Hotel sudah keduluan customer yang lain 😀 . Mungkin memang waktunya untuk beristirahat dulu sebelum mulai menjelajahi kota Jogja.

Seperti yang Saya prediksikan, lepas waktu Isya, hujan pun reda. Hujan reda, kami malah bingung mau kemana 😀 . Akhirnya sih kami memutuskan ke Angkringan Kopi Jos Lik Man. Seperti biasa para abang becak juga menawarkan jasa antar begitu kami keluar area hotel. Saat saya bilang bisa antar ke Angkringan Lik Man, eh kok malah oper-operan dan kelihatan gak bersemangat. Mereka malah rayu Saya untuk berkeliling dan mampir ke toko oleh-oleh. Duh, masa hari pertama udah beli oleh-oleh yang ada oleh-olehnya keburu saya habiskan sebelum balik ke Jakarta, hiks. Saya pun menolak secara halus dan memutuskan jalan kaki saja ke Angkringan Lik Man. Lumayan jaraknya hampir 1 km, tapi gak terasa karena kami berjalan sambil lihat barang yang dijual di sepanjang Malioboro.

Oiya, rute ke Angkringan Lik Man ini mudah kok, terletak di Jalan Wongsodirjan. Dari Malioboro tinggal berjalan lurus saja ke Stasiun Tugu, setelah itu belok kiri. Kalau naik becak memang musti mutar karena jalannya hanya satu arah, mungkin karena itu ya abang becak yang nawarin jasa ke Saya terlihat tidak begitu semangat. Kalau dari arah Tugu Jogja ya tinggal berjalan lurus, tepat sebelum Stasiun langsung belok kanan. Kalau bingung bisa lihat di google map.

Sekadar berbagi informasi, ada yang menarik di perlintasan kereta Stasiun Tugu. Kalau di Jakarta saya lebih sering menemui palang perlintasan yang biasa. Kalau di sini menggunakan pagar mini yang digeser secara otomatis. Seharusnya sih seperti ini yang benar, karena gak ada yang berani nerobos. Keren nih pemdanya Jogja.

Penanda Angkringan Lik Man ini ada semacam pikulan dari bambu di Angkringannya. Di sana juga penjualnya meracik minuman andalannya kopi joooss. Minuman hangat memang pas banget apalagi hawa Jogja malam itu dingin banget. Kami gak pesan kopi jos sih karena sudah kebanyakan menenggak kafein hari ini. Susu jahe dan jeruk panasnya juga enak dipadanin dengan jadah bakar panas dan sego kucing dengan berbagai gorengan dan sate. Harganya kalo dibandingi dengan Angkringan di Jakarta termasuk murah. Sego kucing 2 bungkus, gorengan 4 buah, varian sate 4 tusuk, jadah bakar 1, susu jahe dan jeruk panas masing-masing 1 gelas cuma dikenakan harga dua puluh ribu saja.

Sepanjang jalan Wongsodirjan ini banyak berderet Angkringan, tapi sepengamatan Saya sih yang paling ramai itu Angkringan Lik Man. Angkringan Lik Man ini buka 24 jam tapi menurut Saya lebih enak makan dan nongkrong pas malam hari karena momennya dapat aja. Kencan di Angkringan seru juga.

Note : Upload foto menyusul karena sinyal tidak stabil